
Profil Ulama | Syekh Hasanuddin Al Palimbani Ulama Besar Dari Palembang

Di Palembang, Sumatra Selatan, terdapat seorang ulama besar yang dikenal dengan nama Syekh Hasanuddin Al-Palimbani.
Nama lengkapnya adalah Kiagus Haji Hasanuddin bin Khalifah Jakfar bin Khalifah Gemuk Kiagus Muhammad bin Ki Bodrowonbso bin Pangeran Fatahillah Gunung Jati.
Lahir pada 12 Januari 1631 M di Makassar, Syekh Hasanuddin dibesarkan dalam lingkungan Keraton Palembang.
Beliau dikenal sebagai ulama terkemuka Kesultanan Palembang Darussalam serta seorang bangsawan yang berpengaruh dalam dunia Islam pada zamannya.
Ayahnya, Khalifah Jakfar (w. 1715), adalah seorang yang sangat terpelajar dan berhasil melahirkan banyak ulama nusantara.
Nama Khalifah Jakfar tercatat dalam sanad-sanad keilmuan para musnid dunia, termasuk Syekh Muhammad Yasin Al-Padani dan beberapa ulama lainnya dalam kitab-kitab mereka.
Pendidikan
Syekh Hasanuddin memulai pendidikan agama di Palembang dan kemudian melanjutkan studinya ke Timur Tengah.
Di sana, beliau belajar dari ulama-ulama ternama seperti ayahnya, Khalifah Jakfar (w. 1715), Syekh Aid bin Ali al-Basri (w. 1722), Ahmad bin Muhammad al-Nakhli (w. 1718), serta banyak ulama lainnya.
Selama di Timur Tengah, Syekh Hasanuddin menetap bersama saudara-saudaranya, seperti Kgs. H. Jakfar dan Khalifah Mahdi, serta keluarga besarnya yang sudah lama bermukim di Makkah.
Selama masa pendidikannya, Syekh Hasanuddin menguasai berbagai disiplin ilmu agama, termasuk hadist, fiqih, tauhid, tasawuf, dan tarekat.
Setelah merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya dan menyelesaikan studinya, beliau mulai mengajar di Makkah.
Sekitar tahun 1740-an, Syekh Hasanuddin kembali ke tanah kelahirannya di Palembang.
Di sana, beliau menetap dan mengajar ilmu agama di Guguk Pengulon, di lingkungan Masjid Agung dan keraton.
Syekh Hasanuddin menikah dengan Syarifah Habibah binti Khatib Muhammad Jamalullail.
Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai beberapa anak yang terkenal, antara lain Syekh Muhammad Akib, khalifah Tarekat Sammaniyah, Kiagus Muhammad Saleh, Kiagus Muhammad Amin, dan lainnya.
Syekh Hasanuddin Al-Palimbani wafat di Palembang pada 12 Juni 1670 dan dimakamkan di kompleks Astana Guba Kawah Tekurep, Palembang, bersebelahan dengan makam anaknya, Kgs. M Saleh.
Beliau juga dikenal dengan julukan Panglima Kawah Tekurep, mengingat kontribusinya yang besar dalam sejarah dan pengembangan ilmu agama di wilayah tersebut.








