ULAMA NUSANTARA

KH. Mahfudz Cholil (Gus Fud): Ulama Pejuang dari Lasem

Biografi KH. Mahfudz Cholil atau Gus Fud — ulama sekaligus pejuang kemerdekaan dari Lasem, putra pendiri NU, dan tokoh berpengaruh di lingkungan pesantren dan militer Indonesia.


Siapa KH. Mahfudz Cholil?

KH. Mahfudz Cholil, yang akrab dipanggil Gus Fud, adalah seorang ulama sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia asal Lasem, Jawa Tengah. Beliau bukan hanya dikenal sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai figur yang turut berjuang angkat senjata melawan penjajah demi kemerdekaan bangsa.

Kehidupan Gus Fud mencerminkan perpaduan sempurna antara keilmuan pesantren dan semangat nasionalisme — dua hal yang selalu berjalan beriringan di kalangan ulama Nusantara.


Kelahiran dan Nasab

KH. Mahfudz Cholil lahir pada tahun 1920 di Lasem. Beliau berasal dari keluarga ulama yang memiliki akar mendalam dalam sejarah Islam dan pergerakan nasional.

Dari garis ayah, beliau adalah putra KH. Qayyum bin KH. Cholil Lasem — salah satu ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sebuah nasab yang menempatkan beliau langsung dalam lingkaran tokoh-tokoh besar penggagas organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Dari garis ibu, beliau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan dua ulama besar lainnya:

  • KH. Abdullah Salam Kajen
  • KH. Syansuri Badawi Denanyar

Dengan latar keluarga seperti ini, jiwa keulamaan dan semangat perjuangan sudah tertanam dalam diri Gus Fud sejak ia lahir.


Darah Pejuang yang Mengalir Turun-Temurun

Semangat perjuangan Gus Fud bukan tanpa akar. Dari garis ibu, beliau memiliki leluhur seorang pejuang sejati: Kiai Mahfudz — ayah dari KH. Sahal Mahfudz Kajen Pati — yang gugur sebagai syuhada dalam Perang Palagan Ambarawa, medan pertempuran di bawah komando Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Warisan keberanian ini mengalir dalam darah Gus Fud dan mewujud nyata dalam perjuangannya melawan penjajah.


Perjuangan Melawan Penjajah

KH. Mahfudz Cholil adalah bagian dari generasi ulama yang tidak hanya berjuang melalui dakwah dan kitab, tetapi juga mengangkat senjata di medan perang. Beliau tercatat dalam sejarah perjuangan bersama laskar-laskar pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam:

  • Laskar Mujahidin
  • Hizbullah
  • PETA (Pembela Tanah Air)
  • BKR (Badan Keamanan Rakyat)
  • TKR (Tentara Keamanan Rakyat)

hingga akhirnya terbentuknya TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Setelah masa perjuangan fisik usai dan kemerdekaan diraih, Gus Fud memilih kembali ke jalan pengabdian asalnya — kembali ke pesantren dan masyarakat — dengan pangkat terakhir Letnan. Sementara sebagian rekan seperjuangannya melanjutkan karier di TNI melalui seleksi resmi, Gus Fud memilih mengabdikan sisa hidupnya untuk umat.


Koordinator Latihan Wisuda AKABRI 1966

Peran Gus Fud dalam dunia militer tidak berhenti setelah kemerdekaan. Pada tahun 1966, beliau dipercaya menjadi Koordinator Latihan Tutup Tahun Wisuda AKABRI (saat itu bernama AMN — Akademi Militer Nasional).

Pusat latihan (posko) ditempatkan di Soditan, Lasem, mencakup berbagai jenis latihan:

  • Latihan darat
  • Latihan laut
  • Latihan terjun payung — berlokasi di Pemotan, Sedan, dan lapangan yang kini telah menjadi Pasar Lasem

Latihan bergengsi ini dihadiri langsung oleh Jenderal Ahmad Taher, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur AKMIL (Akademi Militer). Atas suksesnya penyelenggaraan latihan tersebut, pemerintah memberikan Piagam Penghargaan kepada Gus Fud.

Jenderal Ahmad Taher kelak menjadi seorang menteri. Adapun Jenderal Agum Gumelar adalah menantu dari Ahmad Taher.


Teman-Teman Seperjuangan

Di balik perjuangannya, Gus Fud tidak berjalan sendiri. Beliau memiliki sejumlah sahabat seperjuangan yang juga merupakan tokoh-tokoh besar:

NamaKeterangan
KH. A. Hamid SyarifPohlandak
KH. ZubairAyah dari KH. Maimun Zubair Sarang
Kolonel SuyonoMantan Bupati Jember

Persahabatan dengan tokoh-tokoh seperti KH. Maimun Zubair (Mbah Moen) — ulama kaliber nasional dari Sarang — semakin memperlihatkan betapa Gus Fud adalah bagian dari jaringan ulama dan pejuang terbaik zamannya.


Wafat dan Makam

KH. Mahfudz Cholil wafat pada tahun 1973 dalam usia 53 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat Lasem.

Makam beliau terletak di sebelah selatan Makam Mbah Sambu, Lasem, berjarak sekitar 6 meter dari makam ulama besar tersebut. Lokasinya sangat mudah ditemukan — siapa pun yang hendak berziarah ke Makam Mbah Sambu, pasti akan melewati makam Kiai Mahfudz terlebih dahulu.


Warisan KH. Mahfudz Cholil

KH. Mahfudz Cholil meninggalkan warisan yang tak ternilai:

  • Teladan perjuangan — ulama yang berani angkat senjata demi kemerdekaan bangsa
  • Pengabdian kepada pesantren — memilih kembali ke masyarakat meski berpeluang melanjutkan karier militer
  • Jaringan ulama pejuang — bagian dari generasi emas ulama NU yang membangun fondasi Indonesia
  • Piagam penghargaan militer — bukti nyata kontribusi pesantren dalam perjalanan bangsa

Kesimpulan

KH. Mahfudz Cholil atau Gus Fud adalah representasi sempurna dari sosok ulama-pejuang (ulama mujahid) yang menjadi tulang punggung kemerdekaan Indonesia. Lahir dari keluarga pendiri NU, berjuang di medan perang, lalu kembali mengabdi kepada pesantren dan masyarakat — perjalanan hidupnya adalah pelajaran tentang ketulusan, keberanian, dan keikhlasan.

Semoga Allah SWT merahmati beliau, menerima seluruh amal perjuangannya, dan menjadikannya bagian dari para syuhada yang dimuliakan di sisi-Nya. Aamiin.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker