ULAMA ACEH

Biografi Abu Lam Ateuk

Profil Ulama | Biografi Abu Lam Ateuk

Biografi Abu Lam Ateuk
Biografi Abu Lam Ateuk

Abu Lam Ateuk, atau yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Zamzami, adalah seorang tokoh ulama yang jejaknya patut dikenang. Kisah perjalanan hidupnya, dari masa kecil hingga dedikasinya dalam dunia pendidikan dayah, menjadi inspirasi bagi banyak kalangan.

Kelahiran

Tgk. H. Muhammad bin Zamzami lahir pada tahun 1936 M di Gampong Lambro Dayah. Beliau merupakan buah hati dari pasangan Tgk. Zamzami dan Ummi Sakdiah.

Pendidikan

Perjalanan pendidikan Abu Lam Ateuk dimulai dengan menempuh jenjang formal di Sekolah Rakyat (SR) yang terletak di Buengcala. Ini merupakan satu-satunya pendidikan formal yang pernah beliau ikuti, berlangsung sekitar tahun 1943 hingga 1947.

Menariknya, Abu tidak sempat menamatkan jenjang sekolah dasar ini (hanya empat tahun dari seharusnya enam tahun). Ayah beliau kemudian mengantarkannya untuk menapaki dunia dayah pertama di Ulee Titie, di bawah kepemimpinan Abu Ishak Al Amiriy. Di sana, beliau secara intensif berguru kepada Abu Ishak, Tgk. Daud Fathani Gani, serta beberapa guru lainnya.

Setelah tiga tahun menimba ilmu di Ulee Titie (sekitar 1947–1950), Abu Lam Ateuk memutuskan untuk merantau. Bersama Tgk. Suid dan Tgk. Neh Lambaed, beliau menuju Aceh Selatan, tepatnya di Gampong Trieng Meuduro, Sawang. Di tempat ini, beliau mendalami ilmu agama kepada seorang ulama yang sangat alim dalam empat mazhab dan dikenal dengan sebutan Tgk Jeunieb (Abu Ishak).

Selama tiga tahun (sekitar 1950–1953), Abu mengaji di Sawang dalam kondisi ekonomi yang sangat sederhana. Berkat kegigihannya, ia kemudian mendapatkan izin dari Tgk. Jeunieb untuk melanjutkan Pendidikan Dayah di Labuhan Haji (tahun 1953–1968).

Di Labuhan Haji, Abu Lam Ateuk berkesempatan berguru kepada para ulama besar yang merupakan murid langsung dari Abuya Muda Waly. Beberapa guru beliau yang masyhur antara lain:

  • Abu Usman Fauzi Lueng Ie
  • Abu Daud Zamzami
  • Abu Muhammad Amin (Tu Min)

Selain itu, beliau juga menimba ilmu dari ulama-ulama lain yang mengajarkan Kitab-kitab Kuning pada masa awal beliau menetap di Dayah Labuhan Haji.

Catatan Sejarah:

Dayah Labuhan Haji menjadi saksi perjuangan Abu Lam Ateuk bersama rekan-rekan seperjuangan, seperti Tgk. Ramli Lambaro, Tgk. Raman, Tgk. Abdullah Klieng Baitussalam, Tgk. Razali Cot Beut, Tgk. Harun Panton Labu, Tgk. Karimuddin Mulieng, Tgk. Yunus Mulieng, Tgk. Ali Muda Aceh Utara, dan banyak lagi santri lainnya.

Mengajar di Dayah Darussalam Labuhan Haji

Dua tahun setelah wafatnya Abuya Muda Waly, Dayah Darussalam Labuhan Haji mengalami masa transisi. Bersamaan dengan Abuya Muhibbuddin yang melanjutkan studi ke Al Azhar Mesir dan Abuya Jamaluddin yang melanjutkan studi ke Banda Aceh, seluruh dewan guru Dayah Darussalam Labuhan Haji pada saat itu memutuskan untuk kembali ke daerah asal mereka masing-masing.

