
Mengenal KH. Hasan Gipo, Ketua Tanfidziyah pertama Nahdlatul Ulama yang terlahir dari dinasti Gipo Surabaya — tokoh pemberani yang berkenalan dengan Soekarno hingga menantang tokoh PKI di atas rel kereta api.
Siapa KH. Hasan Gipo?
KH. Hasan Basri, yang lebih dikenal dengan panggilan H. Hasan Gipo, adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah awal Nahdlatul Ulama (NU). Ia tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah pertama NU — jabatan yang setara dengan ketua umum pelaksana organisasi — sekaligus sosok yang memiliki keunikan langka di zamannya: menguasai ilmu agama sekaligus pendidikan modern ala Belanda.
Namun selama bertahun-tahun, namanya nyaris terlupakan dari catatan sejarah NU. Baru pada 2015, makam dan identitasnya kembali ditemukan dan diakui.
Kelahiran dan Asal-Usul Keluarga
H. Hasan Gipo lahir di Kampung Sawahan, Surabaya, pada tahun 1869, tepatnya di Jalan Ampel Masjid yang kini dikenal sebagai Jalan Kalimas Udik. Ia berasal dari keluarga terpandang yang dikenal dengan sebutan “Marga Gipo”.
Nama “Gipo” sendiri bukan sekadar nama keluarga biasa. Ia merupakan singkatan dari Sagipodin, yang berasal dari bahasa Arab Saqifuddin — gabungan dari kata Saqaf (pelindung) dan al-dien (agama). Jadi secara harfiah, nama ini bermakna “pelindung agama”.
Silsilah Lima Generasi Dinasti Gipo
H. Hasan Gipo merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo. Berikut urutan silsilahnya:
| Generasi | Nama |
|---|---|
| Generasi 1 (Canggah) | Abdul Latief Sagipuddin (pendiri dinasti, memiliki 12 anak) |
| Generasi 2 (Buyut) | H. Turmudzi |
| Generasi 3 (Kakek) | H. Alwi |
| Generasi 4 (Ayah) | H. Marzuki |
| Generasi 5 | H. Hasan Gipo |
Menariknya, dari pohon keluarga yang sama, lahir pula tokoh besar Muhammadiyah, yaitu KH. Mas Mansur — yang masih keturunan Abdul Latief Gipo. Artinya, akar keluarga Sagipodin mengalir di dua organisasi Islam terbesar Indonesia: NU dan Muhammadiyah.
Pendidikan: Santri Sekaligus Terdidik Ala Belanda
Terlahir dari keluarga dengan ekonomi mapan, H. Hasan Gipo berkesempatan mengenyam pendidikan formal gaya Belanda — sesuatu yang sangat langka bagi masyarakat pribumi kala itu. Namun pendidikan modern ini tidak membuat jiwa kesantrenannya pudar. Ia tetap mendalami ilmu agama dan kehidupan pesantren.
Perpaduan dua dunia inilah yang membuatnya menjadi sosok langka dan sangat dibutuhkan oleh para kiai pendiri NU. Di lingkungan KH. Wahab Hasbullah, ia dikenal sebagai satu-satunya orang yang cakap membaca dan menulis huruf Latin — kemampuan yang sangat krusial untuk urusan administrasi dan komunikasi organisasi dengan pemerintah kolonial.
Di sisi lain, keluarganya juga memegang kendali ekonomi di kawasan bisnis Pabean, salah satu pusat perdagangan penting di Surabaya.
Dipilih Sebagai Ketua Tanfidziyah NU Pertama
Ketika Nahdlatul Ulama sedang dalam tahap pembentukan, para tokoh pendirinya mengadakan musyawarah kecil yang melibatkan tokoh-tokoh dari kawasan Ampel, Kawatan, Bubutan, dan sekitarnya — semuanya dari Surabaya.
Dalam musyawarah itulah nama H. Hasan Gipo disebut dan disepakati sebagai Ketua Tanfidziyah pertama NU.
