
Mengenal Rd. KH. Zain Abdish Shomad atau Mama Gelar, ulama besar dari Cianjur yang mondok hingga Makkah, mendirikan Pesantren Gelar, menulis kitab, dan mewarisi tradisi pencak silat Cimande.
Siapa Mama Gelar?
Rd. KH. Zain Abdish Shomad, yang akrab dipanggil Mama Gelar, adalah seorang ulama besar asal Cianjur, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai pengasuh Pesantren Gelar, penulis kitab, dan tokoh yang memiliki keteladanan luar biasa dalam menuntut ilmu — bahkan rela belajar selama empat tahun di Makkah langsung di bawah bimbingan ulama dunia.
Perjalanan hidupnya penuh dengan ujian berat, namun semua itu justru semakin menguatkan keteguhannya sebagai seorang ulama dan pendidik umat.
Kelahiran dan Nasab Mulia
Mama Gelar lahir di Peteuy, Condong, Lebak, pada tahun 1929, di bulan Ramadhan — tepat ketika waktu sahur tiba. Sebuah momen kelahiran yang dianggap istimewa oleh banyak kalangan.
Dari sisi nasab, Mama Gelar memiliki garis keturunan yang mulia:
- Ayah: KH. Subandi bin Eyang Husen bin Eyang Johar Kadupandak
- Ibu: Umi Hj. Asiah binti Uyut Fatimah bin Eyang Arnas bin Nyimas Kararanggeng bin Aria Wiratanu Datar Cikundul
Yang menarik, melalui jalur ibunya, Mama Gelar masih memiliki hubungan darah dengan Bupati pertama Cianjur, Eyang Dalem Cikundul — salah satu tokoh bersejarah yang sangat dihormati masyarakat Cianjur hingga kini.
Pendidikan: Jalan Kaki Dua Jam demi Ilmu
Sejak kecil, Mama Gelar sudah dididik langsung oleh orang tuanya dalam ilmu agama. Ketika menginjak usia belajar, ia melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Gentur di Warungkondang — sebuah perjalanan yang tidak mudah.
Dari tempat tinggalnya di wilayah Cibeber, Mama Gelar harus berjalan kaki setiap hari selama sekitar dua jam untuk sampai ke pesantren. Tidak ada kendaraan, tidak ada jalan pintas — hanya tekad yang bulat.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Gentur, ia melanjutkan mondok di Cibitung, Bandung. Selesai belajar dari gurunya di Cibitung (yang dikenal sebagai Mama Cibitung), Mama Gelar menikah dengan putri gurunya sendiri, Abuya Qadir dari Gentur.
Ujian Berat di Perjalanan Haji
Beberapa tahun setelah menikah, Mama Gelar bertekad menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Namun di tengah perjalanan, cobaan besar datang menghampiri: tepat ketika rombongannya baru tiba di dermaga Cirebon, sang istri tercinta wafat.
Di tengah duka yang dalam, Mama Gelar mengambil keputusan yang mencerminkan keteguhannya — ia tetap melanjutkan perjalanan haji alih-alih kembali pulang.
Belajar 4 Tahun di Makkah Bersama Sayyid Alawi Al-Maliki
Seusai menunaikan haji, Mama Gelar tidak langsung kembali ke tanah air. Ia memilih untuk menemui seorang guru besar guna meneruskan pengembaraan ilmunya.
Guru yang ia tuju adalah Al-Alim Al-Allamah As-Sayyid Al-Habib Alwi bin Al-Maliki, seorang ulama besar Makkah yang sangat disegani di dunia Islam. Untuk bisa diterima sebagai murid beliau, Mama Gelar harus melewati berbagai ujian dan rintangan yang tidak ringan.
Setelah diterima, Mama Gelar menimba ilmu selama empat tahun di Makkah — memperdalam berbagai bidang keilmuan Islam langsung dari salah satu ulama paling berpengaruh di masanya.
Mendirikan Pesantren Gelar
Setelah kembali ke tanah air, Mama Gelar meneruskan jejak Mama Ibrahim — kakeknya — yang sebelumnya telah mendirikan cikal bakal pesantren di daerah Peteuy, Condong.
Mama Gelar mendapat tanah wakaf yang kemudian ia manfaatkan untuk mendirikan:
- Pondok Pesantren Gelar
- Masjid
- Madrasah
Dari pesantren inilah Mama Gelar mengabdikan sisa hidupnya untuk mendidik para santri dan melayani masyarakat sekitar.
Karya Tulis dan Warisan Pencak Silat
Selain mengajar dan mengurus pesantren, Mama Gelar juga aktif sebagai penulis kitab. Salah satu karya yang telah berhasil dikumpulkan pihak keluarga adalah kitab Hirjul Mandum, beserta beberapa tulisan lainnya. Meski demikian, keluarga mengakui bahwa karya-karya beliau belum sepenuhnya terkumpul secara lengkap.
Di luar ilmu agama, Mama Gelar juga mewariskan tradisi pencak silat yang diadopsi dari aliran Cimande — salah satu aliran pencak silat tertua dan paling berpengaruh dari Jawa Barat. Ilmu beladiri ini diajarkan secara turun-temurun kepada keluarga dan santri-santrinya.
Keturunan
Dari pernikahannya, Mama Gelar dikaruniai 9 orang anak — 4 putra dan 5 putri:
- KH. Dadang Darussalam
- Ibu Hj. Aliyah Maryam
- KH. Muhammad Faisal
- Ibu Hj. Riwawah (almarhumah)
- Ibu Hj. Iyang Sobariyah
- KH. Hubban Zein
- Ibu Hj. Muslimah
- Ibu Hj. Siti Rahmah
- KH. Gibban Zein
Wafat
Mama Gelar wafat pada tahun 1997 dalam usia 68 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, dan masyarakat Cianjur yang telah lama merasakan manfaat dari ilmu dan pengabdiannya.
Fakta Singkat: Rd. KH. Zain Abdish Shomad (Mama Gelar)
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Nama Lengkap | Rd. KH. Zain Abdish Shomad |
| Panggilan | Mama Gelar |
| Lahir | Peteuy, Condong, Lebak, 1929 |
| Wafat | 1997 (usia 68 tahun) |
| Pesantren | Pesantren Gelar, Cianjur |
| Guru di Makkah | Sayyid Alawi Al-Maliki |
| Karya | Kitab Hirjul Mandum |
| Tradisi | Pencak Silat Cimande |
| Jumlah Anak | 9 (4 putra, 5 putri) |
| Nasab | Keturunan Bupati Pertama Cianjur, Eyang Dalem Cikundul |








