ULAMA NUSANTARA

KH Dimyathi (Mbah Dimyathi) Ulama Pendiri NU Rembang Timur

KH. Dimyathi atau Mbah Dimyathi adalah ulama kharismatik asal Rembang yang nyantri 19 tahun di Jawa dan Makkah, mendirikan pesantren dengan 1000 santri, dan menjadi salah satu pendiri NU di wilayah Rembang Timur.


Siapa Mbah Dimyathi?

KH. Dimyathi, yang akrab dipanggil Mbah Dimyathi, lahir sekitar tahun 1880 di Rembang, Jawa Tengah. Beliau adalah putra pertama dari pasangan KH. Muslim dan Mbah Siti Jiddah, dan memiliki seorang adik kandung bernama KH. Ma’shum yang kelak juga menjadi ulama besar.

Mbah Dimyathi adalah sosok ulama yang menggabungkan kedalaman ilmu agama, semangat dakwah, dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Namanya harum di seantero Kecamatan Sedan dan wilayah Rembang Timur sebagai penyebar Islam, pengasuh pesantren, sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama di wilayah Rembang Timur.


Perjalanan Panjang Menuntut Ilmu

Mbah Dimyathi adalah tipikal ulama yang tidak puas belajar di satu tempat saja. Beliau menempuh perjalanan ilmiah yang panjang selama hampir dua dekade sebelum kembali mengabdi kepada masyarakat.

Nyantri di Tanah Jawa

  • Pondok Pesantren Sarang, Rembang — Beliau mengaji di sini selama 10 tahun penuh, mendalami berbagai cabang ilmu agama.
  • Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang — Dilanjutkan selama 3 tahun, berguru langsung kepada ulama besar Hadratussyekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari — tokoh pendiri Nahdlatul Ulama.

Menuntut Ilmu di Makkah Al-Mukarramah

Setelah 13 tahun belajar di Pulau Jawa, Mbah Dimyathi melanjutkan pengembaraannya ke Makkah Al-Mukarramah selama 6 tahun. Di sana, beliau tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga mengajar. Di sela waktu senggangnya, beliau tekun nderes — membaca dan mengulang-ulang kitab-kitab hingga benar-benar dikuasai.

Salah satu santri beliau di Makkah adalah Sayyid Hamzah Asy-Syatho, yang makamnya kini berada di Desa Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang.


Mendirikan Pesantren dan Masjid di Gandrirojo

Sekembalinya dari Makkah, Mbah Dimyathi menetap di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang dan segera mendirikan sebuah masjid kecil berbahan kayu joglo sebagai pusat pengajian santri-santrinya.

Kisah Masjid yang Dibangun Santri dari Makkah

Beberapa tahun kemudian, Sayyid Hamzah Asy-Syatho — santri beliau semasa di Makkah — datang berkunjung ke Gandrirojo untuk menengok gurunya. Melihat masjid kayu yang sederhana itu, Sayyid Hamzah merasa tidak rela. Bagi beliau, seorang ulama sebesar Mbah Dimyathi layak memiliki masjid yang lebih megah.

Dengan izin Mbah Dimyathi, Sayyid Hamzah Asy-Syatho pun berjuang keras mewujudkan impian itu. Hasilnya adalah Masjid Jami’ Desa Gandrirojo yang berdiri megah hingga hari ini — diapit oleh dua pondok pesantren: pondok asuhan KH. Sahlan M Nur di sebelah selatan, dan pondok asuhan KH. Fahrurrozi (alm.) di sebelah utara.

Masjid ini adalah salah satu warisan fisik Mbah Dimyathi yang masih bisa disaksikan hingga sekarang, dengan arsitektur kuno yang khas dan kokoh.


Pesantren dengan Seribu Santri

Pada masa kejayaannya, pesantren Mbah Dimyathi menjadi magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai penjuru daerah. Tercatat hampir 1.000 santri pernah belajar di bawah bimbingan beliau. Rumah beliau pun dibuat sekat-sekat kamar khusus untuk menampung para santri yang menginap.

Kitab-kitab yang diajarkan mencakup seluruh aspek ilmu agama Islam: fiqih, tasawuf, hingga tauhid.

Di antara santri-santri beliau yang kemudian menjadi ulama berpengaruh antara lain: KH. Mawardi Gandrirojo, KH. Ghozali Gandrirojo, KH. Dahlan Blora (Syuriah PCNU Blora), Mbah Basyir Kajen, KH. Tamlihan Pamotan, KH. Sidiq Narukan, KH. Marzuki Sendangwaru, KH. Suyuti Menoro, KH. Maskur Jambeyan, KH. Shodiq Ngroto, dan masih banyak lagi.

Cerita Unik: Santri dari Kalangan Jin

Dikisahkan pula bahwa Mbah Dimyathi memiliki santri dari kalangan jin — bekas penghuni tanah yang kini menjadi lokasi masjid. Sebagian jin yang menolak ajakannya untuk memeluk Islam pergi meninggalkan tempat itu, sementara sebagian lainnya mengikuti ajakan beliau masuk Islam. Kisah ini menjadi salah satu cerita yang hidup di kalangan masyarakat Gandrirojo hingga kini.


Dakwah Keliling Desa

Selain mengajar di pesantren, Mbah Dimyathi dikenal aktif berdakwah keliling desa di wilayah Kecamatan Sedan dan sekitarnya. Beliau berkeliling menggunakan dokar (delman) untuk menyampaikan nasihat dan syiar Islam kepada masyarakat.

Kemampuan beliau berbicara sangat memukau — bahasa yang digunakan terasa enak di telinga dan mudah dipahami, sehingga masyarakat yang didatanginya selalu terkagum-kagum.

Kisah Gendang yang Ditendang

Salah satu cerita dakwah Mbah Dimyathi yang paling terkenal adalah saat beliau bertemu dengan rombongan joget (tarian Melayu tradisional) di perempatan desa. Tanpa banyak bicara, beliau langsung menendang kendang milik pemain joget itu seraya berkata:

“Lereni nang mire!” — “Berhenti dan bubar!”

Seketika penonton bubar dan para pemain joget pun pergi tanpa sepatah kata pun. Kisah ini menggambarkan betapa besar wibawa dan kharisma yang dimiliki Mbah Dimyathi di mata masyarakat.


Hubungan dengan KH. Hasyim Asy’ari dan Peran di NU

Kedekatan Mbah Dimyathi dengan KH. Hasyim Asy’ari bukan hanya hubungan guru dan murid biasa. KH. Hasyim Asy’ari bahkan dua kali berkunjung langsung ke kediaman Mbah Dimyathi di Desa Gandrirojo:

  1. Kunjungan pertama — Karena penasaran dengan sosok Mbah Dimyathi yang dikenal kharismatik dan alim.
  2. Kunjungan kedua — Sekitar tahun 1927/1928 M, KH. Hasyim Asy’ari mengajak Mbah Dimyathi untuk menghadiri sebuah pertemuan penting di Blora. Mereka berangkat bersama, ditemani adik kandung Mbah Dimyathi, yaitu Mbah Ma’shum.

Dari sinilah peran besar Mbah Dimyathi dalam organisasi NU semakin nyata. Beliau tercatat sebagai salah satu pendiri NU di wilayah Rembang Timur. Bersama adiknya, Mbah Ma’shum, beliau juga pernah dipercaya mengemban amanah sebagai kepala bidang ekonomi di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).


Warisan Mbah Dimyathi

Meskipun telah wafat lebih dari satu abad yang lalu, jejak perjuangan Mbah Dimyathi masih terasa jelas hingga hari ini:

  • Masjid Jami’ Desa Gandrirojo yang berdiri megah sebagai pusat ibadah masyarakat
  • Jaringan ulama alumni pesantrennya yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Tengah
  • Tradisi keilmuan pesantren yang tetap hidup di Kecamatan Sedan, Rembang
  • Peran historis sebagai pendiri NU di Rembang Timur yang tak tergantikan

Kesimpulan

KH. Dimyathi (Mbah Dimyathi) adalah sosok ulama yang menggabungkan kedalaman ilmu, keberanian dakwah, dan loyalitas organisasi dalam satu perjalanan hidup yang luar biasa. Dari Rembang ke Tebuireng, dari Tebuireng ke Makkah, dan kembali ke Rembang untuk mengabdi — beliau adalah salah satu pilar Islam Nusantara yang layak dikenal dan diteladani oleh generasi Muslim Indonesia.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker