ULAMA NUSANTARA

KH Mahfudz Siddiq Sosok Ulama Modernis

Profil Ulama | KH Mahfudz Siddiq Sosok Ulama Modernis

Kehidupan Awal

Dilahirkan di tengah hembusan sejuk pagi di Jember, KH. Mahfudz Shiddiq mengawali hidupnya pada hari Kamis, dalam kalender Pon, yang bertepatan dengan tanggal 27 Rabi’ul Awwal 1325 Hijriyah atau tahun 1907 Masehi.

Sebagai buah hati pertama dari KH. Siddiq, yang dikenal sebagai pujangga kitab Safinah, dan Nyai H. Zaqiah atau yang lebih akrab disapa Nyai Maryam binti KH. Yusuf, KH. Mahfudz Shiddiq turut mewarisi ketegasan dan intelektualitas dari kedua orangtuanya.

Saudara kandungnya, KH. Achmad Siddiq (1926-1991), adalah saksi bisu dari kebesaran nama yang diukirnya.

Akhir Hayat

Musafir kehidupan ini mengakhiri perjalanannya di tempat yang sama di mana ia pertama kali menghirup udara, di Jember, pada tanggal 1 Januari 1944 Miladiyah.

KH. Mahfudz Shiddiq kemudian dimakamkan dengan penuh penghormatan di pemakaman keluarga Turbah, Condo, di kota yang sama.

Pendidikan dan Karakter

Terbentuk dalam asuhan langsung sang ayah yang ketat dan disiplin, terutama dalam mengamalkan ibadah sholat berjama’ah, KH. Mahfudz Shiddiq berkembang menjadi sosok yang sabar, tenang, dan memiliki kecerdasan tiada tara.

Gaya penampilannya yang selalu rapi dan elok mencerminkan kedisiplinannya, sejajar dengan cara berpikir yang terbuka dan modern, tidak hanya dalam dimensi agama, tetapi juga dalam wawasan umum. Perjalanannya yang berlanjut di Pesantren Tebuireng, Jombang, dengan didikan KH. Hasyim Asy’ari, menambah fondasi ilmu yang kuat dalam dirinya.

Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

Perjalanan karier KH. Mahfudz Shiddiq diawali dengan terpilihnya sebagai Presiden Tanfidziyah HBNO, yang kini dikenal sebagai PBNU, pada Muktamar NU ke-12 di Malang pada tahun 1937.

Inilah awal dari rangkaian pemilihan yang berturut-turut hingga Muktamar ke-15 di Surabaya tahun 1940.

Sempat ragu dengan amanat kepemimpinan karena merasa belum sepadan dengan berbagai kiai senior, KH. Mahfudz Shiddiq akhirnya luluh atas desakan KH. Hasyim Asy’ari dengan kalimat yang menggetarkan, “Kowe kudu gelem, Fudz!” (Kamu harus bersedia, Fudz!).

Ini menjelma menjadi duet harmonis dalam kepemimpinan organisasi yang monumental.

Selama masa kepimpinannya, meskipun masih sangat muda, KH. Mahfudz Shiddiq dengan kompeten mengatur arah organisasi. Dia mendasarkan NU dengan struktur yang kuat dan komunikasi efektif.

Dia juga memperkenalkan budaya profesional dalam menjalankan organisasi, termasuk kebiasaan ngantor di sekretariat HBNO di Surabaya yang dilakoni dengan disiplin dan dedikasi.

Penghasilannya dari NU memungkinkan beliau untuk fokus penuh pada pengelolaan organisasi, sebuah praktik manajemen yang bahkan saat ini masih jarang diterapkan.

Prestasinya termasuk pengembangan konsep Mabadi’ Khaira Ummah, yang sampai hari ini masih menjadi acuan bagi ekonomi NU, dan inisiasi Gerakan Mu’awanah yang mendukung konsep tersebut.

KH. Mahfudz Siddiq bersama para tokoh lain, turut serta dalam penerbitan Majalah Berita Nahdlatul Ulama, membawa pemikiran-pemikirannya kepada khalayak melalui tulisan-tulisan tajam yang seringkali ia terbitkan di bawah nama samaran.

Warisan dan Modernitas

Dikenal sebagai simbol modernitas dalam NU, KH. Mahfudz Shiddiq berani melanggar tabu dengan tampil tanpa kopiah dan mengenakan dasi, suatu pilihan yang sebelumnya diharamkan karena dianggap sebagai penyerupaan dengan kolonial.

Namun, dengan argumen yang terukur, beliau membuka pandangan baru mengenai pakaian dan aksesori.

Sebagai sosok yang dihormati, KH. Mahfudz tercatat sebagai problem solver yang handal dan motor penggerak di organisasi.

Kisahnya, bersama Majalah “Berita Nahdlatul Ulama” dan sebagai pemikir yang pertama kali menulis tentang “Ijtihad dan Taqlid untuk Rekonsiliasi”, tetap menginspirasi generasi NU hingga kini.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker