
Al-Biruni, atau nama lengkapnya Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Biruni, adalah salah satu ilmuwan terbesar sepanjang sejarah peradaban Islam. Hidup pada abad ke-11, beliau menguasai puluhan disiplin ilmu sekaligus — dari astronomi, matematika, fisika, geografi, hingga filsafat dan agama. Pencapaian terbesarnya adalah menghitung keliling bumi dengan akurasi 99,62 persen, sebuah prestasi luar biasa yang dilakukan tanpa teknologi modern.
Profil Singkat Al-Biruni
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Nama Lengkap | Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Biruni |
| Lahir | 973 M (362 H), Khawarizm (kini Uzbekistan) |
| Wafat | 1048 M (440 H), Ghazna |
| Bidang Ilmu | Astronomi, Matematika, Geografi, Fisika, Filsafat, Sejarah, Agama |
| Karya Terkenal | Tarikh al-Hind, Al-Qanun Al-Mas’udi, Tahdid Nihayat al-Amakin |
| Prestasi Utama | Orang pertama yang menghitung keliling bumi |
Kelahiran dan Masa Kecil
Al-Biruni lahir pada tahun 973 M (362 H) di Khawarizm, sebuah kota di Asia Tengah yang kini menjadi bagian dari wilayah Uzbekistan. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan yang luar biasa terhadap matematika dan astronomi — dua bidang yang kelak menjadi fondasi pencapaian ilmiahnya yang mengubah sejarah.
Perjalanan Hidup yang Penuh Gejolak
Kehidupan Al-Biruni tidak selalu mudah. Pada masa itu, nasib seorang ilmuwan Muslim sangat bergantung pada dukungan penguasa. Jika seorang khalifah atau sultan mendukungnya, kehidupan dan penelitiannya terjamin. Jika tidak, ia harus pindah mencari pelindung baru.
Meninggalkan Khawarizm
Ketika Dinasti Ma’muni mengalahkan Dinasti Banu Irak dan menguasai Khawarizm pada 995 M, Al-Biruni terpaksa meninggalkan kota kelahirannya karena merasa nyawanya terancam. Saat itu, ia sudah berhasil menulis sebuah kitab tentang Kartografi (ilmu peta).
Di Kota Rayy (Dekat Teheran)
Al-Biruni kemudian pindah ke kota Rayy, yang kini berada di dekat Teheran, Iran. Rayy adalah salah satu pusat astronomi terkemuka saat itu. Sayangnya, penguasa Rayy, Fakhrul Daulah, menolak mengajaknya bekerja di istana. Meski begitu, selama di Rayy Al-Biruni tetap produktif dan berhasil menyelesaikan kitab Tahdid Nihayat al-Amakin — sebuah karya tentang penentuan letak geografis dan jarak antar kota.
Di Gorgon: Masa Keemasan Pertama
Penolakan di Rayy tidak mematahkan semangatnya. Al-Biruni pindah ke Gorgon, di mana penguasanya, Syamsul Ma’ali Qabus, justru menyambutnya dengan hangat. Di sinilah Al-Biruni benar-benar bisa memaksimalkan potensinya: banyak membaca, menulis, melakukan perjalanan untuk memetakan garis lintang, dan menganalisis peristiwa-peristiwa langit seperti gerhana bulan. Beberapa karyanya lahir di sini, termasuk Kitab Sisa Pengaruh Masa Lampau dan Risalah Tajrid al-Sha’at.
Kembali ke Khawarizm
Al-Biruni akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah Abul Hasal Ali, penguasa Dinasti Ma’muni yang baru, mengundangnya. Berbeda dari pendahulunya, Abul Hasal Ali memiliki visi besar untuk mengumpulkan para ilmuwan terbaik di istananya.
Di Bawah Naungan Dinasti Ghaznawi
Gejolak politik kembali datang ketika Dinasti Ghaznawi menaklukkan Dinasti Ma’muni. Al-Biruni pun dibawa ke istana Mahmud Ghaznawi. Namun ini ternyata justru menjadi babak terbaik dalam hidupnya — penguasa Ghaznawi sangat menghargai ilmuwan dan memberikan Al-Biruni dukungan penuh untuk terus berkarya. Di sinilah lahir karya-karya monumental terbesar Al-Biruni.
Al-Biruni sebagai Ilmuwan Eksperimentalis
Yang membedakan Al-Biruni dari ilmuwan lain pada zamannya adalah sikapnya yang kritis dan eksperimentalis. Ia tidak menerima begitu saja teori-teori yang sudah ada — ia selalu menguji ulang dan membuktikannya sendiri.
