
Di balik sosok seorang tukang potong rambut sederhana di Kauman, Tulungagung, tersembunyi seorang wali Allah yang derajat kewaliannya bahkan diakui oleh para ulama besar dari berbagai penjuru negeri. Dialah KH. Mustaqim bin Husain — guru mursyid Thariqah Syadzaliyyah yang hidupnya menjadi pelajaran tentang keikhlasan, keteguhan, dan kedekataan seorang hamba kepada Tuhannya.
Kelahiran dan Keluarga
KH. Mustaqim bin Husain lahir di Desa Nawangan, Kecamatan Keras, Kediri, pada tahun 1901 M. Ayah beliau bernama Husain bin Abdul Djalil, yang merupakan keturunan ke-18 dari Mbah Panjalu, Ciamis, Jawa Barat — dari jalur Ali bin Muhammad bin Umar.
Setelah dewasa, beliau dinikahkan oleh Kyai Zarkasyi dengan Nyai Halimah Sa’diyah, putri dari Mbah H. Rois yang juga bermukim di Kauman, Tulungagung. Dari pernikahan ini, KH. Mustaqim dikaruniai 11 orang putra-putri, yaitu:
- Nyai Thowilah Sumaranten
- KH. Arif
- Muhsin
- Yasin
- Maratun
- KH. Abdul Ghafur
- Nyai Hj. Anni Siti Fatimah
- KH. Ali Murtadlo
- KH. Muhammad Abdul Jalil (penerus kemursyidan)
- Nyai Siti Makhfiyah
- Hanshon Athlab
Wafat
KH. Mustaqim bin Husain wafat pada tahun 1970 M, tepatnya pada hari Ahad, 1 Muharram, setelah waktu Ashar. Saat beliau dalam kondisi naza’ (sakaratul maut), ada empat orang yang menemani beliau, salah satunya adalah Mayor TNI AD Shomad Srianto, mantan Komandan KODIM Tulungagung.
Pada saat naza’, napas beliau tampak tersendat-sendat dan sesak. Namun kondisi itu bukan pertanda buruk. Dalam kitab Tanbihul Mughtarrin halaman 45 dijelaskan bahwa jika seorang guru mursyid tampak kesakitan saat sakaratul maut, itu disebabkan oleh dua hal yang saling tarik-menarik: rasa rindu yang sangat besar untuk berjumpa dengan Allah, dan rasa kasih sayang yang mendalam kepada para muridnya yang ingin terus dibimbing hingga mencapai ma’rifat billah.
Masa Muda dan Awal Perjalanan Spiritual
Ketika berusia 12–13 tahun, KH. Mustaqim mengabdi kepada Kyai Zarkasyi di Tulungagung. Di sanalah beliau belajar membaca Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama. Pada usia yang masih sangat muda itu, Allah menganugerahi beliau sebuah karunia luar biasa: hati yang senantiasa berdzikir tanpa henti.
Dari kekuatan dzikir yang terus-menerus itu, beliau kemudian dianugerahi ilmu sirri (ilmu batin) dan ilmu mukasyafah (kemampuan menyingkap hal-hal tersembunyi). Beliau dapat mengetahui tentang alam barzakh, alam jin, bahkan dapat merasakan isi hati orang yang ada di hadapannya. Selama itu pula, Allah senantiasa menjaga beliau dari sifat-sifat tercela (madzmumah).
Kehidupan Sederhana yang Penuh Berkah
Meski seorang wali Allah, KH. Mustaqim bin Husain menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Beliau mencari nafkah dengan cara-cara yang lumrah: menjadi tukang potong rambut, penjahit sepatu dan sandal, hingga membuka Toko Bintang Sembilan. Namun semua usaha lahiriah itu tampaknya hanya sebagai bentuk ikhtiar belaka — karena keberkahan Allah selalu hadir dengan cara yang tak terduga.
Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang murid bernama Kyai Muslim hendak berangkat mondok ke Pondok Mojosari, Nganjuk. Ia meminta uang kepada KH. Mustaqim, dan sang guru menyuruhnya mengambil sendiri dari bawah kasur. Ketika kasur itu dibuka, ternyata seluruh bagian bawahnya penuh dengan uang. Kyai Muslim hanya mengambil secukupnya saja.
Perjuangan di Zaman Penjajahan Jepang
Salah satu babak paling heroik dalam perjalanan hidup KH. Mustaqim adalah perlawanannya di masa penjajahan Jepang (1942–1945). Pemerintah Jepang kala itu mewajibkan rakyat Indonesia untuk melakukan Seikerei — membungkuk menghadap matahari terbit sebagai bentuk penghormatan kepada kaisar Jepang dan ritual agama Shinto. Bagi umat Islam, praktik ini jelas merupakan bentuk kesyirikan yang tidak bisa ditoleransi.
KH. Mustaqim bersama para ulama lainnya menolak dengan tegas perintah tersebut. Akibatnya, beliau ditangkap dan mengalami berbagai penyiksaan brutal:
- Tubuh dijepit balok es di bagian dada dan punggung dalam keadaan dirantai
- Dijatuhkan dari ketinggian 10 meter
- Perut dipaksa diisi air melalui hidung menggunakan pipa kecil
Namun atas perlindungan Allah, KH. Mustaqim selamat dari semua siksaan tersebut. Bahkan dikisahkan, ketika Jepang mencoba memasukkan air melalui hidung beliau, air itu justru masuk ke kantong ikat pinggang yang beliau kenakan — bukan ke hidung beliau.
Karamah dan Tanda-Tanda Kewalian
Meramalkan Kemerdekaan Indonesia
Pada bulan Rabi’ul Awal tahun 1945, KH. Mustaqim berkata kepada murid-muridnya: “Bangsa Jepang berada di Indonesia masih 6 bulan lagi.” Dan benar — tepat pada Jumat Legi, 9 Ramadhan 1363 H / 17 Agustus 1945 M, Indonesia merdeka dan Sang Saka Merah Putih berkibar untuk pertama kalinya. Sebelum itu, beliau sudah memelihara ayam dengan bulu merah di sebelah kanan dan putih di sebelah kiri — sebuah isyarat tentang bendera merah putih.
Berbicara dalam Bahasa Asing Tanpa Belajar
KH. Mustaqim dikaruniai kemampuan berbicara dalam bahasa tamu yang datang kepadanya. Dikisahkan, beliau pernah menerima tamu dari India yang tidak membawa penerjemah, namun KH. Mustaqim langsung berbincang-bincang dengan tamu tersebut menggunakan bahasa India secara lancar.
Diakui sebagai Wali Quthub
Pengakuan paling mengesankan datang dari KH. Muhammad Dalhar Magelang (ulama besar yang dimakamkan di Gunung Pring). Kepada seorang murid dari Tulungagung, beliau berkata: “KH. Mustaqim itu adalah Wali Quthub yang derajat kewaliannya mastur (tersembunyi).” Padahal di Tulungagung sendiri, banyak orang hanya mengenal beliau sebagai “Pak Takim, tukang potong rambut”.
Menerima Thariqah Syadzaliyyah
Sebelum menerima Thariqah Syadzaliyyah, KH. Mustaqim telah memiliki sejumlah hizib seperti Hizib Baladiyyah dan Hizib Kafi. Pertemuannya dengan Thariqah Syadzaliyyah bermula dari kisah unik seorang muridnya bernama Asfaham dari Ngadiluwih, Kediri. Ketika mengamalkan Hizib Kafi, Asfaham masuk ke dalam maqam Jadzab Billah dan berkelana hingga sampai ke Pondok Termas, Pacitan. Di sana, Syaikh Abdur Razzaq — ulama besar Pondok Termas — melihat kebenaran ilmu Asfaham dan langsung mencari tahu siapa gurunya.
