Siapa Imam Alwy bin Muhammad bin Ali Ba’alawy?
Imam Alwy bin Muhammad bin Ali Ba’alawy adalah salah satu ulama besar dan wali agung dari keluarga Ba’alawy di Hadhramaut, Yaman. Beliau dikenal dengan gelar kehormatan As Sayyid Al Jalil Al Alim Al Amil Az Zahid, yang mencerminkan betapa tingginya kedudukan beliau dalam ilmu agama dan kesalehan hidup.
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Alwy bin Faqihul Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy. Beliau merupakan putra dari Al Faqih Al Muqaddam, tokoh yang sangat dihormati dalam silsilah keluarga Ba’alawy.
Riwayat Hidup
Kelahiran dan Masa Kecil
Imam Alwy bin Muhammad dilahirkan dan dibesarkan di kota Tarim, sebuah kota bersejarah di Hadhramaut yang terkenal sebagai pusat ilmu dan para wali. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam didikan langsung sang ayah, Al Faqih Al Muqaddam, sehingga ilmu agama sudah meresap sejak usia dini.
Ibunda beliau adalah Syeikhah Al Arifah Billah Ummul Fuqara’ Zainab binti Sayyid Al Faqih Ahmad bin Muhammad Shahib Mirbat, seorang wanita shalehah yang juga berasal dari keluarga yang mulia (keluarga Basha’).
Berkat didikan yang luar biasa, Imam Alwy tidak hanya berhasil menjadi ulama besar, tetapi juga berhasil membimbing saudara-saudaranya hingga menjadi tokoh-tokoh besar, di antaranya:
- Syeikh Abdullah
- Syeikh Abdurrahman
- Syeikh Ahmad
- Syeikh Ali
Wafat
Imam Alwy bin Muhammad bin Ali berpulang ke rahmatullah pada hari Jum’at, 2 Dzulqa’dah 669 H. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Zanbal, Tarim, di sebelah timur makam ayahanda beliau. Di sekitar makam beliau juga terdapat makam para tokoh besar Ba’alawy lainnya.
Pendidikan dan Guru-Guru Beliau
Menghafal Al-Qur’an Sejak Kecil
Sejak usia kecil, Imam Alwy sudah hafal Al-Qur’an. Beliau mendapatkan pendidikan agama secara langsung dari ayahandanya, meliputi ilmu syariat, tarekat, dan hakikat. Ketekunan beliau dalam menuntut ilmu sejak muda menjadikannya seorang yang ahli zuhud dan wali dengan maqam yang tinggi.
Daftar Guru Beliau
Selain belajar dari ayahnya, Imam Alwy juga menimba ilmu dari sejumlah ulama besar, di antaranya:
- Ayahanda, Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawy
- Syeikh Salim Ba Fadl
- Sayyid Al Jalil Salim bin Basri
- Syeikh Ali bin Ibrahim Al Khatib
Murid-Murid Beliau
Banyak ulama besar yang lahir dari tangan didikan Imam Alwy, antara lain:
- Sayyid Abdullah Ba’alawy
- Sayyid Ali
- Sayyid Ahmad
- Syeikh Ali bin Salim
- Syeikh Ahmad Muhammad Bamukhtar
Sosok Penolong yang Selalu Siap
Imam Alwy bin Muhammad dikenal sebagai sosok yang sangat cepat dalam memberikan pertolongan bagi siapa saja yang bertawasul dan memohon pertolongan melalui beliau.
Al Allamah Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Ali Khirid Ba’alawy menyebutkan dalam kitabnya Al Ghurar, bahwa para Arif Billah menyatakan ada tiga tokoh dari keluarga Ba’alawy yang pertolongan dan perlindungannya selalu siap bagi siapa saja yang bertawasul kepada mereka, yaitu:
- Imam Alwy bin Muhammad
- Putra beliau, Ali
- Syeikh Umar Al Muhdar
Hal ini diabadikan dalam sebuah bait syair:
“Bila kamu takut suatu perkara atau merasa ada mara bahaya, bertawasullah kepada mereka niscaya mereka menolongmu dan hadir di sebelahmu. Panggillah nama Alwy dan puteranya Ali, begitu juga Umar untuk menghadapi perkara besar dan sulit.”
