ULAMA NUSANTARA

KH Abdul Kholiq Hasyim Pahlawan Kemerdekaan Yang Terlupakan

Profil Ulama | KH Abdul Kholiq Hasyim Pahlawan Kemerdekaan Yang Terlupakan

Awal Kehidupan

KH. Abdul Hafidz, lebih dikenal dengan nama KH. Abdul Choliq Hasyim, merupakan cahaya yang lahir di tahun 1916, anak keenam dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah, tokoh-tokoh agung yang telah mendidik dan membimbing langkahnya.

Kepergian Sang Maestro

Di bulan Juni 1965, angin duka berhembus di Pondok Pesantren Tebuireng. KH. Abdul Choliq Hasyim, setelah berjuang melawan penyakit untuk beberapa hari, mengucapkan salam perpisahan terakhir kepada dunia ini.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan murid-muridnya.

Khazanah Kekeluargaan

Pulang ke Indonesia pada tahun 1939, KH. Abdul Choliq berlabuh hati pada Siti Azzah, seorang keponakan dari Kiai Baidhawi, di tahun berikutnya.

Pernikahan mereka dikaruniai seorang buah hati, Abdul Hakam, pada tahun 1942, yang menjadi satu-satunya penjaga warisan keluarga.

Pendidikan dan Pembelajaran

Dibesarkan dan dibimbing langsung oleh tangannya ayahnya, KH. Abdul Choliq kemudian melanjutkan pencarian ilmunya ke Pondok Pesantren Sekar Putih, Nganjuk, diikuti studi di Rembang dan Pati di Jawa Tengah, tidak lupa menimba ilmu dari para ulama terkemuka saat itu, salah satunya adalah Syekh Ali al-Maliki al-Murtadha selama empat tahun tinggal di tanah suci.

Pengabdian Untuk Pesantren Tebuireng

Setelah perjalanan ilmu dan ruhani di Makkah, KH. Abdul Choliq mengunjungi Kiai Wahid Hasyim di Jakarta untuk membahas masa depan kepemimpinan Tebuireng yang saat itu dipegang Kiai Baidlawi.

Bertekad mengembalikan tradisi kepemimpinan, beliau pun menandai suksesi kepemimpinan Tebuireng dengan serah terima dari Kiai Baidhawi.

Berbagai inisiatif dan pembenahan dalam sistem pendidikan dilakukan, termasuk mempertahankan sistem pengajaran kitab kuning dan salaf.

Disiplin dan dihormati, itulah ciri kepemimpinan KH. Abdul Choliq. Beliau juga dipandang memiliki keilmuan kanuragan yang diakui masyarakat, serta kekayaan karomah yang ia warisi dari Kiai Hasyim.

Berbagai kisah karomah telah menjadi bagian dari narasi hikayat yang mengiringi namanya.

Perjuangan Bela Tanah Air

Sebagai anggota PETA, KH. Abdul Choliq aktif berpartisipasi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan berdiri bersama tokoh-tokoh nasional seperti Jenderal Sudirman dan Kiai Wahid Hasyim.

Pengabdian militernya berakhir pada tahun 1952 dengan kesetiaan dan keberanian yang tiada tara.

Kiprah Politik

Ketika berkiprah di kancah politik, KH. Abdul Choliq membentuk AKUI di tahun 1955 dan menetapkan pelarangan aktivitas politik di Tebuireng.

Dengan adanya ketegangan internal antara pendukung Masyumi dan Partai NU, beliau memilih keluar dari politik usai Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan perbedaan pendapat dengan sikap Presiden Soekarno sebagai anggota Konstituante.

Intelektual, pejuang, juga pemimpin rohani, kehidupan KH. Abdul Choliq Hasyim terukir sebagai bangunan sejarah yang memancarkan hikmah dan inspirasi bagi generasi mendatang.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker