ULAMA NUSANTARA

Syekh Hasanuddin Al-Palimbani Sang Panglima Kawah Tekurep

Profil Ulama | Syekh Hasanuddin Al-Palimbani Sang Panglima Kawah Tekurep

Ki Agus Haji Hasanuddin, yang lebih dikenal dengan julukan Syekh Hasanuddin Al-Palimbani, adalah sosok ulama besar yang lahir dari lingkungan Keraton Palembang.

Kehidupan dan kontribusinya menjadi bagian penting dari sejarah intelektual Islam di Nusantara, khususnya di wilayah Palembang.

Asal-Usul dan Silsilah Keluarga

Syekh Hasanuddin merupakan putra dari Khalifah Jakfar, seorang terpelajar yang pernah menuntut ilmu di Timur Tengah dan wafat di Mekkah pada tahun 1715.

Menariknya, nasab Syekh Hasanuddin dari jalur sang ayah memiliki ikatan kuat dengan salah satu tokoh sentral penyebaran Islam di Jawa.

Silsilahnya terhubung langsung dengan Sunan Gunung Jati Cirebon, menjadikannya keturunan dari salah satu Wali Songo yang paling dihormati.

Garis keturunan ini membentang dari Syekh Hasanuddin Al-Palimbani bin Khalifah Jakfar bin Khalifah Gemuk Kgs. Muhammad bin Ki Bodrowongso bin Pangeran Fatahillah Gunung Jati.

Pendidikan dan Pengabdian Intelektual

Setelah menyelesaikan pendidikan awalnya di Palembang, Syekh Hasanuddin melanjutkan studinya ke Timur Tengah.

Di sana, ia berguru kepada ulama-ulama ternama pada masanya, termasuk sang ayah, Khalifah Jakfar.

Di antara guru-gurunya yang lain adalah Syekh Aid bin Ali al-Misri al-Makki, Syekh Abdullah bin Salim al-Basri, dan Ahmad bin Muhammad al-Nakhli.

Selama bertahun-tahun menetap di Mekkah bersama saudara-saudaranya, ia mendalami berbagai disiplin ilmu agama, seperti Hadis, Fikih, Tauhid, Tasawuf, dan Tarekat.

Pengetahuannya yang luas membuatnya dipercaya untuk mengajar di Mekkah, tempat ia menarik banyak murid dari dunia Melayu yang ingin belajar darinya.

Pada sekitar tahun 1740-an, Syekh Hasanuddin memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya, Palembang.

Ia menetap dan mengajar ilmu agama di kawasan Guguk Pengulon yang berada di sekitar Masjid Agung dan Keraton.

Murid-muridnya sangatlah banyak, menunjukkan pengaruh besar yang ia miliki di tengah masyarakat.

Keluarga dan Akhir Hayat

Syekh Hasanuddin menikah dengan Syarifah Habibah binti Khatib Muhammad Jamalullail dan dikaruniai beberapa putra dan putri.

Di antara anak-anaknya yang terkenal adalah Syekh Muhammad Akib, yang kemudian dikenal sebagai Khalifah Tarekat Sammaniyah, serta Kgs. M. Saleh dan Kgs. M. Amin.

Syekh Hasanuddin Al-Palimbani wafat di Palembang dan dimakamkan di kompleks Astana Guba Kawah Tekurep Lemabang.

Makamnya berdampingan dengan makam putranya, Kgs. M. Saleh.

Oleh karena itu, ia juga dikenal dengan sebutan yang unik dan penuh makna: Panglima Kawah Tekurep.

Julukan ini menjadi penanda bahwa sosoknya tak hanya dihormati sebagai ulama, tetapi juga memiliki kedudukan penting dalam sejarah dan tradisi Palembang.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker