
Siapa Sulthanah Shafiatuddin Syah?
Sulthanah Shafiatuddin Syah adalah pemimpin perempuan pertama Kesultanan Aceh Darussalam. Ia merupakan putri dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah, raja terbesar yang pernah memimpin Aceh. Nama aslinya adalah Putri Sri Alam, dan ia kemudian memerintah dengan gelar lengkap:
Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-‘Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-‘Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah
Ia memerintah selama 58 tahun — salah satu masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah kerajaan Islam di Nusantara.
Latar Belakang: Bagaimana Shafiatuddin Naik Takhta?
Shafiatuddin naik takhta bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena situasi politik yang mendesak.
Ayahnya, Sultan Iskandar Muda, wafat pada 1636 tanpa meninggalkan putra mahkota. Takhta kemudian diserahkan kepada Sultan Iskandar Tsani — menantu Iskandar Muda yang merupakan putra Sultan Ahmad Syah dari Pahang (kini Malaysia). Iskandar Tsani menikahi Shafiatuddin setelah Aceh menaklukkan Pahang pada 1617.
Namun era Iskandar Tsani pun tidak berlangsung lama (1636–1641). Ketika ia wafat, tidak ada satu pun laki-laki dari keluarga kerajaan yang dinilai cakap untuk menggantikannya. Pilihan pun jatuh kepada Shafiatuddin, putri tertua Sultan Iskandar Muda.
Tantangan di Awal Pemerintahan
Naik tahtanya seorang perempuan sebagai pemimpin kerajaan Islam bukan tanpa gejolak. Beberapa pihak menolak keputusan ini dan beberapa kali terjadi pemberontakan serta upaya pengkhianatan untuk menjatuhkan Shafiatuddin dari kekuasaannya.
Di saat yang sama, ancaman dari luar pun datang. VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) semakin kuat pengaruhnya setelah berhasil merebut Malaka dari tangan Portugis pada awal 1641 — tepat di tahun Shafiatuddin mulai memerintah.
Meski demikian, Shafiatuddin berhasil melewati semua ujian itu.
Prestasi dan Kebijakan Shafiatuddin
Pemimpin yang Bijak dan Visioner
Shafiatuddin dipilih bukan tanpa alasan. Ia dikenal memiliki visi kuat dalam menyebarkan Islam serta mengembangkan kebudayaan dan seni di Aceh. Ketika Perang Malaka meletus pada 1639, ia bahkan membentuk barisan perempuan untuk memperkuat pertahanan istana.
Di masa pemerintahannya:
- Hukum dan adat istiadat dijalankan dengan adil dan konsisten
- Tradisi pemberian tanah sebagai penghargaan bagi pahlawan perang dilanjutkan
- Hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain berhasil dijaga
- Aceh mengalami kemajuan di bidang ekonomi, agama, hukum, seni, budaya, dan ilmu pengetahuan
Mendukung Dunia Sastra dan Ilmu Pengetahuan
Salah satu warisan terbesar Shafiatuddin adalah perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan dan sastra. Ia sendiri dikenal sebagai perempuan yang gemar membaca, mengarang sajak, dan menulis cerita pendek.
Ia mendirikan dan memperluas perpustakaan negara — langkah yang sangat jarang dilakukan oleh pemimpin manapun pada zamannya. Ia juga memberikan dukungan penuh kepada para sastrawan dan cendekiawan.
Hasilnya? Di era kepemimpinannya lahir tiga ulama besar yang karya-karyanya masih diakui hingga kini:
| Ulama | Karya Terkenal |
|---|---|
| Hamzah Fansuri | Syair Perahu, Syair Burung Unggas, Asrar al-Arifin, Sharab al-Asyikin |
| Nuruddin Ar-Raniry | Bustanus Salatin (Taman Raja-raja), Shiratal Mustaqim |
| Abdurrauf Singkel | Mir’at al-Thullab (fiqh Islam), Tarjuman al-Mustafid (tafsir Al-Qur’an pertama berbahasa Melayu) |
Kitab Tarjuman al-Mustafid karya Abdurrauf Singkel yang ditulis atas permintaan langsung Shafiatuddin adalah naskah tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Melayu — pencapaian yang luar biasa dalam sejarah Islam Nusantara.
Akhir Hayat dan Penerusnya
Sulthanah Shafiatuddin wafat pada 1675 setelah memerintah selama 58 tahun. Karena tidak memiliki keturunan, ia mengangkat tiga perempuan — bukan dari kalangan bangsawan, melainkan rakyat biasa — untuk meneruskan kepemimpinannya:
- Sulthanah Naqi al-Din Nur al-Alam (1675–1678)
- Sulthanah Zaqi al-Din Inayat Syah (1678–1688)
- Sulthanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688–1699)
Dengan demikian, sejak Shafiatuddin hingga 1699, Kesultanan Aceh Darussalam dipimpin oleh perempuan selama lebih dari setengah abad — sebuah fakta sejarah yang tidak terbantahkan dan sangat langka dalam sejarah kerajaan Islam dunia.
Warisan: Aceh, Tanah Para Pemimpin Perempuan
Shafiatuddin bukan satu-satunya perempuan luar biasa dari Aceh. Jauh setelahnya, Aceh melahirkan banyak tokoh perempuan hebat lainnya seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah — para perempuan yang tampil sebagai panglima perang dan pemimpin perlawanan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda.
Inilah yang membuat Aceh dikenal sebagai tanah yang melahirkan lebih banyak pahlawan nasional perempuan dibanding daerah mana pun di Indonesia.
Nama yang Diabadikan
Hari ini, nama Sulthanah Shafiatuddin diabadikan menjadi nama sebuah Taman Budaya di Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Taman seluas 9 hektar ini menjadi pusat seni dan budaya dari 23 kabupaten/kota di Aceh.
Setiap lima tahun sekali, di taman ini diselenggarakan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) — ajang besar yang menampilkan beragam seni, budaya, kuliner, dan musik dari seluruh penjuru Aceh.
Ringkasan Data Sulthanah Shafiatuddin
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Nama asli | Putri Sri Alam |
| Gelar | Sulthanah Shafiatuddin Tajul-‘Alam Syah |
| Ayah | Sultan Iskandar Muda |
| Suami | Sultan Iskandar Tsani |
| Masa pemerintahan | 1641–1675 (58 tahun) |
| Wafat | 1675 |
| Warisan | Perpustakaan negara, dukungan sastra & ulama, diplomasi kerajaan |
| Nama diabadikan | Taman Budaya Sulthanah Shafiatuddin, Banda Aceh |







