ULAMA NUSANTARA

KH Achmad Chalwani Pengasuh Pesantren An Nawawi Berjan

KH. Achmad Chalwani adalah salah satu ulama berpengaruh di Indonesia. Beliau dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, sekaligus pendakwah yang aktif berdakwah hingga ke luar negeri.


Kelahiran dan Keluarga

KH. Achmad Chalwani lahir di Gebang, Purworejo, Jawa Tengah. Beliau adalah putra ketiga dari pasangan KH. Muhammad Nawawi Shidiq dan Nyai Hj. Saodah. Dalam kehidupan rumah tangganya, beliau menikahi Siti Sa’adah.


Pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan

KH. Achmad Chalwani menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi Berjan, yang berlokasi di Gebang, Purworejo, Jawa Tengah.

Sejak muda, beliau telah mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menimba ilmu. Pengalaman panjang itulah yang membentuk visinya dalam memimpin pesantren.

“Sebagai anak, saya berkewajiban menjaga dan meneruskan warisan yang baik dari orang tua.” — KH. Achmad Chalwani

Beliau menyadari tanggung jawabnya sebagai pewaris untuk menjaga marwah dan tujuan luhur pesantren sesuai cita-cita para pendahulu. Namun demikian, beliau juga terus mengembangkan pesantren agar selaras dengan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan ciri khas pesantren salafiyah.

Pengembangan Pesantren

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan pesantren ini adalah perubahan nama dari Roudlotut Thullab menjadi An Nawawi pada tanggal 6 Januari 1996.

Setelah pergantian nama tersebut, pesantren berkembang pesat, terutama setelah KH. Achmad Chalwani mengintegrasikan pendidikan salafiyah dengan pendidikan formal melalui pendirian:

  • Madrasah Tsanawiyah (MTs)
  • Madrasah Aliyah (MA)
  • Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) An Nawawi

Saat ini, pesantren menampung tidak kurang dari 2.000 santri.

“Pendirian pendidikan formal itu dalam upaya menyesuaikan dan menjawab tantangan zaman. Khusus untuk STAI An Nawawi, saya dirikan untuk melaksanakan wasiat ayah yang menghendaki ada fakultas syariah di Berjan.” — KH. Achmad Chalwani

Metode Pendidikan Salafiyah

Dalam tradisi salafiyah, ilmu diyakini tidak akan masuk ke dalam diri seseorang tanpa melalui riyadhah (latihan spiritual). KH. Achmad Chalwani menjelaskan:

“Dalam Al-Qur’an bahasanya berzikir, mujahadah, puasa, ngrowot, dan berkhidmah kepada kiai — ini semua adalah bentuk tazkiyah agar ilmu dapat masuk dalam diri santri.”

Beberapa langkah nyata yang dilakukan untuk mengembangkan pesantren antara lain:

  • Mengirim dai-dai muda ke daerah-daerah terpencil
  • Mengadakan berbagai kegiatan keagamaan
  • Menyelenggarakan pengajian selapanan (rutin 35 hari sekali)

Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

KH. Achmad Chalwani adalah mursyid (pembimbing spiritual) Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dengan ratusan ribu anggota (ikhwan) yang tersebar luas.

Jamaah thariqah yang beliau bimbing tidak hanya berasal dari Purworejo, tetapi juga dari berbagai daerah, antara lain:

  • Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta
  • Bangka Belitung, Lampung, Palembang
  • Kalimantan, Riau, Dumai, Batam
  • Berbagai kota di Sumatera
  • Bahkan hingga Johor Bahru, Malaysia

Kegiatan thariqah ini juga merupakan bagian dari upaya beliau meneruskan warisan sang ayah, KH. Muhammad Nawawi Shidiq, yang merupakan salah satu pemrakarsa dan pendiri Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah. Organisasi ini didirikan bersama tokoh-tokoh seperti KH. Mandhur Temanggung, KH. Muslih Mranggen, KH. Masruhan Mranggen, dan mantan Bupati Grobogan Andi Patopoi, pada Kongres Thariqah pertama di Asrama Pendidikan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, 10 Oktober 1957.


Pendakwah Internasional

Selain mengasuh pesantren dan membimbing jamaah thariqah, KH. Achmad Chalwani juga aktif berdakwah ke berbagai negara, di antaranya:

  • Singapura
  • Malaysia
  • Macau
  • Hong Kong
  • Guangzhou, Tiongkok

Beliau memegang teguh prinsip dakwah yang inklusif dan tanpa diskriminasi:

“Prinsip saya, siapa pun dan di mana pun, kalau mengundang saya berdakwah untuk syiar Islam, asal badan sehat, pasti saya datangi. Saya tak pernah membeda-bedakan antara pejabat, konglomerat, dan rakyat.”

Pendekatan dakwah beliau berpijak pada nilai Islam rahmatan lil ‘alamin — Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.


Kesimpulan

KH. Achmad Chalwani adalah sosok ulama yang memadukan tradisi pesantren salafiyah dengan semangat modernisasi pendidikan. Sebagai mursyid thariqah, pengasuh pesantren, dan pendakwah lintas negara, beliau terus mewarisi dan mengembangkan khazanah keilmuan Islam yang dibangun oleh para pendahulunya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker