ULAMA NUSANTARA

Nyai Hj. R. Djuaesih Minder Perintis Berdirinya Muslimat NU

Mengenal Nyai Hj. R. Djuaesih Minder, perempuan pertama Nahdlatul Ulama yang berani naik mimbar di forum resmi dan menjadi perintis berdirinya Muslimat NU.


Siapa Nyai Hj. R. Djuaesih Minder?

Nyai Hj. R. Djuaesih Minder adalah salah satu tokoh perempuan Islam paling berpengaruh dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Ia dikenal sebagai perempuan Nahdliyin pertama yang berani naik mimbar dalam forum resmi organisasi, sekaligus menjadi salah satu pelopor berdirinya Muslimat NU — organisasi perempuan terbesar di Indonesia hingga hari ini.

Meski tidak mengenyam pendidikan formal, semangat, keberanian, dan kecerdasannya mampu menggerakkan kaum perempuan NU di tengah zaman yang penuh keterbatasan.


Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga

Nyai Hj. R. Djuaesih Minder lahir di Sukabumi, Jawa Barat, pada Juni 1901. Ia merupakan putri dari R. O. Abbas dan R. Omara S. Dari sang ayah yang seorang ustadz, Djuaesih mendapat bekal ilmu agama yang kuat. Sementara ibunya mendidiknya dalam hal budi pekerti dan tata cara kehidupan berumah tangga.

Kelak ia menikah dengan Danuatmadja alias H. Bustomi, dan dari pernikahan tersebut dikaruniai tiga orang putra dan dua putri.


Pendidikan: Belajar dari Kehidupan

Seperti kebanyakan perempuan pribumi di era Hindia Belanda, Nyai Djuaesih tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Namun hal ini tidak membuatnya minder. Ia belajar dari pengalaman hidup, pergaulan sosial, dan didikan langsung kedua orang tuanya.

Yang menarik, meski dirinya tidak bersekolah, ia justru sangat sadar akan pentingnya pendidikan. Ia menyekolahkan anak-anaknya ke institusi pendidikan formal yang dibuka pemerintahan Hindia Belanda. Tiga anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan di MULO (setara SMP), sementara yang lain tamat dari HIS (setara SD). Pencapaian ini tergolong luar biasa untuk ukuran masyarakat pribumi di masa itu.


Peran Bersejarah di Muktamar NU ke-13 (1938)

Titik balik besar dalam sejarah perempuan NU terjadi pada Muktamar ke-13 NU di Menes, tahun 1938. Di sinilah nama Nyai Djuaesih mulai dikenal luas.

Bersama Nyai Siti Sarah, Nyai Djuaesih tercatat dalam sejarah sebagai perempuan pertama Nahdlatul Ulama yang secara terbuka menyuarakan hak-hak kaumnya di forum resmi organisasi.

Berbekal pengalaman yang diperolehnya karena sering diajak sang suami dalam kegiatan organisasi, Nyai Djuaesih tampil dengan penuh keberanian. Dengan gaya retorika yang elegan dan penuh semangat, ia berpidato dalam persidangan khusus bagian wanita pada muktamar tersebut.

Ia mengobarkan semangat perempuan Nahdliyin dan menyadarkan bahwa kaum perempuan NU memiliki tanggung jawab yang sama besarnya dengan kaum laki-laki dalam membangun organisasi dan umat.

Pidatonya memukau seluruh hadirin — dan sejak saat itu, ia dikenal sebagai perempuan NU pertama yang naik mimbar dalam forum resmi organisasi.


Gagasan di Muktamar ke-14 Magelang: Cikal Bakal Muslimat NU

Perjuangan Nyai Djuaesih tidak berhenti di Menes. Pada Muktamar NU ke-14 di Magelang, ia kembali diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasannya. Kali ini, ia berbicara tentang pentingnya organisasi perempuan di tubuh NU.

Ia berkata:

“Di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit.”

Pidato bersejarah itu disaksikan langsung oleh tokoh-tokoh besar NU seperti Kiai Wahab, Kiai Bisri, Kiai Asnawi Kudus, dan ratusan kiai lainnya.

Pada kongres yang sama, Nyai Djuaesih dipercaya untuk memimpin rapat umum Muslimat NU pertama — sebuah kehormatan besar yang mencerminkan kepercayaan para ulama terhadap kapasitasnya.

Dalam rapat itu, sejumlah tokoh perempuan dari berbagai daerah turut menyumbangkan gagasan, di antaranya:

  • Nyai Saodah dan Nyai Gan Antang dari Bandung
  • Nyai Badriyah dari Wonosobo
  • Nyai Sulimah dari Banyumas
  • Nyai Istiqomah dari Parakan
  • Nyai Alfiyah dari Kroya, Cilacap

Pendirian Muslimat NU Secara Resmi

Langkah konkret selanjutnya terjadi pada 10 Desember 1940, ketika diadakan rapat tertutup di Gedung Bubutan NU, Surabaya. Nyai Djuaesih menjabat sebagai ketua, sedangkan Nyai Sitti Hasanah sebagai sekretaris.

Puncaknya, pada Muktamar ke-16 di Purwokerto, 29 Maret 1949, organisasi perempuan NU secara resmi dibentuk dengan nama Nadlatoel Oelama Moeslimat (NOM) — yang kemudian berkembang menjadi Muslimat NU yang kita kenal sekarang.


Kiprah sebagai Mubalighat dan Ketua Muslimat NU

Meski menjadi salah satu perintis utama Muslimat NU, Nyai Djuaesih tidak menonjolkan diri sebagai administrator organisasi. Ia lebih dikenal dan disegani sebagai mubalighat — juru dakwah perempuan — khususnya di lingkungan Muslimat NU Jawa Barat.

Pada kepengurusan awal Muslimat NU tahun 1946, posisi ketua dijabat oleh Nyai Saodah Natsir. Baru pada periode 1950–1952, Nyai Djuaesih tampil sebagai Ketua Muslimat NU, membuktikan bahwa kontribusinya terus diakui dari waktu ke waktu.


Warisan dan Relevansi hingga Kini

Nyai Hj. R. Djuaesih Minder adalah bukti nyata bahwa keberanian dan kecerdasan tidak selalu lahir dari bangku sekolah. Ia adalah perempuan yang tumbuh dari didikan keluarga, pengalaman hidup, dan keyakinan kuat akan kesetaraan hak perempuan dalam Islam.

Perjuangannya menjadi fondasi bagi jutaan perempuan Nahdliyin yang kini aktif di Muslimat NU di seluruh Indonesia. Kisahnya mengajarkan kita bahwa suara perempuan dalam organisasi dan masyarakat bukan hanya diperbolehkan — tapi sangat dibutuhkan.


Fakta Singkat: Nyai Hj. R. Djuaesih Minder

KeteranganDetail
LahirSukabumi, Jawa Barat, Juni 1901
AyahR. O. Abbas (ustadz)
IbuR. Omara S.
SuamiDanuatmadja alias H. Bustomi
Anak3 putra, 2 putri
Peran di NUPerintis Muslimat NU, Mubalighat
JabatanKetua Muslimat NU (1950–1952)
PrestasiPerempuan NU pertama yang naik mimbar di forum resmi

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker