
Mengenal KH. Ahmad Hanafiah, ulama besar asal Lampung yang menjadi komandan Laskar Hizbullah dan gugur sebagai pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda tahun 1947.
Siapa KH. Ahmad Hanafiah?
KH. Ahmad Hanafiah adalah seorang ulama, pejuang, politisi, dan komandan perang asal Lampung yang lahir pada tahun 1905 di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Tengah. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang berjuang dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih, dan tak pernah mau menonjolkan diri.
Ayahnya, KH. Muhammad Nur, adalah pimpinan Pondok Pesantren Istishodiyah di Sukadana — pesantren pertama yang berdiri di Provinsi Lampung. Dari lingkungan keluarga yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam inilah, Ahmad Hanafiah tumbuh menjadi sosok ulama yang luar biasa.
Perjalanan Pendidikan: Dari Sukadana hingga Mekah
Sejak usia sangat muda, Ahmad Hanafiah sudah menunjukkan kecerdasan dan ketekunan luar biasa. Pada usia lima tahun, beliau sudah khatam membaca Al-Qur’an.
Berikut perjalanan pendidikannya secara lengkap:
- 1905–1920 – Belajar dasar-dasar ilmu agama Islam kepada ayahnya di Sukadana.
- 1920–1925 – Mengabdi sebagai guru Agama Islam.
- 1925–1930 – Melanjutkan studi ke Pesantren Kelantan, Malaysia.
- 1930 – Dalam perjalanan menuju Mekah, singgah di India untuk mendalami ilmu tarekat.
- 1930–1936 – Menuntut ilmu di Masjidil Haram, Mekah. Di sini beliau juga aktif sebagai pengajar ilmu agama Islam pada tahun 1934–1936.
Selama berada di Mekah, jiwa kepemimpinan KH. Ahmad Hanafiah terus berkembang. Beliau dipercaya selama dua tahun menjadi Ketua Himpunan Pelajar Islam Lampung di Kota Mekkah, Arab Saudi.
Ulama Sekaligus Penggerak Ekonomi Rakyat
Sepulang dari Tanah Suci, KH. Ahmad Hanafiah tidak hanya berkiprah di bidang keagamaan. Beliau menjadi Ketua Serikat Dagang Islam (SDI) di Kawedanan Sukadana pada tahun 1937–1942.
Bersama umat Islam setempat, beliau mendirikan dan mengelola berbagai usaha rakyat, antara lain:
- Usaha mebel
- Home industry sabun
- Produksi rokok kretek
- Pengelolaan lembaga pendidikan
- Pengembangan teknologi pertanian
Ini menunjukkan bahwa KH. Ahmad Hanafiah adalah ulama yang tidak hanya mumpuni dalam ilmu agama, tetapi juga aktif dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Beliau hadir langsung mendampingi rakyat di lapangan, bukan sekadar memberi arahan dari atas mimbar.
Karier dan Jabatan dalam Pemerintahan
KH. Ahmad Hanafiah juga aktif dalam pemerintahan dan politik pada masa revolusi kemerdekaan. Sejumlah jabatan penting yang pernah beliau emban:
| Periode | Jabatan |
|---|---|
| 1937–1942 | Ketua Serikat Dagang Islam (SDI) Kawedanan Sukadana |
| 1945–1946 | Anggota Chuo Sangi Kai, Karesidenan Lampung (masa pendudukan Jepang) |
| 1945–1947 | Ketua Partai Masyumi dan Pimpinan Hizbullah Kewedanan Sukadana |
| 1946–1947 | Anggota DPR Karesidenan Lampung |
| Awal 1947 | Wakil Kepala sekaligus Kepala Bagian Islam, Jawatan Agama Karesidenan Lampung |
Pejuang di Garis Depan: Laskar Hizbullah Bergolok
Ketika Agresi Militer Belanda I melancarkan serangan ke berbagai wilayah Indonesia pada tahun 1947, Lampung yang menjadi bagian dari Karesidenan Sumatera Selatan pun tak luput dari serangan. Belanda menyerang melalui jalur darat dari Palembang.
KH. Ahmad Hanafiah tampil sebagai komandan Laskar Hizbullah yang berjuang bersama rakyat dan TNI. Pasukan ini dikenal dengan sebutan “Laskar Bergolok” karena mereka bersenjatakan golok ciomas dalam setiap pertempuran.
Sifat beliau sebagai komandan sangat menonjol: pemberani, disegani lawan, rendah hati, dan tidak pernah mau menonjolkan diri. Bahkan tersiar kabar bahwa beliau kebal peluru.
Gugur di Pertempuran Kemarung
Pertempuran paling heroik terjadi di Kemarung — sebuah kawasan hutan belukar di dekat Baturaja, menuju Martapura, Sumatera Selatan.
Rencana serangan TNI dan Laskar Hizbullah ke Baturaja bocor kepada pihak Belanda karena pengkhianatan mata-mata. Akibatnya, TNI terpaksa mundur ke Martapura. Sementara pasukan Laskar Hizbullah yang sedang beristirahat di Kemarung disergap Belanda secara mendadak.
Pertempuran sengit pun terjadi. Banyak anggota Laskar Hizbullah yang gugur dan tertawan. KH. Ahmad Hanafiah ditangkap hidup-hidup, lalu dimasukkan ke dalam karung dan ditenggelamkan di Sungai Ogan.
Beliau gugur sebagai syahid menjelang malam tanggal 17 Agustus 1947 — tepat dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Hingga kini, makamnya tidak diketahui lokasinya.
Karya Intelektual yang Abadi
Meski hidupnya dihabiskan di tengah perjuangan, KH. Ahmad Hanafiah tetap produktif dalam bidang keilmuan. Beliau mewariskan dua karya tulis yang masih terjaga hingga saat ini:
- Kitab Al-Hujjah
- Kitab Tafsir Ad-Dohri
Kedua karya ini menjadi bukti bahwa beliau bukan hanya seorang pejuang di medan perang, tetapi juga seorang intelektual Muslim yang mewariskan khazanah ilmu pengetahuan untuk generasi mendatang.
Warisan dan Pengakuan
KH. Ahmad Hanafiah diakui secara luas sebagai:
- Tokoh agama dan ulama besar Lampung
- Pejuang kemerdekaan Indonesia
- Politisi yang aktif di masa revolusi
- Komandan perang Laskar Hizbullah
- Penggerak ekonomi rakyat
Sosoknya adalah teladan sempurna tentang bagaimana seorang ulama seharusnya hadir di tengah masyarakat: menguasai ilmu agama, aktif memberdayakan ekonomi umat, berani berjuang membela bangsa, dan ikhlas berkorban tanpa mengharapkan pengakuan.
Fakta Singkat KH. Ahmad Hanafiah
| Keterangan | Detail |
|---|---|
| Lahir | 1905, Kecamatan Sukadana, Lampung Tengah |
| Ayah | KH. Muhammad Nur (pendiri Pesantren Istishodiyah) |
| Pendidikan | Sukadana → Kelantan, Malaysia → India → Mekah (Masjidil Haram) |
| Gugur | 17 Agustus 1947, Pertempuran Kemarung, Baturaja |
| Karya | Kitab Al-Hujjah, Kitab Tafsir Ad-Dohri |
| Makam | Tidak diketahui (ditenggelamkan di Sungai Ogan) |








