ULAMA NUSANTARA

KH. Hamdan Khalid: Ulama Besar Kalimantan Alumni Al-Azhar

KH. Hamdan Khalid adalah salah satu ulama terkemuka dari Kalimantan Selatan yang memiliki rekam jejak luar biasa — dari lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, hingga menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Beliau dikenal gigih dalam menegakkan ajaran Islam yang lurus dan membina umat melalui pendidikan, hukum agama, dan dakwah. Inilah biografi lengkap beliau.


1. Riwayat Hidup

Kelahiran

KH. Hamdan Khalid lahir di Amuntai, Kalimantan Selatan, pada Jumat, 10 Januari 1936 M, bertepatan dengan 15 Syawal 1354 H. Beliau adalah putra bungsu dari Syekh KH. Muhammad Khalid, seorang ulama terkemuka di daerahnya.

Wafat

KH. Hamdan Khalid wafat pada Senin, 27 Mei 2019, bertepatan dengan 22 Ramadan 1440 H, pukul 05.30 WITA, dalam usia 83 tahun. Kepergian beliau di bulan suci Ramadan menjadi duka mendalam bagi masyarakat Kalimantan Selatan dan kalangan NU.

Jenazah beliau dikebumikan di makam keluarga KH. M. Khalid, Desa Tangga Ulin, Amuntai.


2. Perjalanan Pendidikan

Menimba Ilmu dari Lokal hingga Mesir

KH. Hamdan Khalid menempuh perjalanan pendidikan yang panjang dan penuh dedikasi, dari kampung halaman di Kalimantan hingga ke pusat keilmuan Islam dunia di Kairo:

  1. SR As-Salam, Martapura — pendidikan dasar beliau
  2. Pondok Pesantren Darussalam, Martapura — mendalami ilmu-ilmu agama secara klasikal (1956)
  3. ‘Ulya Al-Azhar, Kairo — melanjutkan studi ke Mesir (1962)
  4. Fakultas Syari’ah, Universitas Al-Azhar, Kairo — menyelesaikan studi sarjana di bidang hukum Islam (1965)
  5. Dirasah Ulya Tarikh fi Ulya — menyelesaikan pendidikan lanjutan bidang sejarah (1966)

Kepulangan beliau dari Mesir membawa bekal keilmuan yang sangat kaya — menggabungkan tradisi pesantren Kalimantan dengan metodologi keilmuan Al-Azhar yang terkenal kedalaman dan keluasannya.

Mengasuh Majelis Taklim

Sepulang dari Mesir pada akhir 1960-an, KH. Hamdan Khalid langsung terjun mengajar di tengah masyarakat. Beliau secara rutin mengisi pengajian di dua majelis taklim:

  • Majelis Taklim Al-Khalidiyah, Tangga Ulin
  • Majelis Taklim Al-Ma’arif, Amuntai

Materi yang disampaikan meliputi tauhid, fiqih, tasawuf, dan berbagai permasalahan kemasyarakatan yang dihadapi umat sehari-hari. Pengajian ini menjadi jembatan antara ilmu akademis yang beliau peroleh di Al-Azhar dengan kebutuhan nyata masyarakat Kalimantan Selatan.


3. Karya Tulis

KH. Hamdan Khalid dikenal sebagai ulama yang tidak hanya mengajar secara lisan, tetapi juga meninggalkan warisan tertulis. Salah satu karya beliau yang penting adalah:

📖 “Agenda Khusus Dialog Kitab Ad-Durun Nafis”

Karya ini berkaitan dengan upaya beliau dalam meluruskan paham-paham yang menyimpang dari ajaran Islam yang benar — sebuah tugas mulia yang beliau emban dengan penuh keberanian dan keilmuan.


4. Karier dan Pengabdian

KH. Hamdan Khalid merupakan sosok yang mengabdikan dirinya di berbagai bidang — akademik, peradilan agama, dan organisasi Islam — secara bersamaan. Berikut rekam jejak karier beliau:

JabatanPeriode
Kepala Madrasah Aliyah Normal Islam Putri Rakha1948 – 1952
Dosen Fakultas Ushuluddin, Amuntai1967
Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari1977 – 1983
Hakim Agung, Kantor Pengadilan Agama
Ketua Pengadilan Agama Amuntai1986 – 1997
Anggota Dewan Pembina Ponpes Rakha2012 – 2017
Ketua BAZNAS Kabupaten HSU
Ketua MUI Kabupaten HSU
Ketua Dewan Pertimbangan Fatwa MUI Kab. HSU
Rais Ulya PWNU Kalimantan Selatan
Rais Syuriah PBNU, Jakarta

Karier beliau yang merentang dari dunia pendidikan, peradilan agama, hingga puncak kepemimpinan organisasi NU di tingkat nasional mencerminkan kapasitas keilmuan dan kepercayaan umat yang luar biasa terhadap beliau.


5. Jasa dan Perjuangan

Salah satu jasa terbesar KH. Hamdan Khalid adalah kegigihannya dalam memberantas dan meluruskan aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Di tengah maraknya pemahaman-pemahaman yang keliru di masyarakat, beliau tampil sebagai penjaga akidah dengan pendekatan yang berlandaskan ilmu, bukan sekadar emosi.

Melalui pengajian, karya tulis, dan jabatan formalnya — baik sebagai hakim agama maupun pemimpin MUI — beliau membangun tembok kokoh untuk melindungi akidah umat Islam di Kalimantan Selatan khususnya, dan Indonesia pada umumnya.


6. Penutup

KH. Hamdan Khalid adalah bukti bahwa ulama Kalimantan mampu berdiri sejajar dengan ulama-ulama besar dari mana pun. Dari Pesantren Darussalam Martapura, beliau menapaki jalan panjang hingga ke Al-Azhar Kairo, lalu kembali mengabdi untuk tanah air dan umatnya selama lebih dari setengah abad.

Wafat di penghujung malam Ramadan — waktu yang diyakini penuh keberkahan — semoga menjadi pertanda kemuliaan beliau di sisi Allah SWT.

Semoga Allah merahmati, mengampuni, dan menempatkan beliau di tempat yang terbaik. Aamiin.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker