
Profil Ulama | Biografi Abu Lueng Ie: Murid Kesayangan Abuya Muda Waly

Teungku H. Usman Al-Fauzy, yang lebih dikenal sebagai Abu Lueng Ie, adalah ulama kharismatik Aceh.
Beliau memiliki peran ganda: sebagai pimpinan dayah, mursyid thariqat Naqsyabandiah, sekaligus tokoh kunci dalam dinamika politik Orde Baru demi menyelamatkan ulama dan syiar agama.
Kisah hidupnya adalah teladan ketawadhuan, ketabahan, dan ijtihad yang visioner.
Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga
Abu Lueng Ie dilahirkan pada tahun 1921 M di Gampong Cot Cut, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar.
Beliau berasal dari kalangan bangsawan Teuku.
Latar belakang ini memungkinkannya mengenyam pendidikan di sekolah favorit pada masa kanak-kanak dan remaja, sehingga wajar jika beliau mampu menguasai banyak bahasa asing, termasuk Inggris.
Gelar “Al-Fauzy” memiliki makna etimologi “kemenangan”.
Namun, gelar ini adalah laqab (julukan kehormatan) yang diberikan oleh gurunya, Abuya Muda Waly, yang bermakna “tembus dari cobaan dan ujian”.
Terinspirasi Abuya Muda Waly
Sebelum mengenal dayah dan Abuya Muda Waly, Abu Lueng Ie muda sehari-hari berprofesi sebagai pedagang di seputaran kota.
Titik Balik dan Keanehan:
Putra beliau, Abon Tajuddin, menceritakan bahwa suatu hari Abuya Muda Waly berpidato di Masjid Raya Baiturrahman, Kutaraja.
Abu Lueng Ie yang saat itu belum mengenal kealiman Abuya, melihat keanehan yang belum pernah dilihatnya:
- Awan melindungi Abuya saat berpidato.
- Raut wajah Abuya sangat bercahaya dengan aura yang mengesankan.
Pengalaman melihat aura menakjubkan dan bersahaja dari sosok Abuya Muda Waly inilah yang menginspirasi Abu Lueng Ie untuk menuntut ilmu ke dayah.
Perjuangan Menuju Dayah:
Keinginannya untuk belajar ke Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan terganjal restu ibu.
Walaupun beliau adalah putra semata wayang, Abu Lueng Ie bersikukuh, bahkan sampai Abuya Muda Waly mengambil sikap tegas bahwa Abu Lueng Ie harus ikut untuk menuntut ilmu di sana, walaupun tanpa restu ibu.
Murid Kesayangan dan Administrator Kepercayaan
Abu Lueng Ie adalah murid kesayangan Al-Mujaddid Abuya Muda Waly Al-Khalidi.
Beliau mendapat gelar Al-Fauzy setelah mampu dan berhasil menjalani bermacam ujian dari sang guru kharismatik.
Jabatan Penting:
Sebagian sumber menyebutkan Abu Lueng Ie adalah pemegang kas dayah dan administrator/orang kepercayaan Abuya dalam mengurusi urusan keuangan dan lainnya, semasa menuntut ilmu di Labuhan Haji selama delapan tahun. (Amiruddin, 2015).
Pelajaran Khusus:
Walaupun sibuk mengurus administrasi, beliau tidak meninggalkan jadwal belajar.
Abuya sering memanggil Abu Lueng Ie dengan sebutan “Ampon” (karena keturunan Teuku).
Untuk kitab tasawuf kelas tinggi seperti Al-Hikam, Abuya hanya mengajarkan kepada murid khusus, termasuk Abu Lueng Ie.
Metafisika:
Terkadang, Abuya mengajak Abu Lueng Ie untuk “menjelajah” dunia metafisika di luar logika manusia dengan media tertentu.
Mendirikan Dayah Darul ‘Ulum dan Penyebar Thariqat
Setelah delapan tahun di Labuhan Haji, Abu Lueng Ie sempat menjadi guru di Dayah Kalee, Pidie, selama tiga tahun, dan kemudian di Dayah Lam Ateuk.
Namun, karena keinginan kuatnya, beliau mendirikan dayah sendiri sekitar tahun 1960, yang diberi nama Darul ‘Ulum (Kampung Ilmu), yang kemudian dikenal sebagai Darul ‘Ulum Abu Lueng Ie.
Mursyid Thariqat Naqsyabandiah:
Selain sebagai pimpinan dayah, Abu Lueng Ie juga merupakan Mursyid dalam Thariqat Naqsyabandiyyah.
Beliau sangat giat menyebarkan thariqat ini ke seantero Aceh (Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, dll.).
Konsep Dakwah:
Konsep dakwah beliau adalah mengajarkan ilmu syariat (fikih, tauhid, tasawuf) sekaligus mengimplementasikan nilai amaliah dengan bertawajuh.