Syaikh Abdur Razzaq kemudian sowan kepada KH. Mustaqim. Dalam pertemuan yang bersejarah itu, keduanya — dengan kerendahan hati masing-masing — justru saling menghindari posisi sebagai guru. Akhirnya keduanya sepakat saling memberikan ijazah: KH. Mustaqim memberikan ijazah Hizib Baladiyah, sementara Syaikh Abdur Razzaq memberikan baiat Aurad Syadzaliyyah.
Awalnya KH. Mustaqim menolak, dengan alasan amalan Syadzaliyyah sangat berat — termasuk pantangan membawa bekal saat bepergian dan hanya boleh membawa satu setel pakaian. Namun setelah Syaikh Abdur Razzaq meyakinkan bahwa beliau pasti kuat, KH. Mustaqim pun menerima baiat tersebut.
Syaikh Abdur Razzaq juga pernah berkata: “Thariqah Syadzaliyyah ini nanti pusatnya akan pindah ke Kedung” — yang kelak terbukti merujuk kepada KH. Mustaqim di Kauman, Tulungagung.
Amalan dan Pengajaran
Inti pengajaran KH. Mustaqim berpusat pada dzikir dalam hati dan akhlaqul karimah, terutama akhlak kepada Allah. Rumusan amalan beliau menekankan empat doa yang harus dipanjatkan sebelum dan sesudah wirid:
- Selamat di dunia dan akhirat
- Hati yang bersih dari sifat tercela
- Kekalnya iman hingga sakaratul maut dan bisa mengucapkan kalimat tayyibah serta husnul khatimah
- Semua hal yang membawa berkah, maslahat, dan manfaat di dunia maupun akhirat
Beliau juga dikenal sering berbicara dengan kalam kinayah (bahasa kiasan) yang maknanya dalam. Di antaranya:
- “Menjadi orang mukmin itu harus sering memotong kuku” — artinya: harus terus menghilangkan sifat ‘ujub (merasa paling baik) agar bisa benar-benar ikhlas.
- “Menjadi murid thariqah itu seperti antri karcis di loket” — artinya: hadapi gangguan dan cobaan dengan tetap menghadap ke depan, hanya berharap berkah kepada guru mursyid.
- “Mencari ilmu di depan guru mursyid harus seperti mencari rumput, tapi jangan seperti orang mencari rumput” — artinya: tetaplah fokus pada satu guru, jangan mudah tergoda berpindah-pindah, karena itu justru akan mengosongkan wadah ilmu.
Penerus Kemursyidan
Pada tahun 1953, KH. Mustaqim menerima petunjuk bahwa yang akan melanjutkan kemursyidan setelah beliau adalah putranya, KH. Abdul Jalil Mustaqim. Saat itu, KH. Abdul Jalil baru berusia 11 tahun namun sudah mulai diizinkan untuk membaiat murid.
Tanda-tanda ini sudah tampak sejak 1947, ketika Syaikh Abdur Razzaq — saat berkunjung ke Tulungagung — menggendong KH. Abdul Jalil yang masih berusia 5 tahun dan mengajaknya mengelilingi alun-alun Tulungagung. Seolah beliau sudah mengetahui bahwa anak kecil itu adalah penerus besar yang sedang menanti masanya.
Penutup
KH. Mustaqim bin Husain adalah pelajaran hidup yang utuh: bahwa kebesaran sejati tidak harus tampak dari luar. Di balik penampilan sederhana seorang tukang cukur, tersimpan lautan ilmu, karamah, dan kedekatan dengan Allah yang luar biasa. Beliau mengajarkan bahwa thariqah bukan sekadar ritual, melainkan jalan untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah — yang buahnya adalah akhlak mulia dan ketenangan jiwa yang sejati.
Semoga Allah merahmati KH. Mustaqim bin Husain, melapangkan kuburnya, dan menjadikan semua ilmu serta amalan yang beliau wariskan sebagai cahaya yang terus menerangi para murid dan generasi Islam yang datang sesudahnya.







