
Keberuntungan dalam Belajar
Pada suatu hari, AGH Muhammad As’ad, yang dikenal di kalangan masyarakat Bugis sebagai Anregurutta Puang Aji Sade, mengadakan ujian lisan kepada murid-muridnya, termasuk Ambo Dalle.
Jawaban Ambo Dalle ternyata dinilai paling tepat dan sahih, sehingga ia diangkat menjadi asisten.
Pada tahun 1935, Ambo Dalle berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan tinggal beberapa bulan di Mekkah untuk memperdalam ilmu agama dari para syeikh di sana.
Sejak diangkat sebagai asisten AGH Muhammad As’ad, Ambo Dalle memulai kariernya dalam dunia pendidikan dan secara intens menekuni bidang tersebut.
Pada waktu bersamaan, Arung Matoa Wajo dan Arung Lili menyarankan kepada Anregurutta H. Muhammad As’ad agar sistem pengajian sorogan (duduk bersila) ditingkatkan menjadi madrasah.
Saran ini diterima dengan baik, dan madrasah pun didirikan dengan bantuan dan fasilitas dari pemerintah kerajaan.
Pendidikan awal yang dibuka mencakup tingkat awaliyah (setingkat taman kanak-kanak), ibtidaiyah (SD), dan tsanawiyah (SMP), yang kemudian diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang.
Lambang MAI Sengkang dirancang oleh Ambo Dalle dengan persetujuan AGH As’ad dan ulama lainnya.
Ambo Dalle kemudian dipercaya memimpin lembaga tersebut, yang segera menarik perhatian masyarakat berkat sistem pendidikan modernnya.
Ketertarikan terhadap sistem pendidikan MAI Sengkang juga datang dari H.M. Yusuf Andi Dagong, Kepala Swapraja Soppeng Riaja yang berkedudukan di Mangkoso.
Ketika H.M. Yusuf Andi Dagong diangkat sebagai Arung Soppeng Riaja pada tahun 1932, ia mendirikan masjid di Mangkoso sebagai ibukota kerajaan.
Namun, masjid tersebut sepi dari aktivitas ibadah karena rendahnya pengetahuan agama di kalangan masyarakat.
Memimpin Madrasah
Untuk mengatasi masalah ini, para tokoh masyarakat dan pemuka agama memutuskan untuk membuka lembaga pendidikan (pesantren) dan mengirim utusan untuk meminta izin dari Anregurutta H.M. As’ad agar muridnya, Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle, memimpin lembaga pendidikan di Mangkoso.
Di Sulawesi Selatan, terdapat beberapa pusat pendidikan Islam yang telah lama melahirkan ulama, seperti Pulau Salemo di Pangkep, Campalagian di Polmas, dan Sengkang Wajo. Namun, MAI Sengkang menawarkan kelebihan dengan penerapan sistem pendidikan modern (madrasah/klasikal) sambil tetap mempertahankan pengajian halakah, yang menarik perhatian pemerintah Swapraja Soppeng Riaja.
Awalnya, permohonan ini ditolak karena Anregurutta H.M. As’ad khawatir akan kesulitan dalam mengontrol madrasah yang tersebar.
Namun, setelah negosiasi yang panjang, keputusan untuk menerima permohonan masyarakat Soppeng Riaja akhirnya diserahkan kepada Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle.
Hijrah Ke Mangkoso
Pada hari Rabu, 29 Syawal 1357 H atau 21 Desember 1938, Gurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle beserta keluarga dan beberapa santri dari Wajo hijrah ke Mangkoso dengan tujuan melanjutkan cita-cita dan pengabdian.
Pada hari itu juga, Gurutta memulai pengajian dengan sistem halakah karena calon santri sudah lama menunggu.
Momen ini dianggap bersejarah karena menjadi cikal bakal lahirnya DDI (Dewan Dakwah Islamiyah).
Sambutan dari pemerintah dan masyarakat setempat sangat besar, dengan disediakannya berbagai fasilitas seperti rumah untuk Gurutta dan keluarganya serta santri dari luar Mangkoso.
Setelah tiga minggu, Gurutta membuka madrasah dengan tingkatan tahdiriyah, ibtidaiyah, iddadiyah, dan tsanawiyah.
Fasilitas pendidikan dan biaya hidup ditanggung oleh Raja sebagai penguasa setempat.
Dalam mengelola pesantren dan madrasah, Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle dibantu oleh dua belas santri senior dari Sengkang.
Mereka adalah: Gurutta M. Amberi Said, Gurutta H. Harun Rasyid Sengkang, Gurutta Abd. Rasyid Lapasu, Gurutta Abd. Rasyid Ajakkang, Gurutta Burhanuddin, Gurutta M. Makki Barru, Gurutta H. Hannan Mandalle, Gurutta Muhammad Yattang Sengkang, Gurutta M. Qasim Pancana, Gurutta Ismail Kutai, Gurutta Abd. Kadir Balusu, dan Gurutta Muhammadiyah.
Beberapa waktu kemudian, bergabung juga Gurutta M. Akib Siangka, Gurutta Abd. Rahman Mattammeng, dan Gurutta M. Amin Nashir. Lembaga tersebut dinamakan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso, dan bukan cabang dari MAI Sengkang.
Berkat dukungan pemerintah dan masyarakat Mangkoso, MAI Mangkoso berkembang pesat.
Permintaan untuk membuka cabang di berbagai daerah datang dengan banyaknya.
Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle merespons permintaan tersebut dengan membuka cabang di berbagai lokasi, menjadikan MAI Mangkoso sebagai pusat pendidikan Islam yang semakin dikenal luas.