Di tengah kekosongan tersebut, Abu Lam Ateuk dan Abu Adnan Pulo Aceh tampil untuk melanjutkan tugas mulia sebagai guru. Secara tidak resmi, kedua ulama ini menjadi pengelola dan pengurus dayah, mengajar siang dan malam demi melayani para pelajar di Dayah Labuhan Haji.

Keputusan ini diambil atas permintaan langsung dari Ummi Padang (Ummi Hj. Rasimah), dan terus berjalan hingga tahun 1968. Bahkan, ketika Abu Adnan kembali ke Pulo Aceh pada tahun 1965, Abu Lam Ateuk mengambil tanggung jawab lebih besar dengan mengajar dua kelas sekaligus, yaitu kelas 6 A dan kelas 6 B yang ditinggalkan oleh Abu Pulo.

Kepulangan yang Tak Terhindarkan

Pada tahun 1968, sebuah peristiwa penting memanggil Abu Lam Ateuk kembali ke kampung halamannya. (Almarhum) Abu Abdullah Lamceu mengirimkan sepucuk surat berbahasa Jawi kepada beliau. Surat tersebut berisi ajakan untuk segera pulang karena adanya masalah besar yang terjadi di kampung, yakni perselisihan besar tentang iadah zuhur di Mesjid Tuha Ateuk.

Abu Lam Ateuk meminta izin kepada Ummi Padang dan Ummi Manggeng untuk pulang. Meskipun pada awalnya Ummi menahan keinginan Abu, ketika Abu menunjukkan surat tersebut, Ummi Padang akhirnya mengizinkan kepulangan beliau dengan satu pesan penting: Abu harus kembali lagi ke Labuhan Haji.

    Kontribusi Abu Lam Ateuk di Kampung Halaman (Pasca-1968)

    Kepulangan Abu Lam Ateuk ke kampung halamannya didorong oleh panggilan untuk menyelesaikan perselisihan keagamaan. Namun, momen ini menjadi awal bagi beliau untuk mendirikan dan mengelola sebuah pusat pendidikan yang berpengaruh.

    1. Pendirian Dayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif

    Kontribusi terbesar Abu Lam Ateuk dalam dunia pendidikan Islam di Aceh setelah tahun 1968 adalah dengan mendirikan Dayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif.

    • Peran Pendiri: Beliau dikenal luas oleh masyarakat sebagai ulama yang konsisten dan istiqamah dalam mendidik masyarakat melalui dayah yang beliau dirikan ini.
    • Fokus Pendidikan: Dayah ini menjadi benteng pengembangan ilmu-ilmu keislaman tradisional, melanjutkan tradisi beut seumeubeut (mengaji dan mengajar) yang telah beliau tekuni sejak di Labuhan Haji.
    • Dampak: Dayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif berhasil melahirkan banyak murid yang kemudian mengikuti jejak beliau, mendirikan dayah-dayah baru di wilayah mereka masing-masing.

    2. Figur Ulama Kharismatik dan Istiqamah

    Abu Lam Ateuk diakui sebagai salah satu ulama kharismatik Aceh abad ke-20 yang memegang teguh prinsip-prinsip keagamaan.

    • Ketegasan dan Konsistensi: Beliau dikenal karena sikapnya yang tegas dan istiqamah dalam hal mendidik, terutama dalam menjaga kemurnian ajaran Islam.
    • Julukan Lain: Di samping panggilan Abu Lam Ateuk, beliau juga dikenal dengan sebutan Abu Mamplam Golek dan memiliki hubungan dengan organisasi PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), sehingga beliau juga kadang disebut Abu PERTI.

