ULAMA DUNIA

Imam Abdullah bin Alwy Ba’alawy: Ulama Dermawan dari Tarim

Siapa Imam Abdullah bin Alwy Ba’alawy?

Imam Abdullah bin Alwy Ba’alawy adalah salah satu ulama dan wali besar dari keluarga Ba’alawy di Tarim, Hadhramaut, Yaman. Nama lengkap beliau disertai gelar kehormatan: Al Imam Al Alim Al Amil Al Wari’ Az Zahid Al Waliyul Kabir Afifuddin Abdullah bin Alwy bin Faqihul Muqaddam.

Gelar-gelar itu bukan sekadar hiasan — setiap kata mencerminkan kualitas nyata dalam diri beliau. Allah SWT menganugerahkan kepada beliau keutamaan langka: menguasai sekaligus ilmu syariat, ilmu hakikat, dan menempuh jalan tarekat secara sempurna. Beliau dikenal pula sebagai sosok yang luar biasa dermawan dan menjadi tempat bergantung seluruh keluarga besar Ba’alawy di zamannya.


Riwayat Hidup

Kelahiran

Imam Abdullah bin Alwy Ba’alawy dilahirkan sekitar tahun 638–640 H, pada masa kakeknya Al Faqih Al Muqaddam masih hidup — sebuah keistimewaan tersendiri karena beliau sempat tumbuh dalam lingkaran orang-orang agung di generasi awal Ba’alawy.

Wafat

Beliau wafat pada hari Rabu, pertengahan bulan Jumadil Awal tahun 731 H, di usia sekitar 90–95 tahun. Umur panjang beliau diisi dengan ibadah, ilmu, dan pengabdian tanpa henti kepada Allah dan sesama.

Keluarga Beliau

Imam Abdullah meninggalkan tiga orang putra:

  • Muhammad dan Ali — keduanya saudara seibu dari Imam Muhammad Mauladawilah
  • Ahmad bin Abdullah — ibunya adalah sepupu dari ayah beliau

Putra ketiga, Ahmad bin Abdullah, dikenal sebagai sosok yang hampir tidak tidur malam kecuali sedikit saja karena mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Dari Ahmad lahir seorang anak shaleh bernama Muhammad bin Ahmad, yang mendapat julukan Jamalulail karena keindahan ibadah malamnya. Muhammad bin Ahmad dikenal memiliki karamah yang luar biasa dan dimakamkan di kota Qasam. Beliau wafat pada tahun 787 H.


Pendidikan dan Sanad Ilmu

Masa di Mekkah

Imam Abdullah menghabiskan delapan tahun hidupnya di kota Mekkah. Di sanalah beliau menimba ilmu dari para ulama besar, sekaligus menjalani ibadah dengan penuh kesungguhan. Kedatangan beliau di Mekkah membawa berkah yang nyata bagi penduduknya.

Salah satu buktinya adalah beliau memimpin shalat Istisqa (shalat minta hujan) dua kali untuk penduduk Mekkah yang tengah dilanda musim paceklik — dan atas izin Allah, hujan pun turun serta bencana kekeringan terangkat berkat doa beliau.

Kesungguhan beliau dalam beribadah kepada Allah SWT mengantarkan beliau pada anugerah tertinggi: ilmu laduni — ilmu yang diberikan langsung oleh Allah ke dalam hati seorang hamba tanpa perantaraan proses belajar biasa.

Murid-Murid Beliau

Dari tangan Imam Abdullah lahir banyak ulama besar. Di antara murid-murid beliau yang paling menonjol:

  1. Tiga orang putranya — Ali, Muhammad, dan Ahmad
  2. Muhammad Mauladawilah — keponakannya yang sangat beliau cintai
  3. Abu Bakar dan Alwy bin Ahmad — sepupu beliau
  4. Sayyid Muhammad bin Alwy
  5. Syeikh Abdullah bin Al Faqih Ahmad bin Abdurrahman
  6. Syeikh Ali bin Salim (Al Faqih Al Badal)
  7. Syeikh Fadhl bin Muhammad Ba Fadhl
  8. Syeikh Muhammad bin Ali Ba Syuaib Al Anshari
  9. Syeikh Muhammad bin Al Khatib
  10. Syeikh Muhammad bin Abi Bakar Ba Abbad
  11. Syeikh Ahmad bin Ali Al Khatib
  12. Syeikh Abdurrahman bin Muhammad Al Khatib
  13. Syeikh Umar Bawazir — dimakamkan di Al Ghail Al Asfal
  14. Syeikh Khalil bin Umar bin Maimun — penduduk Ahwar
  15. Syeikh Maflah bin Abdullah bin Fahad
  16. Syeikh Bahmaran — dimakamkan di Maifa’ah

Kedermawanan yang Luar Biasa

Salah satu ciri paling menonjol dari Imam Abdullah bin Alwy Ba’alawy adalah kedermawanannya yang tiada tara. Di zamannya, beliau adalah orang yang menanggung nafkah seluruh keluarga besar Bani Alawy beserta para pembantu mereka.

Beliau menyedekahkan hampir seluruh hartanya, menyisakan sebagian untuk keperluan mulia, di antaranya:

  • Sekitar sembilan puluh ribu dinar diwakafkan untuk merenovasi Masjid Ba’alawy dan menjamu para tamu yang datang ke kota Tarim
  • Menyediakan tempat-tempat singgah bagi para musafir di daerah Wasithah
  • Dalam satu majelis, beliau pernah menyediakan uang lima ratus dinar untuk dibagikan

Kedermawanan ini bukan semata karena kekayaan, melainkan cerminan dari hati yang benar-benar telah terlepas dari kecintaan pada materi duniawi.


Keberkahan di Kota Mekkah

Selama delapan tahun menetap di Mekkah, Allah SWT menyebarkan keberkahan Imam Abdullah kepada seluruh penduduk kota suci itu. Dua kali beliau memimpin shalat Istisqa, dan dua kali pula Allah mengangkat musim kekeringan yang menimpa Mekkah.

Ini bukan kebetulan — ini adalah tanda kemuliaan seorang wali yang pengorbanan dan ibadahnya kepada Allah begitu tulus dan kuat hingga doanya menjadi jalan turunnya rahmat bagi orang banyak.


Kesaksian Para Ulama tentang Beliau

Imam Muhammad Mauladawilah

Keponakan sekaligus murid beliau, Imam Muhammad bin Ali Mauladawilah, berkata:

“Aku telah menelusuri sepanjang perjalananku dari Mekkah ke Hadhramaut, dari sekian banyak sosok yang aku jumpai — tak seorang pun yang setingkat dengan pamanku, Syeikh Abdullah Ba’alawy.”

Sayyid Abdurrahman Assegaf bin Muhammad

“Penduduk zaman ini telah sepakat bahwa Syeikh Abdullah Ba’alawy merupakan sisa dari para ulama ahli ijtihad.”

Pengakuan ini sangat berat bobotnya — di zaman yang telah langka ulama mujtahid, beliau diakui sebagai salah satu yang masih layak menyandang predikat tersebut.

Al Faqih Al Badal Ali bin Salim

Salah seorang murid utama beliau, Syeikh Ali bin Salim, berbagi kesaksian tentang kehidupan ibadah sang guru di bulan Ramadhan di Mekkah:

“Bila kami selesai dari shalat Tarawih, masing-masing dari kami shalat dua rakaat dengan membaca seluruh Al-Qur’an di dalamnya. Kami tidak makan malam kecuali setelah selesai shalat — dan buka kami hanya seteguk air atau satu buah kurma saja. Di samping itu aku juga bertadarus Al-Qur’an bersama beliau; tidaklah selesai tadarus melainkan masing-masing telah menyelesaikan setengah Al-Qur’an.”

Bayangkan: shalat dua rakaat dengan khatam Al-Qur’an penuh, berbuka hanya dengan air atau kurma, lalu bertadarus hingga masing-masing selesai setengah Al-Qur’an — demikianlah kualitas ibadah Imam Abdullah bin Alwy Ba’alawy dan orang-orang di sekitarnya.


Kesimpulan

Imam Abdullah bin Alwy Ba’alawy adalah sosok yang memadukan antara ilmu yang luas, ibadah yang kuat, kedermawanan yang tiada batas, dan keberkahan yang dirasakan oleh banyak orang. Beliau bukan hanya ulama dalam pengertian akademik, tetapi juga seorang wali Allah yang hidupnya menjadi rahmat bagi lingkungan sekitarnya — dari keluarga Ba’alawy hingga penduduk kota Mekkah.

Keteladanan beliau dalam bersedekah, beribadah, dan mendidik murid-murid besar menjadikan beliau salah satu pilar penting dalam silsilah keilmuan dan spiritual keluarga Ba’alawy yang terus mengalir hingga hari ini.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker