
Siapa Imam Ali bin Alwy bin Faqihul Muqaddam?
Imam Ali bin Alwy bin Faqihul Muqaddam — lengkapnya dikenal dengan gelar As Sayyidina Imam, As Syeikhul Kabir Al Waliyyu Syahir Abu Hasan Nuruddin Ali bin Alwy — adalah salah satu wali agung dari keluarga Ba’alawy di Tarim, Hadhramaut, Yaman.
Beliau adalah adik kandung dari Imam Abdullah bin Ba’alawy, dan keduanya lahir dari satu ibu yang sama, yaitu Syarifah Fatimah binti Ahmad bin Muhammad Shahib Mirbat. Beliau juga dikenal sebagai ayah dari Imam Muhammad bin Ali Mauladawilah, salah satu tokoh besar dalam silsilah Ba’alawy.
Riwayat Hidup
Kelahiran
Imam Ali bin Alwy bin Faqihul Muqaddam lahir dan tumbuh besar di kota Tarim, kota yang telah lama dikenal sebagai pusat ilmu dan para wali di Hadhramaut.
Wafat
Beliau wafat pada hari Rabu, 17 Rajab 709 H, meninggalkan warisan ilmu dan keteladanan yang terus dikenang hingga hari ini.
Keluarga Beliau
Imam Ali bin Alwy menikah dengan Fatimah binti Sa’ad Balaits. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai:
- Satu putra, yaitu Syeikh Muhammad bin Ali Mauladawilah — seorang ulama besar yang menjadi penerus nasab dan ilmu beliau
- Enam putri yang shalehah, yaitu: Maryam, Khadijah, Zainab, Aisyah, Bahiyah, dan Maniyah
Sepeninggal Imam Ali, sang istri kemudian dinikahi oleh kakak almarhum, yaitu Syeikh Abdullah Ba’alawy. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang anak bernama Muhammad dan Ali, yang menjadi saudara tiri (lain ayah) dari Sayyidina Muhammad Mauladawilah.
Sanad Ilmu dan Pendidikan
Imam Ali bin Alwy menimba ilmu langsung dari ayahnya sendiri, Imam Alwy bin Muhammad bin Ali Ba’alawy. Beliau melazimi sang ayah dengan penuh kesungguhan, mengikuti setiap pengajaran dalam ilmu syariat, tarekat, maupun hakikat. Kedekatan beliau dengan ayahandanya menjadikannya salah satu penerus terbaik dalam silsilah keilmuan keluarga Ba’alawy.
Teladan: Ahli Ibadah, Khalwat, dan Mujahadah
Imam Ali bin Alwy termasuk dalam golongan khusus para Arifin Billah — mereka yang telah benar-benar mengenal Allah dengan hati yang bening. Beliau bahkan diakui sebagai salah satu Wali Qutub besar di zamannya.
Beberapa ciri khas kehidupan beliau yang patut diteladani:
- Banyak beribadah dan tidak pernah melalaikan kewajiban kepada Allah
- Sering berkhalwat (menyepi untuk beribadah dan berdzikir), terutama di kawasan makam Nabi Hud AS, bahkan beliau pernah berkhalwat selama tiga bulan berturut-turut yaitu di bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan
- Melatih jiwa (mujahadah) untuk menundukkan nafsu dan mendekat kepada Allah
- Menjadi suri tauladan bagi para murid yang menempuh jalan menuju Allah
- Berperan sebagai pembimbing bagi para Arifin Billah
Doa yang Mustajab: Kisah Kelahiran Muhammad Mauladawilah
Salah satu peristiwa paling menakjubkan dalam hidup Imam Ali bin Alwy adalah kisah dikabulkannya doa beliau untuk mendapat seorang anak yang shaleh.
Doa di Bawah Mizab Ka’bah
Ketika berada di kota Mekkah, beliau berdiri di bawah Mizab (talang emas Ka’bah) dan memohon dengan penuh kerendahan hati kepada Allah agar dikaruniai anak yang shaleh. Saat itu juga terdengar seruan:
“Doamu telah terkabulkan, sekarang kembalilah ke negerimu.”
Kabar Gembira di Tarim
Setelah kembali ke Tarim dan berlalu beberapa waktu, beliau kembali berdoa di salah satu masjid di Tarim. Dalam keadaan khusyuk yang sangat dalam, ruhani beliau diangkat ke langit dan di sana beliau menerima kabar gembira akan kelahiran seorang anak.
Beliau berkata: “Aku menginginkan tanda-tandanya.”
Beliau kemudian diberi dua lembar kertas, disertai petunjuk: “Letakkan salah satunya pada mata wanita buta yang ada di sebelah rumahmu, ia pasti dapat melihat kembali.”
Beliau pun melakukan hal tersebut — dan benar, wanita yang tadinya buta itu langsung dapat melihat kembali setelah kertas diletakkan di matanya. Satu kertas lainnya menghilang saat beliau belum sepenuhnya kembali dari kondisi ruhaniah tersebut.
Anak yang dimaksud dalam kabar gembira itu tidak lain adalah Muhammad Mauladawilah, yang kelak menjadi salah satu ulama dan wali besar Ba’alawy.
Kezuhudan Beliau
Imam Ali bin Alwy dikenal luas sebagai sosok yang sangat zuhud — tidak terikat dan tidak tergoda oleh kemewahan dunia. Beliau lebih memilih kesederhanaan hidup demi mendekatkan diri kepada Allah.
Beliau juga aktif menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Dalam setiap perjalanan spiritualnya, berbagai keajaiban menyertai beliau sebagai tanda kemuliaan yang Allah anugerahkan.
Selain itu, beliau juga dikenal:
- Memiliki penglihatan mata batin (kashf) yang sangat tajam
- Memakaikan jubah sufi kepada orang-orang shaleh yang layak menerimanya sebagai tanda pengakuan dan bimbingan spiritual
Kesaksian Para Ulama
Kesaksian Muhammad bin Abi Mas’ud
Suatu ketika, Imam Ali bin Alwy menerima hadiah harta yang cukup banyak. Muhammad bin Abi Mas’ud menyaksikan beliau berkata:
“Ali bin Alwy bersebelahan dengan materi duniawi, ya Allah pindahkanlah aku darinya.”
Dua hingga tiga bulan setelah ucapan itu, beliau pun wafat — seolah Allah mengabulkan keinginan beliau untuk segera berpindah dari dunia yang fana.
Mimpi Syeikh Ibrahim Baqusyair
Syeikh Ibrahim Baqusyair mengisahkan bahwa ia pernah bermimpi bertemu Imam Ali bin Alwy. Ia pun bertanya:
“Apa yang Allah perbuat terhadapmu?”
Beliau menjawab dengan tenang:
“Orang yang tercinta tidak khawatir terhadap apapun.”
Jawaban singkat ini menjadi bukti betapa mulianya kedudukan beliau di sisi Allah SWT.
Kesimpulan
Imam Ali bin Alwy bin Faqihul Muqaddam adalah sosok wali qutub yang memadukan antara ilmu yang dalam, ibadah yang tekun, zuhud yang tulus, dan doa yang mustajab. Beliau bukan hanya pewaris ilmu dari ayahanda yang agung, tetapi juga penerus cahaya spiritual keluarga Ba’alawy yang terus bersinar hingga generasi berikutnya melalui putranya, Imam Muhammad Mauladawilah.
Keteladanan hidup beliau dalam beribadah, berkhalwat, dan menjauhi dunia adalah pelajaran berharga yang relevan bagi siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Allah.








