ULAMA NUSANTARA

Biografi KH. Habib Ali Bafaqih: Wali Pitu Bali

Siapa KH. Habib Ali Bafaqih?

KH. Habib Ali Bafaqih adalah seorang ulama besar, pendidik, dan penyebar Islam di Bali yang hidup hingga usia 107 tahun. Beliau dikenal sebagai salah satu dari Wali Pitu — tujuh wali penyebar Islam di Pulau Bali — berkat kegigihan, kedalaman ilmu, dan dedikasi beliau sepanjang hayat dalam mensyiarkan agama Islam di tengah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Syamsul Huda di Loloan Barat, Jembrana, yang telah melahirkan ribuan ulama, dai, dan ustazah dari seluruh Indonesia.


Kelahiran

KH. Habib Ali Bafaqih lahir pada tahun 1890 di Banyuwangi, Jawa Timur, dari pasangan Habib Umar dan Syarifah Nur. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki akar keilmuan dan keagamaan yang kuat, yang kelak membentuk karakternya sebagai ulama yang gigih dan berdedikasi tinggi.


Perjalanan Menuntut Ilmu

Belajar di Mekah

Menjelang usia 20 tahun, sekitar tahun 1910, Habib Ali berangkat ke Mekah untuk memperdalam ilmu agama. Keberangkatan ini difasilitasi oleh Haji Sanusi, seorang ulama terkemuka di Banyuwangi pada masa itu.

Di Mekah, beliau bermukim di Siib Ali selama kurang lebih tujuh tahun. Masa yang panjang itu diisi dengan kesungguhan belajar ilmu-ilmu agama Islam secara mendalam langsung di Tanah Suci.

Menambah Ilmu di Jombang

Sekembalinya dari Mekah, Habib Ali tidak langsung berhenti belajar. Beliau melanjutkan menimba ilmu di sebuah pondok pesantren di Jombang yang diasuh oleh Kiai Wahab Abdullah — salah satu ulama besar Nahdlatul Ulama di masanya.

Dikenal sebagai Pendekar Silat

Selain tekun dalam ilmu agama dan Al-Qur’an, Habib Ali di masa mudanya juga dikenal sebagai seorang pendekar silat yang sangat tangguh — sebuah keahlian yang pada masa itu sering dimiliki para ulama sebagai bagian dari kemampuan menjaga diri dan masyarakat.


Hijrah ke Bali: Mengembangkan Dakwah di Loloan

Sebelum menetap di Bali, Habib Ali sempat mengajar selama satu tahun di Madrasah Khairiyah di Banyuwangi, kota kelahirannya.

Perjalanan ke Bali terjadi atas permintaan langsung dari Datuk KH. Mochammad Said, seorang ulama besar di Loloan, Jembrana, Bali. Dengan memenuhi undangan tersebut, Habib Ali pun memulai babak baru perjuangan dakwahnya di Pulau Dewata.

Kehadirannya di Loloan memberikan dampak yang luar biasa. Syiar Islam semakin bercahaya di wilayah itu, seiring dengan bertambahnya ulama-ulama berkualitas yang hadir dan menetap di sana. Kampung Loloan sendiri telah lama dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di Bali, bahkan sejak ratusan tahun lalu telah dikunjungi oleh ulama-ulama tangguh dari berbagai daerah — termasuk ulama besar dari Terengganu, Malaysia, yang hijrah ke Loloan pada awal abad ke-19.


Mendirikan Pesantren Syamsul Huda

Pada tahun 1935, KH. Habib Ali Bafaqih resmi mendirikan Pondok Pesantren Syamsul Huda di Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.

Sejak berdiri, pesantren ini telah menjadi pusat pendidikan Islam yang penting di Bali dan sekitarnya. Para santri berdatangan dari berbagai pelosok nusantara untuk belajar di sini, berbaur dengan kehidupan masyarakat Loloan yang kaya tradisi Islam.

Hingga kini, Pesantren Syamsul Huda telah melahirkan ribuan ulama, dai, dan ustazah yang tersebar ke seluruh penjuru tanah air — melanjutkan cita-cita besar sang pendiri.


Habib Ali Bafaqih: Bagian dari Wali Pitu Bali

Jika Pulau Jawa dikenal dengan Wali Songo — sembilan wali penyebar Islam yang namanya abadi dalam sejarah — maka Pulau Bali memiliki Wali Pitu, tujuh wali yang berjasa menyebarkan Islam di Pulau Dewata.

KH. Habib Ali Bafaqih adalah salah satu dari ketujuh wali tersebut, berkat perjuangan dan pengorbanan beliau selama puluhan tahun mendakwahkan Islam di Bali. Ketujuh Wali Pitu Bali adalah:

  1. Mas Sepuh Raden Amangkuningrat — Kabupaten Badung
  2. Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Magribi — Tabanan
  3. Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al-Khamid — Klungkung
  4. Habib Ali Zaenal Abidin Al-Idrus — Karangasem
  5. Syekh Maulana Yusuf Al-Baghdi Al-Magribi — Karangasem
  6. The Kwan Lie — Buleleng
  7. Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih — Jembrana

Wafat dan Makam

KH. Habib Ali Bafaqih wafat pada tahun 1997 dalam usia yang sangat panjang, yaitu 107 tahun. Beliau dimakamkan di area Pondok Pesantren Syamsul Huda, beralamat di Jalan Nangka No. 145, Desa Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.

Makam beliau kini menjadi salah satu destinasi ziarah yang ramai dikunjungi umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia — dari Jakarta, Bandung, Lampung, hingga daerah-daerah lainnya. Tidak jarang lebih dari 10 bus pariwisata tiba setiap harinya membawa rombongan peziarah yang ingin mengenang dan mendoakan sang wali.


Kesimpulan

KH. Habib Ali Bafaqih adalah bukti nyata bahwa dakwah Islam yang tulus dan penuh ketekunan mampu menembus batas geografis dan budaya. Dari Banyuwangi menuju Mekah, lalu menetap dan berjuang di Bali selama puluhan tahun, beliau telah mengukir namanya sebagai salah satu wali penyebar Islam di Nusantara. Warisan terbesar beliau — Pesantren Syamsul Huda dan ribuan alumninya — terus hidup dan bergerak meneruskan cahaya Islam yang pernah beliau nyalakan.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker