
Profil Ulama | Biografi Sulthonul Ulama Imam Izzuddin bin Abdissalam

Imam Izzuddin bin Abdissalam, yang bergelar “Sulthonul Ulama'” (Raja dari Para Ulama), adalah salah satu ulama terbesar Mazhab Syafi’i pada abad ke-7 Hijriah.
Beliau terkenal karena ketegasan, keberanian dalam amar ma’ruf nahi mungkar di hadapan penguasa, serta perannya sebagai intelektual kunci di balik kemenangan Perang Ain Jaluth melawan invasi bangsa Mongol (Tartar).
Identitas dan Kelahiran
Nama Lengkap: Abu Muhammad Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam bin Abul Qosim bin Al-Hasan bin Muhammad bin Muhadzdzab As-Sulmi Al-Maghrobi Ad-Damasyqi Al-Mishri Asy-Syafi’i.
Kunyah: Abu Muhammad.
Kelahiran: Lahir di Damaskus, Syiria, pada tahun 577 H (atau 578 H).
Asal-Usul: Beliau berasal dari keluarga miskin dan keturunan biasa (bukan dari ulama, orang terpandang, atau pemimpin).
Syaikh Ibnu As-Subki mengisahkan bahwa karena kefakiran, beliau baru mulai menuntut ilmu pada usia tua.
Nisbat:
As-Sulmi (dari kabilah Bani Sulaim, kabilah-kabilah Mudhor).
Al-Maghrobi (nenek moyang berasal dari Maghrib/Maroko).
Ad-Damasyqi (lahir di Damaskus).
Al-Mishri (pindah dan menetap di Mesir).
Asy-Syafi’i (pengikut Mazhab Syafi’i, meskipun terkadang memiliki pendapat yang berseberangan).
Gelar Kehormatan (Laqob)
Izzuddin (Kebanggaan Agama): Nama beliau sering disingkat Al-‘Izz bin Abdussalam.
Sulthonul Ulama’ (Sultan/Raja dari Para Ulama’): Dipopulerkan oleh muridnya, Imam Ibnu Daqiq Al-’Id.
Gelar ini disematkan karena keberanian beliau menentang kebijakan pemerintah yang tidak sejalan dengan syariat.
Pendidikan dan Guru-Guru
Meskipun terlambat memulai, Imam Izzuddin menunjukkan ketekunan yang luar biasa untuk menebus masa kecilnya.
Dedikasi: Beliau terkenal jarang tidur di malam hari.
Beliau pernah berkata bahwa selama 30 tahun beliau tidak tidur sebelum benar-benar memahami kitab yang sedang beliau pelajari.
Prinsip Belajar: Beliau tidak mau memutuskan pelajaran sebelum menyelesaikannya.
Diceritakan, bahkan ketika gurunya berkata, “Engkau sudah tidak membutuhkan apa-apa dariku lagi”, beliau tetap mengaji sampai kajian kitab selesai.
Lingkungan: Beliau tumbuh di Damaskus yang saat itu merupakan pusat ulama masyhur.
Guru-Guru Utama:
Al ‘Amidi
Al-Qodhi Abdus Shomad Al-Harostani
Syaikh Saifuddin Al-Amidi
Imam Fakhruddin bin ‘Asakir
Syaikh Al-Qosim bin ‘Asakir
Al-Hafidz Baha’uddin Abu Muhammad Al-Qosim bin Al-hafidh Al-Kabir Abul Qosim bin Asakir
Syaikh Abdullathif bin Syaikhus Syiuyukh
Syaikh Al-Khusyu’I
Syaikh Hanbal Ar-Rushofi
Syaikh Umar bin Thobarzad
Karier Intelektual dan Kegigihan Berfatwa
Setelah menimba ilmu, Imam Izzuddin berkarir sebagai pengajar, mufti (pemberi fatwa), dan khatib.
1. Mengajar
Beliau mengajar di Damaskus, antara lain di:
Madrasah Al-‘Aziziyah.
Zawiyah Al-Ghozaliyah (pojokan Masjid Jami’ Al-Umawi yang pernah dipakai Imam Ghozali ber-i’tikaf).
Beliau ditetapkan Sultan Al-Kamil sebagai pengajar menggantikan Syaikh Jamaluddin bin Muhammad Ad-Daula’i yang wafat.
2. Berfatwa (Tanggung Jawab Moral)
Berfatwa pada masa beliau adalah tanggung jawab moral ulama yang ahli, wira’i (sangat hati-hati), dan bertakwa.
Ketegasan beliau menentang penguasa sangat terpengaruh oleh gurunya.
- Menentang Sultan Al-Asyraf (Masalah Aqidah)
Beliau menolak tekanan sultan tentang hakikat Al-Qur’an dan menulis kitab “Milhatul I’tiqod”.
Sultan marah dan menghukum beliau dengan 3 larangan: fatwa, bertemu siapapun, dan keluar rumah.
Beliau justru menganggapnya nikmat yang wajib disyukuri (Sultan member keputusan itu karena marah sedangkan aku yang menerimanya malah senang).
Larangan dicabut setelah ulama Hanafi, Syaikh Al-Allamah Jamaluddin Al-Hushoiri, bersaksi bahwa fatwa beliau benar.
Sultan Al-Asyraf kemudian meminta maaf, menuruti fatwa, dan bahkan meminta nasihat beliau menjelang wafat.
Imam Izzuddin menolak hadiah 1000 dinar Mesir dari Sultan.
