
Sayyid Sulaiman — yang dikenal luas dengan sebutan Mbah Sayyid atau Pangeran Kanigoro — adalah salah satu ulama besar Nusantara yang meninggalkan warisan luar biasa bagi dunia pesantren di Jawa Timur. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia.
Kelahiran Sayyid Sulaiman
Sayyid Sulaiman lahir sekitar tahun 1571 M di Cirebon, Jawa Barat. Beliau adalah putra kedua dari pasangan Sayyid Abdurrahman dan Syarifah Khadijah, yang merupakan cucu dari Raden Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Beliau memiliki dua saudara kandung, yaitu:
- Sayyid Abdurrahim, yang terkenal dengan sebutan Mbah Arif Segoropuro dari Pasuruan
- Sayyid Abdul Karim, yang wafat di Surabaya dan dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel
Pendidikan dan Perjalanan Menuntut Ilmu
Belajar di Ampel, Surabaya
Dalam perjalanan menuntut ilmu, Sayyid Sulaiman menembus hutan belantara menuju Ampel, Surabaya, untuk belajar kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel). Di sana, beliau kemudian bertemu kembali dengan adiknya, Sayyid Abdurrahim, yang awalnya diutus Raja Mataram untuk menjemput beliau, namun malah memilih tinggal dan belajar bersama.
Catatan sejarawan: Riwayat bergurunya Sayyid Sulaiman kepada Sunan Ampel secara langsung masih dipertanyakan karena terdapat selisih waktu sekitar tiga abad. Kemungkinan besar, beliau belajar kepada generasi penerus Sunan Ampel, atau kisah tersebut terjadi saat keduanya berguru kepada Mbah Sholeh Semendi.
Suatu malam di Ampel, dua kilatan cahaya keemasan menerpa dua santri yang sedang tidur. Sang guru — setelah mengikat sarung keduanya sebagai tanda — usai salat Subuh mengumumkan:
“Mulai sekarang, santri jangan panggil Sulaiman dan Abdurrahim saja, tapi panggillah Mas Sulaiman dan Mas Abdurrahim!”
Panggilan “Mas” ini kemudian menjadi cikal-bakal sebutan kehormatan santri kepada keturunan para Masyayikh, mirip sebutan “Gus” di zaman sekarang.
Berguru kepada Mbah Sholeh Semendi di Pasuruan
Setelah dari Ampel, keduanya melanjutkan perjalanan ke Pasuruan untuk berguru kepada Mbah Sholeh Semendi di Segoropuro — yang belakangan diketahui adalah paman mereka sendiri, saudara dari ibu mereka.
Banyak kisah luar biasa terjadi selama masa berguru ini. Salah satunya, Sayyid Sulaiman dan adiknya berhasil “menahan” Mbah Sholeh yang dikenal bisa menghilang, dengan cara memegang bakiaknya (teklek) saat mandi di sungai Winongan. Mbah Sholeh pun mengakui kehebatan dua bersaudara tersebut.
Dalam kesempatan lain, Sayyid Sulaiman mencabut pohon-pohon besar di halaman pesantren saat kerja bakti — dan atas perintah gurunya, mampu mengembalikan pohon-pohon itu ke posisi semula. Kabar kesaktian beliau pun menyebar ke seluruh penjuru Pasuruan.
Keluarga Sayyid Sulaiman
Setelah selesai berguru, Mbah Sholeh Semendi — yang juga gurunya — meminta Sayyid Sulaiman untuk menikahi putrinya yang kedua. Meski awalnya menolak, beliau akhirnya menerima. Adiknya, Mbah Abdurrahim, menikahi putri Mbah Sholeh yang pertama dan menetap di Segoropuro, Pasuruan.
Selain itu, Sayyid Sulaiman juga memiliki istri dari Krapyak, Pekalongan, dan seorang istri dari Malang. Dari istri di Pekalongan, beliau dikaruniai empat putra:
- Hasan
- Abdul Wahhab — dikenal sebagai pejuang melawan penjajah Portugis dan Belanda
- Muhammad Baqir — makamnya di Geluran, Sepanjang, Sidoarjo
- Ali Akbar — menurunkan banyak ulama pemangku pesantren di Jawa Timur
Dari istri putri Mbah Sholeh Semendi, beliau memiliki putra Kiai Ahmad (Lebak, Winongan, Pasuruan). Dari istri di Malang, beliau memiliki putra Sayyid Hazam.
Sosok yang Terkenal Sakti
Di Keraton Mataram (Solo)
Kesaktian Sayyid Sulaiman terdengar hingga ke Keraton Mataram. Sang Raja mengundangnya dan meminta dipertontonkan sesuatu yang luar biasa. Sayyid Sulaiman meletakkan sebatang bambu di atas meja, lalu pergi ke arah timur. Sang Raja yang tidak sabar membanting bambu itu — dan seketika bambu tersebut berubah menjadi berbagai jenis hewan.
Hewan-hewan itu kemudian dipelihara di sebuah taman yang diberi nama “Sriwedari” — taman wisata bersejarah peninggalan Kerajaan Mataram yang bertahan hingga abad modern.
