
Kiprah dalam Perjuangan
Keteguhan Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle dalam setiap peristiwa dan pergolakan hidupnya tak pernah surut.
Terutama saat pemberontakan Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G-30 S/PKI) terjadi, Anregurutta yang kala itu berdomisili di Parepare tetap teguh pada prinsip dan keyakinannya.
Dengan penuh keyakinan, Anregurutta menasihati santrinya untuk tetap berpegang pada akidah Islam yang benar dan tidak terpengaruh oleh gejolak sosial yang sedang berlangsung.
Meskipun Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle tidak pernah secara langsung terlibat dalam pertempuran fisik melawan penjajah, rumahnya selalu menjadi tempat persinggahan bagi para pejuang yang mencari doa dan restu untuk keselamatan mereka.
Salah satu contoh adalah pada tahun 1946, ketika Lasykar Pemuda Pejuang Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) di bawah pimpinan Andi Mattalatta hendak melaksanakan ekspedisi ke Jawa.
Mereka datang kepada Anregurutta untuk memohon doa keselamatan dalam perjuangan mereka membela bangsa dan negara.
Begitu juga ketika mereka kembali dari Jawa dan bersiap menghadiri Konferensi Kelasykaran di Paccekke pada 20 Januari 1947, yang diadakan atas mandat Jenderal Sudirman.
Kebetulan, Mangkoso, tempat tinggal Anregurutta, berlokasi bersebelahan dengan Paccekke, tempat berlangsungnya konferensi tersebut.
Konferensi ini berperan penting dalam pembentukan Divisi Tentara Republik Indonesia Sulawesi Selatan/Tenggara, yang kemudian menjadi cikal bakal Kodam XIV Hasanuddin (sekarang Kodam VII Wirabuana).
Kiprah Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle dalam perjuangan menunjukkan dedikasi dan komitmen yang mendalam terhadap nilai-nilai perjuangan kemerdekaan dan keagamaan.
Walaupun tidak terjun langsung ke medan perang, perannya sebagai sumber doa dan inspirasi bagi para pejuang sangatlah berarti dalam perjalanan sejarah bangsa.