- Menentang Sultan Ismail (Bantuan Tentara Salib)
Beliau menentang keras kebijakan Sultan Ismail yang bersekongkol dengan tentara Salib untuk melawan Sultan Mesir, Najmuddin Ayyub.
Beliau berfatwa diharamkan menjual alat-alat perang kepada tentara Salib karena akan digunakan untuk memerangi sesama Muslim.
- Sultan Najmuddin Ayyub (Menutup Kedai Khamr)
Beliau pernah mendatangi istana Sultan dan menegur keras,
“Hai Ayyub, apa hujjahmu di depan Allah bila Dia bertanya padamu,’bukankah Aku telah memberikanmu kekuasaan di Mesir, lalu kenapa kamu menjual Khamar.’”
Beliau meminta Sultan menutup kedai itu, yang akhirnya dilakukan Sultan.
Ketika ditanya mengapa tidak takut, beliau menjawab,
“Aku menghadirkan ketakutan pada Allah, serta merta sultan bagaikan kucing di hadapanku.”
3. Menjadi Khatib
Beliau menjadi khatib di Masjid Jami’ Al-Umawi (mulai Rabi’ul Awwal 637 H) di masa Sultan Ismail.
- Menghilangkan Bid’ah
Beliau menghilangkan bid’ah dalam khutbah seperti mengetokkan pedang ke mimbar, memakai pakaian hitam, menggunakan kalimat yang dipaksakan indahnya, dan pujian kepada sultan.
- Doa Sindiran
Beliau menyindir Sultan Ismail yang bersekongkol dengan Salib melalui doanya:
“Ya Allah, kuatkanlah umat ini dengan aturan yang benar, yang akan memuliakan kekasihMu dan merendahkan musuhMu, mengamalkan ketaatan kepadaMu dan mencegah berbuat maksiat kepadaMU.”
Doa ini membuatnya diberhentikan dan ditahan sementara, sebelum akhirnya beliau dilepaskan dan pergi ke Baitul Maqdis lalu pindah ke Mesir.
Ulama Sufi dan Mujahid
Perjalanan Sufi dan Karomah
- Awal Pengingkaran
Awalnya beliau mengingkari jalan sufi dengan komentar,
“Apakah wusul (sampai) kepada Allah SWT bisa ditempuh dengan selain Al Qur’an dan As Sunnah”.
- Murid Syaikh As-Syadzily
Setelah berguru kepada Syaikh Abu Hasan As-Syadzily dan memakai pakaian tasawuf dari al-Syihab al-Sahrawarai, beliau merasakan apa yang dialami para sufi.
- Karomah dan Pembenaran
Beliau dianugerahi karomah (khowariqul Adah), di mana beliau mampu mematahkan rantai yang terbuat dari besi dengan hanya menggunakan secarik kertas.
Karomah ini membuatnya membenarkan dan memuji para sufi setinggi langit.
- Keseimbangan
Walaupun dikenal keras, beliau menghadiri majelis dzikir ahli tasawuf dan berjoget bersama mereka.
Syaikh Abu Hasan As-Syadzily berkata,
“Tidak ada di muka bumi ini suatu majlis fikih yang lebih utama dibandingkan majlisnya Syaikh Izzuddin bin Abdissalam.”
Peran Kunci dalam Jihad (Ain Jaluth)
- Ancaman Tartar
Ketika tentara Tartar (Mongol) menghancurkan Baghdad dan mengincar Syam dan Mesir, penguasa bersiap untuk jihad, tetapi kas negara nyaris ludes.
- Fatwa Pajak Jihad
Imam Al-Izzu berfatwa lantang:
“Jika dana baitul mal nyaris habis… sedangkan kondisi para pejabat sama dengan kondisi rakyatnya, maka tidak masalah menarik pajak. Sebab pajak itu untuk melawan musuh, rakyat wajib memberikan hartanya, bahkan jiwanya.”
- Kemenangan Ain Jaluth
Beliau menjadi tokoh intelektual di balik aksi jihad dan turut serta menghadang tentara Tartar.
Kaum Muslimin berhasil mematahkan serangan Tartar pada 5 Ramadhan 658 H (1260 M) di Ain Jaluth, sebuah kemenangan yang berhasil merebut kembali Irak dan Uzbekistan.
Wafat dan Warisan Keilmuan
- Penerus (Murid-Murid)
Abdul Lathif Ibnu Izzuddin (putra beliau)
Ibnu Daqiqil’id
‘Alauddin Abu al-Hasan al-Baji
- Wafat
Beliau wafat di Mesir pada tahun 660 H.
- Pemakaman
Dimakamkan di pekuburan al-Qarrafah al-Kubra, Mesir.
- Karier Akhir
Setelah mengundurkan diri sebagai Qadhi (Hakim), beliau diangkat sebagai guru di Madrasah Shalihiyyah.
- Karya-Karya Fenomenal
Beliau termasuk ulama yang disebut “ilmunya lebih banyak daripada karyanya”.
Karya-karya utamanya:
Al-Qawaid Al-Kubro
Al-Qawaid As-Shughra (dikenal sebagai Qawaidhul Ahkam fi Masalihil Anam)
Al-Imamah fi Adillatil Ahkam
Al-Fatawa Al-Misriyah
Al-Fatawa Al-Maushuliyah
Majaz Al-Qur’an
Syajarah Al-Ma’arif
At-Tafsir
Al-Ghayah fi Ikhtishar An-Nihayah
Mukhtasar Shahih Muslim









One Comment