
Di antara sekian banyak ulama Nusantara yang merantau ke Mekah untuk menuntut ilmu dan kemudian menetap di sana, nama Syekh Muhammad Zainuddin Al-Baweyani Al-Indonesi Al-Makki adalah salah satu yang patut dikenal lebih luas. Beliau bukan sekadar ulama yang belajar di tanah suci, melainkan juga pendiri madrasah, pengajar ulama-ulama besar dunia, dan pemilik jaringan sanad keilmuan yang sangat luas dari berbagai penjuru dunia Islam.
Kelahiran dan Masa Kecil
Syekh Muhammad Zainuddin Al-Baweyani lahir pada tahun 1334 H — menjadikan beliau setahun lebih tua dari ulama besar Nusantara lainnya, Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani, yang lahir pada tahun 1335 H.
Beliau tumbuh dan besar di lingkungan masyarakat yang kental dengan nilai-nilai agama. Sejak kecil, jiwa dan raganya sudah diarahkan untuk beribadah dan menuntut ilmu. Seperti anak-anak Muslim pada umumnya, beliau memulai pendidikannya di maktab Al-Qur’an untuk belajar membaca Al-Qur’an beserta ilmu tajwidnya.
Wafat dan Tempat Peristirahatan
Syekh Muhammad Zainuddin Al-Baweyani wafat pada tahun 1426 H. Jenazah beliau dishalatkan di Masjidil Haram, Mekah, dan kemudian dimakamkan di Pemakaman Ma’la — tempat peristirahatan para ulama dan orang-orang mulia yang wafat di Mekah, termasuk di dalamnya makam Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha.
Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Perjalanan Pendidikan
Pendidikan Formal di Mekah
Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, Syekh Zainuddin melanjutkan ke pendidikan formal dengan masuk ke Madrasah Al-Fakhriyyah dan berhasil menamatkannya. Tidak berhenti di situ, beliau kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Madrasah Solatiyyah Al-Hindiyyah — sebuah lembaga pendidikan Islam bergengsi di Mekah yang telah melahirkan banyak ulama besar, termasuk ulama-ulama dari Indonesia.
Di antara alumni Madrasah Solatiyyah yang mendahului Syekh Zainuddin adalah:
- Syekh Hasyim Asy’ari — pendiri Nahdlatul Ulama (NU)
- Syekh Musthafa Husein — pendiri Pondok Pesantren Musthafawiyah
Syekh Zainuddin mulai belajar di Solatiyyah pada tahun 1351 H saat usianya baru 17 tahun. Berkat ketekunan dan kesungguhannya, beliau berhasil menyelesaikan pendidikan hanya dalam dua tahun, yakni pada tahun 1353 H.
Pendidikan Non-Formal di Masjidil Haram
Di luar bangku sekolah formal, Syekh Zainuddin juga aktif mengikuti pengajian di Masjidil Haram dan di rumah-rumah ulama Mekah. Di antara guru-guru yang beliau temui langsung adalah:
- Syekh Muhammad Amin Al-Kutubi
- Syekh Hasan Fad’aq
- Syekh Umar Hamdan Al-Mahrisi
Selain unggul dalam keilmuan, Syekh Zainuddin juga dianugerahi suara yang sangat merdu. Beliau kerap melantunkan qasidah-qasidah pujian kepada Nabi Muhammad ﷺ di majelis Syekh Amin Al-Kutubi hingga mampu menyentuh perasaan para hadirin. Karunia ini menjadikannya dicintai dan disegani oleh banyak orang.
Mendirikan Madrasah Darul Ulum
Setelah menyelesaikan studi di Madrasah Solatiyyah, Syekh Zainuddin bersama Syekh Sayyid Muhsin Al-Musawa Al-Palembani dan rekan-rekan seperjuangan mendirikan Madrasah Darul Ulum di Mekah.
Madrasah ini memiliki sejarah yang sangat penting karena merupakan madrasah pertama yang diperuntukkan khusus bagi pelajar-pelajar dari Nusantara. Pendirian madrasah ini juga merupakan bentuk ekspresi pelajar-pelajar Nusantara yang ingin memiliki lembaga pendidikan sendiri yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Di Darul Ulum, Syekh Zainuddin mengajar pelajar-pelajar yang datang dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Fathoni (Thailand Selatan), dan lain-lain. Madrasah ini terus berkembang dan melahirkan banyak ulama, salah satunya karena kehadiran Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani — ulama hadits kaliber dunia — yang mengajar di sana.
Para ulama dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke Darul Ulum hanya untuk mengambil riwayat hadits dari Syekh Al-Fadani. Namun setelah wafatnya Syekh Al-Fadani, madrasah ini akhirnya dibekukan oleh pemerintah, dan namanya kini hanya tinggal dalam catatan sejarah.