Keistimewaan dan Karamah Imam Alwy
Imam Alwy bin Muhammad bin Ali dianugerahi berbagai keistimewaan luar biasa dari Allah SWT. Para ulama dan wali besar yang mencapai kedudukan tahqiq (penelitian hakikat) telah meriwayatkan sejumlah karamah beliau.
Keistimewaan yang Dimiliki Beliau
Beberapa keistimewaan yang dimiliki oleh Imam Alwy, antara lain:
- Memahami rahasia-rahasia ilahi dan ilmu laduni yang tidak diperoleh secara biasa
- Dapat mengetahui tanda-tanda seseorang yang akan masuk surga atau neraka
- Mendengar bacaan tasbih dari benda-benda mati
- Bisa berkata kepada sesuatu “jadilah”, maka atas izin Allah hal itu terjadi
Para wali besar juga meriwayatkan bahwa beliau pernah berkata: “Aku berada di kedudukan Imam Al Junaid,” salah satu imam tasawuf terbesar sepanjang zaman.
Kisah Karamah Beliau
Membaca Tanda di Dahi Ayahnya
Ketika Imam Alwy masih kanak-kanak, sang ayah memintanya untuk membaca tanda yang ada di dahinya. Imam Alwy muda pun berhasil mengenali tanda kebahagiaan yang tertera di wajah ayahnya dan memberitahukan hal tersebut kepada beliau.
Melihat Hilal Sebelum Terlihat Orang Lain
Pada suatu malam ketika hilal (bulan sabit) tidak tampak oleh siapapun, Imam Alwy berkata: “Malam ini aku telah melihatnya tampak di lautan kodrat ilahi ketika aku sedang sujud di Masjid Ba’alawy.”
Mendoakan Bayi yang Sekarat
Seorang warga datang kepada beliau membawa bayinya yang baru berusia tiga bulan dalam kondisi sekarat. Imam Alwy berkata: “Orang yang bakal berumur seratus tahun tidak akan mati dalam usia tiga bulan.” Ternyata ucapan beliau benar-benar terbukti — bayi itu hidup hingga usia seratus tahun.
Bertemu Rasulullah SAW di Makam Mulia
Imam Alwy pernah berkunjung ke makam Nabi Muhammad SAW. Dalam kunjungan itu, beliau menyaksikan Nabi SAW dalam keadaan terjaga, ditemani oleh Abu Bakar dan Umar ra.
Beliau bertanya: “Bagaimana kedudukan kami di sisimu wahai kakek?”
Nabi SAW menjawab: “Kedudukanmu di kedua mataku wahai Alwy.”
Lalu Nabi SAW balik bertanya: “Lalu bagaimana kedudukanku di sisimu wahai Syeikh Alwy?”
Imam Alwy menjawab: “Di atas kepala.”
Mendengar hal ini, Abu Bakar ra berkata: “Engkau belum membalasi ungkapan Rasulullah dengan baik wahai Alwy. Beliau menjadikan kedudukanmu di kedua pelupuk matanya sedangkan engkau menjadikannya di atas kepala. Tiada yang dapat menandingi kedudukan di pelupuk mata, oleh karena itu sedekahkanlah seratus dinar kepada fakir miskin sebagai bentuk selamatan darimu.”
Ketika beliau kembali pada kesadarannya, tiba-tiba ada seseorang berdiri di sampingnya dan memberikan uang seratus dinar. Saat itu juga beliau langsung membagikannya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Kesimpulan
Imam Alwy bin Muhammad bin Ali Ba’alawy adalah sosok ulama sekaligus wali Allah yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Beliau adalah teladan dalam ilmu, zuhud, dan ibadah. Karamah-karamah yang beliau miliki bukan sekadar cerita, melainkan telah diriwayatkan oleh para ulama dan wali besar yang terpercaya.
Warisan ilmu dan spiritual beliau terus mengalir melalui murid-murid serta keturunannya hingga hari ini, menjadikan beliau salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam di Hadhramaut dan dunia.








