
Sayyid Ibrahim atau lengkapnya Ibrahim bin Ali bin Hasyim Ba’abu adalah ulama besar dari Wonosobo, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Wonosobo, mursyid thoriqoh, sekaligus pejuang Islam yang gigih di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Beliau adalah sosok yang menyatukan dakwah, perdagangan, dan organisasi Islam dalam satu perjuangan yang tulus dan ikhlas.
Profil Singkat Sayyid Ibrahim Wonosobo
| Nama Lengkap | Ibrahim bin Ali bin Hasyim Ba’abu |
|---|---|
| Panggilan | Sayyid Ibrahim |
| Lahir | 1864 M, Kauman Wonosobo |
| Wafat | Sya’ban 1948 M, Wonosobo |
| Marga | Ba’bud Kharbasan (keturunan Rasulullah SAW) |
| Jabatan | Rais Syuriah NU Cabang Wonosobo (pertama) |
| Thoriqoh | Alawiyah dan Syathariyah |
Kelahiran dan Nasab Mulia
Sayyid Ibrahim lahir pada tahun 1864 M di Kauman, Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau adalah putra ketiga dari tiga bersaudara, dari pasangan Ali bin Hasyim dan Syarifah Khotijah.
Beliau termasuk dalam golongan Ahlul Bait — keturunan Rasulullah SAW — dengan marga Ba’bud Kharbasan. Gelar Sayyid diberikan kepada beliau bukan hanya karena garis keturunannya, tetapi juga karena kealiman dan ketinggian ilmu agama yang beliau miliki dan diakui oleh masyarakat luas.
Sejak kecil, beliau sudah mulai belajar mengaji dan mendalami ilmu agama langsung dari kedua orang tuanya.
Pendidikan: Dari Sorogan hingga Berguru ke Pekalongan
Metode Belajar Sejak Dini
Sejak kecil, Sayyid Ibrahim sudah diperkenalkan dengan berbagai cabang ilmu Islam, di antaranya Al-Qur’an, Fiqh, Tauhid, dan Tasawuf (Thoriqoh). Metode belajar yang digunakan adalah sistem sorogan — metode individual yang umum dipakai di pesantren, di mana santri langsung berhadapan dengan guru satu per satu.
Selain belajar dari orang tuanya sendiri, beliau juga menimba ilmu dari para ulama di sekitar Wonosobo.
Berguru kepada Habib Ahmad bin Abdullah al-Atthos Pekalongan
Berdasarkan riwayat yang diketahui, Sayyid Ibrahim juga berguru kepada Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib al-Atthos di Pekalongan, yang merupakan guru sekaligus sahabat dekat beliau. Dalam setiap perjalanan ke Pekalongan, beliau selalu ditemani oleh KH. Hasbullah Bumen, dan keduanya menempuh perjalanan berkuda sambil membawa hadiah berupa kambing atau sapi untuk sang guru, juga kepada Sayyid Hasyim bin Yahya.
Pendiri NU Cabang Wonosobo
Awal Berdirinya NU di Wonosobo
Sejak NU resmi berdiri pada 31 Januari 1926 di Surabaya, organisasi ini segera menyebar ke berbagai daerah di Indonesia melalui Lajnah Nasihin (Lembaga Propaganda NU). Gerakan dakwah NU ini menjangkau Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, hingga Aceh.
Kabar berdirinya NU pun akhirnya sampai ke Wonosobo. Berkat ikatan persaudaraan yang kuat di antara para ulama, sejumlah tokoh bersatu untuk mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama Cabang Wonosobo, di antaranya:
- Sayyid Ibrahim Kauman (Rais Syuriah pertama)
- KH. Hasbullah Bumen
- KH. Abdullah Mawardi Wonosobo
- Kiai Abu Jamroh
- KH. Asy’ari Kalibeber
- Sayyid Muhsin Kauman
- Atmodimejo, Supadmo, Abu Bakar Assegaf, dan tokoh lainnya
Susunan Kepengurusan Pertama NU Wonosobo
Pada pembentukan kepengurusan pertama NU Cabang Wonosobo:
- Rais Syuriah: Sayyid Ibrahim
- Katib Syuriah: Sayyid Muhsin bin Ibrahim (putra beliau)
- Ketua Tanfidziah: Atmodimejo
- Sekretaris: Abu Bakar Assegaf
Kapan Tepatnya NU Wonosobo Berdiri?
Terdapat beberapa keterangan yang menjadi referensi:
Pertama, menurut almarhum Mbah Muntaha, NU Wonosobo diresmikan setelah Muktamar NU di Cirebon, 29 Agustus 1931. Keterangan ini didukung oleh H. Salim Mukhtar, mantan Ketua Tanfidziah NU Wonosobo.
Kedua, ditemukan arsip kartu anggota NU (Kartanu) bernomor 1526 pada tahun 1353 H yang ditandatangani oleh Sayyid Ibrahim dan Sayyid Muhsin, menunjukkan bahwa pada saat itu anggota NU di Wonosobo sudah sangat banyak.