Perjalanan Ilmiah dan Jaringan Sanad
Syekh Zainuddin tidak hanya menuntut ilmu di Mekah. Beliau juga melakukan lawatan ke berbagai negara untuk menemui para ulama dan mendapatkan ijazah ammah (izin periwayatan ilmu secara umum). Negara-negara yang pernah beliau kunjungi antara lain Yaman dan Indonesia.
Dari perjalanan-perjalanan itu, beliau berhasil mengumpulkan sanad-sanad yang tinggi dan ilmu yang sangat luas. Di antara ulama-ulama besar yang memberikan ijazah ammah kepada beliau adalah:
- Syekh Muhammad Amin Al-Kutubi Al-Makki
- Syekh Sayyid Ahmad Al-Abutiji
- Syekh Umar Hamdan Al-Mahrisi
- Syekh Muhammad Abdul Hayy Al-Kattani
- Syekh Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki
- Syekh Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki
- Syekh Al-Habib Alawi bin Thohir Al-Haddad
- Syekh Al-Habib Abdullah bin Thohir Al-Haddad
- Syekh Baqir bin Muhammad Nur Al-Jogjawi
- Syekh Muhammad bin Muhammad Idris Ahyad Al-Bogori
- Syekh Sayyid Muhsin bin Ali Al-Musawa Al-Falimbani
- Dan masih banyak lagi ulama dari berbagai negara
Luasnya jaringan sanad ini menjadikan Syekh Zainuddin sebagai salah satu simpul penting dalam mata rantai keilmuan Islam yang menghubungkan ulama Nusantara dengan tradisi keilmuan Islam dunia.
Murid-Murid Beliau
Di antara murid-murid terkemuka yang mendapat ijazah dari Syekh Muhammad Zainuddin Al-Baweyani adalah:
1. Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Makki
Ulama besar Mekah yang sangat berpengaruh di Indonesia ini mendapatkan ijazah dari Syekh Zainuddin seminggu sebelum beliau wafat — setelah berkali-kali memohon dan akhirnya dikabulkan. Kisah ini menunjukkan betapa tingginya penghargaan Sayyid Muhammad Alawi terhadap sanad keilmuan Syekh Zainuddin.
2. Syekhuna Sayyid Nabil bin Hasyim Ala Ghamri Asy-Syafi’i Al-Makki
Beliau mendapatkan ijazah dari Syekh Zainuddin sebulan sebelum wafat sang guru. Dalam kesempatan itu, Syekh Zainuddin berpesan dengan penuh tawadhu’: “Siapa di antara kita yang terlepas dari azab neraka, maka hendaklah dia menolong temannya.”
Melalui dua murid inilah, sanad keilmuan Syekh Muhammad Zainuddin Al-Baweyani Al-Indonesi Al-Makki tetap tersambung dan terus diwariskan hingga generasi berikutnya.
Karya-Karya Ilmiah
Syekh Muhammad Zainuddin Al-Baweyani juga meninggalkan sejumlah karya tulis yang mencerminkan kedalaman ilmu dan kekayaan spiritual beliau:
- Al-Fawaidu Az-Zainiyyah ‘ala Al-Manzumati Ar-Rahbiyyah — catatan ilmiah atas sebuah manzumah (syair ilmiah) dalam bidang ilmu waris
- Faidlul Mannan fi Wajibati Hamili Al-Qur’an — karya tentang kewajiban-kewajiban seorang penghafal Al-Qur’an
- Al-Ulumu Al-Wahbiyyah fi Manazili Al-Qurbiyyah — karya tentang ilmu-ilmu yang dianugerahkan Allah dalam maqamat (tingkatan) kedekatan kepada-Nya
- Ghayatu As-Sul Liman Yuridul Ushul Ila Barri Al-Ushul — panduan bagi mereka yang ingin mencapai akar-akar ilmu dengan benar
- Musyahadatu Al-Mahbub fi Tathhiri Al-Qawalib wa Al-Qulub — karya tentang penyaksian spiritual dan penyucian hati
- Ghayatu Al-Wadad fima li Haza Wujudi mina Al-Murad — karya yang bertemakan kerinduan dan tujuan spiritual seorang hamba
Penutup
Syekh Muhammad Zainuddin Al-Baweyani adalah kebanggaan ulama Nusantara. Dari tanah Indonesia, beliau merantau ke Mekah, menguasai berbagai cabang ilmu, mendirikan madrasah, mengajar ulama-ulama dunia, dan membangun jaringan sanad yang kokoh. Hingga akhir hayatnya, beliau dimakamkan di tanah suci Mekah — di antara para wali dan ulama yang telah mendahului.
Semoga Allah merahmati Syekh Muhammad Zainuddin Al-Baweyani, meluaskan kuburnya di Ma’la, dan menjadikan setiap ilmu serta karya yang beliau tinggalkan sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.