    3. Pewaris Tradisi Dayah Aceh

    Sebagai murid dari ulama besar seperti Abuya Muda Waly dan ulama Labuhan Haji lainnya, Abu Lam Ateuk berperan penting dalam melanjutkan estafet tradisi keilmuan dayah di Aceh Besar. Dayah yang beliau dirikan menjadi salah satu mata rantai penting dalam jaringan intelektual ulama Aceh.

    Dengan mendirikan Dayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif, Abu Lam Ateuk tidak hanya menyelesaikan masalah yang memanggilnya pulang, tetapi juga menciptakan warisan abadi berupa lembaga pendidikan yang terus mencetak generasi ulama dan cendekiawan Islam.

    Detail Lokasi Dayah dan Wafat Abu Lam Ateuk

    Lokasi Dayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif

    Dayah yang didirikan dan dipimpin oleh Abu Lam Ateuk berlokasi di Aceh Besar, yaitu:

    • Nama Dayah: Dayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif.
    • Lokasi Spesifik: Gampong Lambaro Bileu, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar.
    • Tahun Pendirian Dayah: Dayah ini diperkirakan mulai berdiri sekitar tahun 1982.

    Dayah ini hingga kini dikenal sebagai dayah induk di Lam Ateuk dan terus mengadakan acara haul tahunan untuk mengenang jasa-jasa beliau.

    Wafat

    Abu Lam Ateuk berpulang ke Rahmatullah pada akhir abad ke-20.

    • Nama Lengkap: Tgk. H. Muhammad bin Tgk. Zamzami (Abu Lam Ateuk).
    • Tahun Wafat: Beliau wafat pada tanggal 27 Oktober 1999 M.
    • Penanggalan Hijriah: Wafat beliau bertepatan dengan tanggal 17 Rajab 1420 H.

    Dengan demikian, rangkaian kisah hidup Abu Lam Ateuk telah lengkap, mulai dari kelahiran (1936), pendidikan di berbagai dayah, masa mengajar di Labuhan Haji, hingga kontribusi terbesarnya sebagai pendiri Dayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif di Aceh Besar, hingga wafatnya pada tahun 1999.

    Tahun (Perkiraan)Peristiwa PentingLokasi/Tokoh TerkaitKeterangan
    1936 MKelahiranLambro Dayah, AcehLahir sebagai putra dari Tgk. Zamzami dan Ummi Sakdiah.
    1943–1947Pendidikan FormalSekolah Rakyat (SR) BuengcalaSatu-satunya pendidikan formal yang diikuti (tidak tamat 6 tahun).
    1947–1950Pendidikan Dayah PertamaDayah Ulee TitieBerguru kepada Abu Ishak Al Amiriy dan Tgk. Daud Fathani Gani.
    1950–1953Merantau dan Belajar AgamaGampong Trieng Meuduro, Sawang, Aceh SelatanBerguru kepada Abu Ishak (Tgk Jeunieb), ulama yang alim empat mazhab.
    1953–1968Pendidikan Dayah Lanjutan & MengajarDayah Darussalam Labuhan HajiBerguru kepada murid Abuya Muda Waly, seperti Abu Usman Fauzi Lueng Ie dan Abu Muhammad Amin (Tu Min).
    1965–1968Pengelola & Guru Dayah (Tidak Resmi)Dayah Labuhan HajiMelanjutkan pengajaran bersama Abu Adnan Pulo Aceh atas permintaan Ummi Padang.
    1968Kembali ke Kampung HalamanLam Ateuk, Aceh BesarPulang atas ajakan (Almarhum) Abu Abdullah Lamceu untuk mengatasi perselisihan iadah zuhur.
    1982Mendirikan DayahDayah Istiqamatuddin Darul Mu’arrif, Lambaro Bileu, Kuta Baro, Aceh BesarKontribusi terbesar beliau dalam dunia pendidikan.
    27 Okt 1999 MWafatBerpulang ke Rahmatullah.

    Show More

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Back to top button

    Adblock Detected

    Please consider supporting us by disabling your ad blocker