Mengoreksi Teori Aristoteles
Contohnya, Aristoteles berpendapat bahwa penglihatan terjadi karena sinar yang memancar keluar dari mata menuju benda. Al-Biruni tidak setuju. Melalui penelitian, ia membuktikan bahwa penglihatan sebenarnya terjadi karena cahaya dari benda yang memantul dan masuk ke dalam mata — yang kini kita tahu sebagai pemahaman yang benar secara ilmiah.
Menciptakan Astrolabe yang Lebih Canggih
Al-Biruni juga tidak puas hanya menggunakan alat-alat yang sudah ada. Ketika Abu Sa’id Sijzi telah menciptakan Astrolabe heliosentris yang dinilai akurat, Al-Biruni tetap mengembangkan versinya sendiri. Astrolabe buatannya, yang diberi nama al-Ustawani, tidak hanya mampu mengukur gerak benda-benda langit, tetapi juga bisa digunakan untuk mengukur lokasi yang sulit dijangkau, termasuk ketinggian gunung.
Prestasi Terbesar: Menghitung Keliling Bumi
Pencapaian paling fenomenal Al-Biruni adalah menjadi orang pertama dalam sejarah yang menghitung keliling bumi — dan itu dilakukannya pada abad ke-11, di saat perdebatan tentang apakah bumi itu bulat atau datar masih ramai terjadi.
Bagaimana Al-Biruni Melakukannya?
Al-Biruni menggunakan pendekatan trigonometri yang dikombinasikan dengan Astrolabe al-Ustawani buatannya. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
- Meyakini bumi berbentuk bulat — dari keyakinan ini ia memulai perhitungannya untuk mencari jari-jari bumi.
- Memanfaatkan nilai phi (π) yang sebelumnya sudah ditemukan oleh ilmuwan Muslim lainnya, Al-Khawarizmi.
- Mengukur ketinggian sebuah gunung (diperkirakan berada di India atau Pakistan) menggunakan Astrolabe-nya, dengan mengarahkan alat ke dua titik berbeda di daratan, lalu menghitung menggunakan rumus tangen.
- Menghitung jari-jari bumi dengan membuat garis imajiner 90 derajat dari puncak gunung ke titik cakrawala, membentuk sebuah segitiga siku-siku raksasa antara posisinya, titik horizon, dan inti bumi.
- Menghitung keliling bumi menggunakan rumus keliling lingkaran.
Hasilnya: Nyaris Sempurna
Dari perhitungannya, Al-Biruni mendapatkan angka jari-jari bumi sekitar 6.335–6.339 km, dan keliling bumi sebesar 40.075 km.
Bandingkan dengan perhitungan modern: 40.075,071 km.
Artinya, perhitungan Al-Biruni hanya meleset kurang dari 1 persen dari nilai yang kita ketahui sekarang — dengan akurasi yang mencapai 99,62 persen. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk ukuran abad ke-11.
Karya-Karya Monumental Al-Biruni
Selama hidupnya, Al-Biruni menghasilkan ratusan karya tulis. Berikut beberapa yang paling berpengaruh:
| Judul Karya | Bidang |
|---|---|
| Tarikh al-Hind (Sejarah India) | Sejarah & Budaya |
| Al-Qanun Al-Mas’udi | Astronomi & Matematika |
| Tahdid Nihayat al-Amakin | Geografi & Kartografi |
| Masamiri Khawarizm (Revolusi Khawarizm) | Sejarah |
| Kitab Pemahaman Puncak Ilmu Bintang | Astronomi |
| Kitab Layl wa al-Nahar (Kitab Malam dan Siang) | Astronomi |
| Kitab Bahan Obat | Farmasi & Kedokteran |
| Kartografi | Ilmu Peta |
| Risalah Tajrid al-Sha’at | Astronomi |
Wafat dan Warisan Ilmiah
Al-Biruni wafat pada tahun 1048 M (440 H) di kota Ghazna, pada usia sekitar 75 tahun. Namun warisan ilmiahnya hidup jauh melampaui zamannya.
Ia membuktikan bahwa ilmuwan Muslim abad pertengahan tidak hanya menjadi penyalin ilmu dari Yunani, tetapi juga pencipta dan pembaruan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Semangat kritis, keberanian bereksperimen, dan kecintaannya pada kebenaran menjadikan Al-Biruni salah satu tokoh sains terpenting dalam sejarah umat manusia.