Di Keraton Pasuruan
Raja Pasuruan yang awalnya meremehkan Mbah Sayyid akhirnya meminta bantuan beliau ketika putrinya menghilang secara misterius bersama kusir dan keretanya. Sayyid Sulaiman memasukkan tangan ke dalam saku, melemparkan sesuatu ke halaman — dan sang Putri pun muncul kembali bersama kereta dan kusirnya. Raja bersyukur dan bermaksud menikahkan putrinya dengan Sayyid, namun beliau menolak dan memilih kembali ke Kanigoro.
Di Keraton Mataram: Memakan Keris
Dalam kunjungan lain ke Keraton Mataram, Raja menyiapkan tiga keris pusaka yang diletakkan di atas piring makanan — kemungkinan sebagai ujian atau jebakan. Sayyid Sulaiman dengan tenang berbisik kepada para santrinya untuk “memakan sayur kacang itu.” Ketiganya pun memakan keris tersebut seperti menyantap sayur biasa, membuat seluruh isi keraton terkagum-kagum.
Pindah ke Pasuruan
Pada tahun 1681 M, suasana di Cirebon dan Banten memanas akibat konflik antara Sultan Agung Tirtayasa dan putranya Sultan Haji yang berpihak kepada Belanda. Sayyid Sulaiman memutuskan kembali ke Pasuruan dan menetap di Kanigoro, sebuah dusun di Desa Gambir Kuning.
Di sana beliau mendirikan dua buah masjid yang dibangun dari satu pohon besar pemberian Kerajaan Untung Surapati. Kayu pohon raksasa itu — yang tidak mampu ditarik 40 ekor sapi sekalipun — konon dipindahkan sendiri oleh Sayyid Sulaiman dengan izin Allah. Masjid tersebut kini telah berusia lebih dari 400 tahun dan masih berdiri, meski pernah dipindahkan sedikit ke selatan pada tahun 1243 H oleh Syekh Rafi’i, cicit Sayyid Sulaiman.
Selama di Kanigoro, beliau juga menjadi penasihat Untung Surapati, pahlawan nasional yang berjasa mengusir penjajah Belanda dari Pasuruan.
Mendirikan Pesantren Sidogiri
Atas titah Sunan Giri, Sayyid Sulaiman memulai pembabatan hutan Sidogiri — sebuah kawasan angker yang menjadi sarang makhluk halus dan jin — untuk dijadikan lokasi pesantren. Perjuangan ini tidak mudah; beliau harus berhadapan bukan hanya dengan lebatnya hutan, tetapi juga dengan kekuatan gaib yang menghuni tempat tersebut.
Sayangnya, Sayyid Sulaiman wafat sebelum sempurna menyelesaikan pembabatan tersebut. Perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh Kiai Aminullah, seorang santri asal Bawean yang menikahi keturunan Sayyid Sulaiman dan menetap di Sidogiri.
Mengenai tahun berdirinya pesantren, terdapat dua versi:
- Tahun 1712 M — lebih dekat dengan masa hidup Sayyid Sulaiman
- Tahun 1745 M — diperkirakan era kepemimpinan Kiai Aminullah
Kini, Pondok Pesantren Sidogiri menjadi salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia, dengan ribuan santri dari berbagai penjuru negeri.
Wafatnya Sayyid Sulaiman
Terdapat dua versi mengenai wafatnya beliau:
Versi pertama: Dalam perjalanan pulang dari Solo setelah menyampaikan penolakan rakyat Pasuruan kepada Raja, Sayyid Sulaiman jatuh sakit di Kampung Betek, Mojoagung, Jombang, dan wafat di sana.
Versi kedua: Beliau tidak sempai ke Solo karena jatuh sakit di tengah perjalanan. Selama sakit, beliau dirawat oleh Mbah Alif di Mojoagung. Beliau berdoa kepada Allah — jika pertemuan dengan Raja mendatangkan kebaikan, mohon dipertemukan; jika tidak, lebih baik wafat di sana. Allah mengabulkan doa kedua. Sayyid Sulaiman wafat di Mojoagung tanpa sempat bertemu Raja Mataram.
Istri beliau yang sedang hamil tua kemudian mencari suaminya dari Pasuruan hingga Sidoarjo, Surabaya, dan Malang. Ia melahirkan di Desa Mendit, namun sang bayi wafat. Ia terus mencari ke arah selatan, namun akhirnya meninggal di Desa Grebek sebelum menemukan suaminya.
Makam Sayyid Sulaiman berada di Kampung Betek, Mojoagung, Jombang, dan hingga kini ramai dikunjungi para peziarah.
Warisan Sayyid Sulaiman
Melalui keturunan dan murid-muridnya, Sayyid Sulaiman meninggalkan warisan yang luar biasa bagi dunia Islam di Nusantara, di antaranya:
- Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
- Pondok Pesantren Sidoresmo, Surabaya
- Pondok Pesantren Al-Muhibbin, Surabaya
- Pondok Pesantren Syaikhuna Kholil, Bangkalan
- Puluhan pondok pesantren di kawasan Sidoresmo dan Sidosermo, Surabaya — seluruhnya diasuh oleh keturunan Sayyid Sulaiman