Ketiga, menurut para sesepuh NU, pelantikan NU Cabang Wonosobo dilaksanakan di rumah Sayyid Ibrahim dan dihadiri langsung oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dari PBNU, dengan KH. Muntaha al-Hafidz sebagai pembaca Al-Qur’an pada acara tersebut.
Sayyid Ibrahim sebagai Pendakwah dan Saudagar
Selain sebagai ulama, Sayyid Ibrahim juga dikenal sebagai saudagar sukses yang memiliki banyak sawah dan tanah. Namun, kekayaan itu tidak beliau simpan untuk kepentingan pribadi. Sebagian besar harta beliau digunakan untuk:
- Mendirikan masjid di berbagai daerah di atas tanah yang diwakafkan
- Membangun tempat-tempat pendidikan Islam
- Mendukung kegiatan dakwah dan operasional NU
Kesempatan berdagang beliau manfaatkan sebaik mungkin untuk menyebarkan dakwah Islam dan memperkenalkan NU kepada masyarakat di berbagai wilayah yang beliau kunjungi.
Mursyid Dua Thoriqoh: Alawiyah dan Syathariyah
Sayyid Ibrahim adalah seorang mursyid (pemimpin) thoriqoh yang menguasai dua jalur sekaligus:
1. Thoriqoh Alawiyah — thoriqoh yang beliau warisi dari ayahnya secara turun-temurun. Thoriqoh ini dikenal luas di kalangan para Habaib dan tidak menggunakan tata cara ritual yang rumit seperti thoriqoh lainnya.
2. Thoriqoh Syathariyah — beliau didaulat oleh gurunya untuk memimpin thoriqoh ini. Thoriqoh Syathariyah yang beliau kembangkan merupakan gabungan dari unsur-unsur thoriqoh sebelumnya.
Melalui kedua jalur thoriqoh inilah, Sayyid Ibrahim memperluas dakwah Islam dan mengajak masyarakat Wonosobo serta sekitarnya untuk masuk ke dalam Jam’iyah NU. Para murid beliau kini telah tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Wonosobo, Temanggung, Sukorejo, Ngadirejo, Kendal, sebagian Batang, Banjarnegara, dan Purworejo.
Pejuang Islam di Tengah Penjajahan
Meskipun usianya semakin senja, semangat Sayyid Ibrahim tidak pernah padam. Pada tahun 1940, beliau secara sukarela mengundurkan diri dari jabatan Rais Syuriah NU Wonosobo melalui musyawarah resmi, dan menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Kiai Abu Jamroh.
Namun, beliau tetap aktif berjuang di masa penjajahan Jepang. Di bawah tekanan yang sangat berat, beliau terus memberikan semangat dan dukungan spiritual kepada para pejuang yang tergabung dalam barisan Hizbullah, Sabilillah, dan laskar-laskar lainnya. Meski harus berpindah-pindah tempat karena dikejar penjajah, perjuangan beliau tidak pernah berhenti.
Wafat dan Tradisi Khaul
Sayyid Ibrahim wafat pada bulan Sya’ban tahun 1948 di Kauman Wonosobo. Jenazah beliau dimakamkan di makam keluarga Maron, di belakang Kampung Longkrang, Wonosobo.
Hingga kini, khaul (haul) Sayyid Ibrahim dilaksanakan setiap tahun pada Minggu awal bulan Sya’ban, dihadiri oleh ratusan jemaah dan keluarga besar beliau dari berbagai penjuru daerah.
Karomah dan Warisan Abadi
Karomah Sayyid Ibrahim yang paling nyata dan dapat kita saksikan hingga hari ini adalah tetap tegak dan berkembangnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama di Wonosobo — sebuah organisasi yang telah melewati berbagai zaman: penjajahan Belanda, fasisme Jepang, masa kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi.
Selain itu, warisan fisik beliau juga masih terasa, berupa banyaknya masjid yang dibangun di atas tanah wakaf Sayyid Ibrahim di berbagai daerah Wonosobo dan sekitarnya.
Sayyid Ibrahim mempunyai dua puluh orang anak dari tiga istri (beliau menikah lagi setelah istri sebelumnya wafat, bukan poligami). Keturunan beliau kini telah menyebar ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri, terus meneruskan semangat dakwah Islam dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Kesimpulan
Sayyid Ibrahim Wonosobo adalah teladan sempurna seorang ulama yang memadukan ilmu, dakwah, organisasi, dan pengorbanan harta dalam satu dedikasi yang utuh. Dari Kauman Wonosobo, beliau memancarkan cahaya Islam yang hingga kini masih dirasakan oleh masyarakat Wonosobo dan daerah sekitarnya. Nama dan perjuangan beliau adalah warisan tak ternilai dalam sejarah Islam di Jawa Tengah.








