ULAMA NUSANTARA

Biografi Mas Sugeng Yudhadhiwirya: Sekjen Pertama PBNU

Mas Sugeng Yudhadhiwirya — atau yang dikenal juga dengan nama Moechammad Sodiq — adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Nahdlatul Ulama (NU). Meskipun namanya jarang terdengar dibandingkan ulama-ulama besar lainnya, perannya dalam membangun struktur organisasi NU di masa awal sangat krusial.


Kelahiran

Mas Sugeng Yudhadhiwirya lahir di Surabaya, Jawa Timur. Ia tumbuh di kota yang kelak menjadi salah satu pusat pergerakan Islam terbesar di Indonesia.


Wafat

Mas Sugeng Yudhadhiwirya wafat pada Kamis malam, 10 Jumadil Akhir 1355 H. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi warga NU. Dalam catatan obituari yang beredar saat itu, warga Nahdlatul Ulama dihimbau untuk mengirimkan doa dan melaksanakan Shalat Ghaib sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada beliau.


Peran di Nahdlatul Ulama (NU)

Dipercaya Mengelola Administrasi NU

Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya memang diisi oleh para kiai dan ulama yang mumpuni dalam ilmu agama. Namun, untuk ukuran zamannya, tidak banyak yang memiliki kemampuan mengelola organisasi secara modern dan tertib administratif.

Para kiai kemudian menjatuhkan kepercayaan kepada Moechammad Sodiq atau Mas Sugeng Yudhadhiwirya untuk mengemban tugas ini. Ia dipercaya menjadi Sekretaris Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama, mendampingi KH. Hasan Gipo sebagai ketua. Dalam istilah organisasi modern saat ini, jabatan tersebut setara dengan Sekretaris Jenderal PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).

Penyusun, Pengatur, dan Pembangun NU

Catatan sejarah tentang perannya secara rinci memang tidak banyak tersedia. Namun, redaksi Berita Nahdlatoel Oelama pernah menyebutnya sebagai “penyusun, pengatur, dan pembangun NU” — sebuah pengakuan yang mencerminkan betapa besar kontribusinya di balik layar.

Mengantar NU Menjadi Organisasi Legal di Mata Hukum

Salah satu pencapaian terbesar yang berhasil didokumentasikan adalah perannya bersama pengurus lain dalam mengantarkan NU menjadi organisasi yang diakui secara hukum oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930.

Mas Sugeng Yudhadhiwirya menjadi salah satu penanda tangan statuten atau Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU yang diserahkan kepada pemerintah kolonial Belanda. Langkah ini merupakan tonggak penting yang memberikan perlindungan hukum bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.


Warisan dan Pentingnya Sosok Ini dalam Sejarah NU

Mas Sugeng Yudhadhiwirya adalah contoh nyata bahwa tidak semua pahlawan berdiri di garis depan. Ada tokoh-tokoh yang bekerja di balik layar dengan tekun dan setia, namun kontribusinya terasa hingga hari ini.

Keberadaannya membuktikan bahwa NU tidak hanya dibangun oleh para ulama yang ahli dalam ilmu agama, tetapi juga oleh sosok-sosok yang cakap dalam bidang administrasi dan manajemen organisasi — sebuah perpaduan yang menjadi kekuatan besar NU hingga kini.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker