
Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, atau yang lebih dikenal luas dengan nama Habib Luthfi bin Yahya, adalah salah satu ulama paling kharismatik dan berpengaruh di Indonesia bahkan di dunia. Beliau dikenal sebagai sosok yang egaliter, dekat dengan semua kalangan, dan tak pernah menunjukkan kesombongan meski memiliki nasab mulia hingga ke Nabi Muhammad SAW. Inilah kisah lengkap perjalanan hidup beliau.
1. Kelahiran
Habib Luthfi bin Yahya lahir di Pekalongan, 10 November 1946, bertepatan dengan 27 Rajab 1367 H. Beliau lahir dari seorang ibu yang juga memiliki nasab mulia, yaitu Sayyidah al-Karimah as-Syarifah Nur.
2. Nasab (Silsilah Keturunan)
Nasab dari Pihak Ibu
Ibunda beliau memiliki silsilah nasab: Sayidah al-Karimah as-Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid al-Imam Salih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sayid Imam Alawi bin Sayid al-Imam Muhammad bin al-Imam Alawi bin Imam al-Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam Ali bin Imam Alawi bin Sayidina al-Faqih al-Muqaddam bin Ali Ba Alawi.
Nasab dari Pihak Ayah
Silsilah nasab beliau dari pihak ayah tersambung langsung kepada Rasulullah SAW melalui jalur Imam Husein, sebagai berikut:
- Nabi Muhammad SAW
- Sayidatina Fathimah az-Zahra + Ali bin Abi Thalib
- Imam Husein ash-Sibth
- Imam Ali Zainal Abidin
- Imam Muhammad al-Baqir
- Imam Ja’far Shadiq
- Imam Ali al-Uraidhi
- Imam Muhammad an-Naqib
- Imam Isa an-Naqib ar-Rumi
- Imam Ahmad Al-Muhajir
- Imam Ubaidullah
- Imam Alwy Ba’Alawy
- Imam Muhammad
- Imam Alwy
- Imam Ali Khali Qasam
- Imam Muhammad Shahib Marbath
- Imam Ali
- Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad Ba’Alawy
- Imam Alwy al-Ghuyyur
- Imam Ali Maula Darrak
- Imam Muhammad Maulad Dawileh
- Imam Alwy an-Nasiq
- Al-Habib Ali
- Al-Habib Alwy
- Al-Habib Hasan
- Al-Imam Yahya Ba’Alawy
- Al-Habib Ahmad
- Al-Habib Syekh
- Al-Habib Muhammad
- Al-Habib Thoha
- Al-Habib Muhammad al-Qadhi
- Al-Habib Thoha
- Al-Habib Hasan
- Al-Habib Thoha
- Al-Habib Umar
- Al-Habib Hasyim
- Al-Habib Ali
- Al-Habib Muhammad Luthfi
3. Perjalanan Pendidikan
Masa Kecil hingga Pengembaraan Ilmu
Setelah mendapatkan pendidikan langsung dari kedua orang tuanya, pada usia 12 tahun, Habib Luthfi kecil mulai merantau untuk menuntut ilmu. Beliau pertama kali bergabung bersama pamannya, Habib Muhammad, di Indramayu, Jawa Barat.
Dari sana, perjalanan menuntut ilmu beliau terus berlanjut ke berbagai pesantren:
- Bondokerep, Cirebon — setelah itu mendapatkan beasiswa belajar ke Hadramaut, Yaman selama tiga tahun
- Pesantren Kliwet, Indramayu
- Tegal — berguru kepada Kiai Said
- Purwokerto — berguru kepada Kiai Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Ali
- Lasem, Rembang — berguru kepada ulama besar Mbah Ma’shum
Madrасah Salafiah Pekalongan
Pendidikan formal beliau diawali dari ayahanda, al-Habib al-Hafidz Ali al-Ghalib, kemudian dilanjutkan di Madrasah Salafiah. Di antara guru-guru beliau di madrasah tersebut:
- Al-Allamah Sayid Ahmad bin Ali bin al-Qutb Sayid Ahmad bin Abdullah bin Talib al-Athas
- Sayid Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman kandung beliau)
- Sayid Abu Bakr bin Abdullah bin Alawi bin Abdullah bin Muhammad al-Athas Ba’Alawi
- Sayid Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Talib al-Athas Ba’Alawi
Dari para guru tersebut, Habib Luthfi mendapatkan ijazah khusus dan umum dalam bidang: dakwah, penyebaran syariat, tasawuf, hadits, tafsir, sanad, sejarah, nahwu, tauhid, aurad, hizib-hizib, tariqah, dan ilmu nasab.
4. Sanad Tariqah dan Bai’at
Habib Luthfi bin Yahya mengambil berbagai tariqah dari guru-guru besar dan mendapatkan ijazah sebagai murshid (guru tasawuf yang berwenang membai’at). Di antara tariqah yang beliau miliki sanadnya:
Tariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah
Diterima dari Sayidi Syekh Asy’ad Abd Malik, yang menerima dari ayahnya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bin Hamid, bersambung hingga ke Qutb al-Ghauts Maulana Muhammad Khalid dan Sayidi Shah Muhammad Baha’uddin an-Naqsyabandi al-Hasni.
Tariqah Syadziliyah
Diterima dari Sayidi Syekh Muhammad Asy’ad Abd Malik, dari al-Alim Ahmad an-Nahrawi al-Makki, dari Mufti Makkah-Madinah Sayid Shalih al-Hanafi RA.
Tariqah Alawiyah, Idrusiyah, Atha’iyah, Hadadiyah, dan Yahyawiyah
Diterima dari sejumlah ulama besar, di antaranya:
- Al-Habib Ali bin Husain al-Athas
- Al-Habib Hasan bin al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya Ba’Alawi
- Al-Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Ba’Alawi
- Al-Habib Ali bin Sayid Ahmad bin Abdullah bin Talib al-Athas Ba’Alawi
- Al-Habib Hasan bin Salim al-Athas, Singapura
- Al-Habib Umar bin Hafidz, Tarim Yaman
Tariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
Diterima dari Sayid Ali bin Umar bin Idrus Bafaqih, Bali — yang menerima dari Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan, Madura.
Jami’uth Thuruq (Semua Tariqah beserta Sanadnya)
Diterima dari Syekh Muhammad al-Maliki bin Sayid Mufti al-Haramain Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasni al-Husaini, Makkah.
Tariqah Tijaniyah
Diterima dari Sayidi Sa’id bin Armiya, Giren Tegal.
5. Aktivitas Harian dan Kegiatan Dakwah
Habib Luthfi dikenal sangat aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan. Beberapa rutinitas beliau:
- Pengajian Tariqah setiap Jumat Kliwon pagi — Jami’ul Ushul Thuruqil Auliya
- Pengajian Ihya Ulumiddin setiap Selasa malam
- Pengajian Fath al-Qarib setiap Rabu pagi — khusus untuk ibu-ibu
- Pengajian tariqah setiap Ahad pagi — khusus untuk ibu-ibu
- Pengajian Ramadan — untuk santri tingkat Aliyah
- Dakwah keliling ke berbagai daerah di seluruh Nusantara
- Rangkaian Maulid Kanzus di lebih dari 60 tempat di Pekalongan dan sekitarnya
6. Peran di Nahdlatul Ulama
Habib Luthfi bukan hanya ulama, beliau juga aktif di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Beberapa peran beliau:
- Anggota Syuriyah PBNU
- Rais Am JATMAN (Jam’iyah Ahlith Tariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) — organisasi tariqah di bawah naungan NU
- Pendiri MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah) — organisasi tariqah khusus mahasiswa
7. Karier dan Jabatan
| Jabatan | Periode |
|---|---|
| Rais Am JATMAN | 2000 – 2010 (dua periode) |
| Ketua Umum MUI Kota Pekalongan | 2005 – 2010 |
| Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah | 2005 – 2010 |
| Ketua Paguyuban Lintas Agama Pekalongan (PANUTAN) | – |
8. Keteladanan: Ulama Merakyat yang Njawani
Bebas dari Kesombongan Nasab
Meski memiliki nasab mulia tersambung hingga Rasulullah SAW, Habib Luthfi sama sekali tidak pernah menampakkan kesombongan. Tidak ada sekat antara Arab dan non-Arab dalam kehidupannya. Kiai Zakaria, salah seorang yang dekat dengan beliau, menuturkan bahwa dalam keluarga Habib Luthfi tidak ada lagi istilah Arab versus non-Arab — yang terpenting adalah tingkat ketakwaan, sebagaimana firman Allah SWT.
Berbahasa Jawa, Bukan Arab atau Indonesia
Dalam keseharian, Habib Luthfi justru lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, baik kepada santri maupun tamu-tamunya. Beliau dikenal sudah njawani — begitu menyatu dengan budaya Jawa dan masyarakat sekitarnya.
“Habib Luthfi sudah njawani, bukan habib yang eksklusif. Semua orang dan kalangan merasa dekat dengan beliau, karena beliau tidak suka dilebih-lebihkan. Siapapun yang ingin bersalaman, dilayani. Beliau sangat egaliter dan merakyat.” — orang dekat Habib Luthfi
Rumah Terbuka 24 Jam
Rumah Habib Luthfi terbuka selama 24 jam sehari untuk siapa saja — dari rakyat biasa, pengusaha, seniman, anggota dewan, hingga pejabat tinggi negara. Beliau melayani setiap tamu satu per satu, mendengarkan masalah mereka, dan memberikan solusi. Tidak ada tamu yang diperlakukan berbeda berdasarkan status sosialnya.
Berani Melawan Arus demi Perdamaian
Pada 20 November 1995, Pekalongan dilanda kerusuhan — terjadi perusakan dan pembakaran fasilitas milik warga keturunan Tionghoa. Semua tokoh agama saat itu seakan tidak berdaya menghadapi situasi yang memanas. Di tengah kepanikan itu, Habib Luthfi tampil dengan satu pernyataan singkat namun sangat kuat:
“Saya tidak senang jika santri saya ikut dalam perusakan.”
Pernyataan itu mengejutkan banyak pihak — beliau berani “melawan arus” ketika semua orang memilih diam. Hasilnya luar biasa: situasi keamanan Pekalongan berangsur pulih sejak saat itu. Untuk mencegah konflik serupa, beliau kemudian mendirikan PANUTAN (Paguyuban Interreligius Pekalongan) dan dipercaya sebagai ketuanya.
Ilmu yang Melampaui Batas Agama
Kemampuan Habib Luthfi tidak hanya terbatas pada ilmu agama. Dalam sebuah ceramah bertema pertanian, beliau tidak hanya menyampaikan dalil-dalil agama, tetapi juga ilmu pertanian secara ilmiah — termasuk cara meremajakan tanah yang tandus lengkap dengan referensi sains. Para petugas dinas pertanian yang hadir pun dibuat kagum. Hal serupa terjadi dalam bidang perikanan dan ilmu-ilmu lainnya.
Pandangan tentang Jabatan
Habib Luthfi memiliki prinsip yang kuat soal amanah:
“Jabatan adalah amanah, bukan sesuatu yang boleh diminta-minta. Tidak harus menjadi ketua untuk bisa berjuang dan berbakti. Setiap orang bisa berdedikasi sesuai kemampuannya masing-masing.”
9. Penghargaan
Habib Luthfi bin Yahya masuk dalam daftar The Muslim 500 yang diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center, Amman, Yordania — sebuah daftar bergengsi yang memuat 500 tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia. Pada 2021, beliau berada di peringkat ke-32 dunia.
10. Penutup
Habib Luthfi bin Yahya adalah cermin ulama sejati: berilmu luas, berakhlak mulia, merakyat tanpa sekat, dan berani berdiri di atas kebenaran meski harus melawan arus. Dari kota batik Pekalongan, pengaruh dan keteladanan beliau menjangkau seluruh Nusantara, bahkan diakui dunia.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga beliau, memanjangkan umur dalam kebaikan, dan menjadikan beliau cahaya bagi umat. Aamiin ya Rabbal Alamin.