Menurut putranya, Abon Tajuddin, pengajian tanpa tawajuhan (praktik zikir thariqat) dianggap kurang lengkap.
Majelis Taklim Umum:
Setiap Selasa, beliau membuka pengajian umum di dayah Lueng Ie, Kecamatan Krueng Barona Jaya.
Jamaah yang hadir sangat banyak, bahkan dari luar daerah.
Keteladanan dan Karakter:
Tawadhu’ dan Sabar:
Sifat tawadhu’ beliau menjadikan beliau ulama berkarakter arifbillah.
Pernah tempat wudu (kulah) santri dilempari kotoran manusia, tetapi beliau merespons dengan penuh kesabaran.
Berkat kealiman dan kesabaran beliau, “Ie kulah Abu Lueng Ie jeut keu ubat penawa” (Air kulah Abu Lueng Ie dapat menjadi penawar/obat).
Rabitah dengan Guru:
Abu Lueng Ie sering mutala’ah dan berzikir di kamar khusus, meskipun memiliki rumah.
Hal ini merupakan upaya mengimplementasikan nilai rabitah, ikatan batiniah dengan sang guru, Abuya Muda Waly, dengan meneladani kebiasaan Abuya (seperti berzikir, mutala’ah, dan beristirahat).
Veteran dan Ijtihad Politik di Era Orde Baru
Abu Lueng Ie dikenal pula sebagai veteran pada masa penjajahan, bertugas mengawal para ulama pada acara penting.
Ijtihad Politik Penyelamatan:
Di tengah kekuasaan Orde Baru di bawah Partai Golkar, ulama yang dianggap “berbahaya” sering diintimidasi, ditangkap, atau diasingkan.
Abu Lueng Ie, sebagai ulama kunci dan mursyid, mengambil keputusan kontroversial: masuk ke Partai Golkar.
Tujuan Mulia:
Ijtihad beliau ini bukan untuk tujuan duniawi, melainkan sebagai cara untuk menyelamatkan agama, Thariqat Naqsyabandiah, dan lampu umat (para ulama) saat itu.
Langkah Strategis:
Setelah meminta jaminan kepada partai lain (seperti PPP, yang beliau ikuti sebelumnya melalui Perti) namun tidak berhasil, Abu Lueng Ie memutuskan masuk Golkar.
Beliau meyakini keputusan ini diambil melalui istikharah dan “kontak” batin dengan gurunya, Abuya Muda Waly.
Bertemu Soeharto:
Abu Lueng Ie berhasil menghadap Soeharto (Presiden saat itu) dan menjelaskan keinginannya untuk menyelamatkan agama, tarekat, dan para ulama.
Dampak Ijtihad:
Meskipun keputusan ini menyebabkan Abu Lueng Ie dicaci dan dicela masyarakat, serta mengakibatkan jumlah santri di dayah beliau merosot tajam, ijtihad ini dinilai berhasil:
Penyelamatan Ulama:
Abu Lueng Ie berhasil menjadi “tokoh kunci” Aceh dengan pemerintah Orde Baru, dan berhasil membebaskan ulama kharismatik yang ditangkap dan diintimidasi, termasuk Abon Aziz Samalanga, Abu Tanoh Merah, Teungku Muhammad Dewi, dan ulama besar lainnya.
Kelangsungan Ilmu:
Dengan selamatnya ulama-ulama tersebut (berkat rekomendasi Abu Lueng Ie), mereka mampu melanjutkan peran Abu Lueng Ie untuk seumeubeut (mengajar) dan mendidik santri dalam jumlah banyak.
Abon Tajuddin berpendapat, jika Abu Lueng Ie tidak masuk Golkar, ulama kharismatik seperti Abon Aziz Samalanga mungkin tidak akan selamat, dan ulama penerus seperti Abu Mudi tidak akan lahir.
Karamah Kewalian
Salah seorang istri beliau (Ummi Abon Tajuddin) pernah mengintip aktivitas zikir Abu di kamar khusus.
Ia melihat Abu Lueng Ie duduk di atas cahaya yang tidak rata dengan lantai—disebabkan zikir beliau yang sangat tinggi.
Peristiwa ini menyadarkan istrinya akan karamah dan kewalian Abu Lueng Ie, yang kemudian berpesan kepada anaknya:
“Tajuddin, beu kateupeu, Abukah nyan auliya, bek sagai-sagai kalawan kheun Abu”
(Tajuddin, kamu harus tahu, ayahmu itu auliya, jangan sekali-kali kamu bantah nasihat Abu).
Kesimpulan: Ijtihad ulama mursyid seperti Abu Lueng Ie dalam berpolitik, meskipun tampak kontroversial, memiliki dimensi keilmuan tinggi (ziadah ilmu dan makrifah) dan tujuan mulia demi keselamatan syiar Islam dan umat.





One Comment