Susunan kepemimpinan awal NU saat itu adalah:
- Rois Syuriah: KH. Said (dari Paneleh, Surabaya)
- Rois Akbar HBNO: KH. Hasyim Asy’ari
- Katib ‘Am: KH. Wahab Hasbullah
- Ketua Tanfidziyah: H. Hasan Gipo
H. Hasan Gipo menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah selama kurang lebih tiga tahun, hingga Muktamar ke-3 di Semarang, di mana ia digantikan oleh KH. Noor dari Sawah Pulo, Surabaya.
Peran di Kancah Pergerakan Nasional
H. Hasan Gipo bukan hanya aktivis organisasi — ia juga seorang pedagang sukses yang tinggal di kawasan elite Surabaya. Posisi sosial dan ekonominya ini sangat membantu pergerakan yang dirintis bersama Kiai Wahab Hasbullah.
Ia kerap menemani Kiai Wahab menemui para tokoh pergerakan nasional di Surabaya, termasuk:
- HOS Cokroaminoto — pemimpin Sarekat Islam
- Dr. Soetomo — pendiri Budi Utomo
Dari pergaulan itulah Hasan Gipo dan Kiai Wahab berkenalan dengan murid-murid Cokroaminoto yang kelak menjadi tokoh-tokoh besar sejarah Indonesia, di antaranya Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, dan SK Trimurti. Di sinilah para aktivis mulai merajut cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Bersama KH. Hasyim Asy’ari, Hasan Gipo juga aktif menampilkan NU sebagai gerakan sosial yang tidak sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga merespons tantangan zaman — termasuk menghadapi pengaruh kaum modernis yang kala itu banyak digerakkan oleh pedagang Minangkabau di Surabaya.
Melawan Komunisme: Menantang Muso di Atas Rel Kereta
Salah satu kisah paling dramatis dari H. Hasan Gipo adalah konfrontasinya langsung dengan Muso, tokoh utama Partai Komunis Indonesia (PKI).
Hasan Gipo dikenal sebagai sosok yang enerjik, cekatan, dan pemberani. Ketika Muso kerap membanggakan paham ateismenya, Hasan Gipo tidak tinggal diam. Ia langsung mendatangi Muso dan menantangnya membuktikan keyakinannya dengan cara yang tak biasa: keduanya harus berdiri di atas rel kereta api di Krian (antara Surabaya–Mojokerto) dan menunggu hingga kereta datang.
Kisah ini menggambarkan betapa kuatnya pendirian dan keberanian Hasan Gipo dalam membela akidah Islam — tanpa ragu berhadapan langsung dengan siapapun, termasuk tokoh komunis sekalipun.
Wafat dan Penemuan Makam
H. Hasan Gipo wafat pada tahun 1934. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel, Surabaya, dalam area pemakaman khusus keluarga Sagipodin.
Selama bertahun-tahun, sejarah tentang beliau nyaris hilang dari ingatan umat NU. Baru pada Agustus 2015, Ketua Ikatan Keturunan Sagipodin (IKSA) Jawa Timur, H. Wachid Zein, berhasil menemukan kembali makam KH. Hasan Gipo setelah melakukan berbagai penelusuran, termasuk melacak keturunannya di Gresik.
Dari para keturunannya itu pula ditemukan dokumen bersejarah yang sangat penting: sebuah foto berukuran 3×4 yang terpasang pada Surat Keputusan Pengesahan Pemerintah Hindia Belanda (Statueten HBNO 1926), lengkap dengan tulisan jabatannya sebagai Ketua Tanfidziyah — bukti otentik peran bersejarahnya dalam pendirian NU.
Fakta Singkat: KH. Hasan Gipo
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Nama Lengkap | KH. Hasan Basri (Hasan Gipo) |
| Lahir | Surabaya, 1869 |
| Wafat | 1934 |
| Makam | Kompleks Sunan Ampel, Surabaya |
| Ayah | H. Marzuki |
| Jabatan di NU | Ketua Tanfidziyah Pertama NU |
| Masa Jabatan | ±3 tahun (hingga Muktamar ke-3) |
| Keunikan | Satu-satunya orang di komunitas KH. Wahab yang bisa baca-tulis Latin |








