
Masa Jepang
Kehadiran Jepang sebagai kekuatan imperialis di Sulawesi Selatan membawa tantangan serius bagi kegiatan belajar mengajar di madrasah.
Kebijakan pemerintah Jepang yang membatasi pengajaran menyebabkan kesulitan dalam proses pendidikan di MAI Mangkoso.
Untuk mengatasi kendala ini, Gurutta Ambo Dalle menerapkan strategi cerdik.
Beliau memindahkan pelajaran dari ruang kelas ke masjid dan rumah-rumah guru.
Untuk menjaga kerahasiaan, kaca jendela dan pintu masjid dicat hitam agar cahaya lampu tidak terlihat dari luar.
Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok yang ditempatkan di lokasi yang dianggap aman, dan penggunaan lampu di malam hari dilarang untuk menghindari pengawasan Jepang.
Metode ini ternyata efektif, bahkan menarik semakin banyak peminat dan menghindari perhatian pihak Jepang.
Beberapa petinggi Jepang yang telah mengenal Gurutta Ambo Dalle secara pribadi menganggap beliau sebagai sosok yang dihormati, menyebutnya sebagai guru dan figur ayah.
Karisma Gurutta Ambo Dalle berhasil menembus batas-batas etnis, golongan, dan strata sosial, sehingga memperoleh dukungan luas dari masyarakat.
Mengayuh Sepeda Dari Mangkoso
Di tengah perjuangan melawan penjajah, Gurutta Ambo Dalle menunjukkan dedikasi luar biasa.
Beliau dikenal karena perjalanan panjang dan melelahkan dengan sepeda dari Mangkoso ke Pare-Pare yang berjarak 30 km, total 70 km pulang pergi, untuk menjalankan tugas sebagai Kadhi di Pare-Pare.
Meskipun perjalanan ini menguras tenaga, Gurutta Ambo Dalle menjalankannya dengan penuh ikhlas, didorong oleh kecintaan dan pengabdian terhadap agama.
Setelah beberapa tahun memimpin MAI Mangkoso, Gurutta dihadapkan pada situasi bangsa yang tengah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Semangat perjuangan berkobar di seluruh penjuru tanah air.
Gurutta Ambo Dalle merasa terpanggil untuk memperbaiki sistem pendidikan yang nyaris terbengkalai.
Beliau sadar bahwa melawan kebodohan sama pentingnya dengan melawan penjajah, karena kebodohan adalah salah satu penyebab utama penjajahan yang berkepanjangan.
Kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 tidak serta merta membawa kedamaian.
Ancaman dari Belanda melalui agresi Sekutu/NICA memicu perlawanan dari rakyat.
Peristiwa tragis yang dikenal sebagai Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan terjadi ketika tentara NICA di bawah komando Kapten Westerling melakukan pembantaian terhadap rakyat yang dituduh sebagai ekstrimis.
Kegiatan MAI Mangkoso pun terkena dampak dari kekacauan tersebut.
Banyak santri yang ditugaskan mengajar di cabang-cabang MAI di berbagai daerah menjadi korban kekejaman Westerling.
Di antara mereka yang syahid adalah M. Saleh Bone dan Sofyan Toli-Toli, dua santri MAI Mangkoso yang gugur saat menjalankan tugas mengajar di Baruga Majene.
Membentuk Organisasi DDI
Meskipun situasi sangat sulit, semangat Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle untuk mengembangkan MAI tidak pernah surut.
Bersama ulama dari MAI Sengkang seperti AGH Daud Ismail dan AGH M. Abduh Pabbajah, Gurutta Ambo Dalle mengadakan pertemuan alim ulama se-Sulawesi Selatan di Watang Soppeng.
Pertemuan yang berlangsung dari 5 hingga 7 Februari 1947 ini menghasilkan kesepakatan untuk membentuk organisasi Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI), yang fokus pada pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.
Gurutta Ambo Dalle terpilih sebagai ketua, sementara AGH M. Abduh Pabbajah sebagai sekretaris.
Dengan perubahan nama MAI Mangkoso menjadi DDI dan Mangkoso sebagai pusat organisasi, DDI mengalami perkembangan pesat.
Tingginya gairah masyarakat untuk mengejar ketertinggalan pendidikan membuat pimpinan DDI kewalahan melayani permintaan untuk membuka cabang dan mengirimkan guru-guru.
Sebagai solusi, ketua umum DDI memutuskan untuk menugaskan siswa kelas tertinggi mengajar di madrasah cabang selama periode tertentu.
Langkah ini tidak hanya mengatasi kekurangan tenaga pengajar tanpa memerlukan biaya besar, tetapi juga memberikan pengalaman praktis kepada siswa dalam menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari.
Dengan inisiatif ini, DDI mampu memperluas jaringan pendidikan secara efektif, sekaligus membekali siswa dengan pengalaman berharga dalam pengabdian mereka kepada masyarakat.








